Minggu, 23 Oktober 2016
KETIKA KAMU TIDAK MENGHABISKAN
MAKANANMU KAMU MERAMPOK ORANG MISKIN
Dalam Surat Gembala
yang dibacakan di gereja-gereja Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 4-5 Oktober 2016 dan bertepatan
dengan pesta Santo Fransiscus Asisi,
Gereja di Keuskupan Agung Semarang diingatkan akan pesan Sinode para Uskup di tahun 2014
dan 2015 di Roma, yang membahas tentang keluarga. Dan Sidang Agung Gereja katolik Indonesia
( SAGKI) yang juga memberi perhatian pada keluarga:”Keluarga-keluarga
Katolik : Sukacita Injil, panggilan dan Perutusan keluarga dan dalam Gereja dan
masyarakat Indonesia yang majemuk.” Keluarga sebagai sel pertama yang sangat
penting dalam masyarakat (familiaris con sortio, 42) dan Sekolah-sekolah
kemanusiaan (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup
bersama orang lain serta menuntun
nilai-nilai luhur dan warisan Umum.
Keluarga, demikian Surat Gembala
itu, dimana doa didengarkan, permumpaan
dengan Allah yang membawa suka cita,
dialami, iman ditumbuhkan dan keutamaan ditanamkan.
Dalam keluarga, demikian Surat Gembala, Kehidupan
Rohani dan iman seseorang dimatangkan, kehidupan sosial anggota keluarga semakin dimatangkan
seiring dengan perkembangan hidup
beriman. Dan salah satu nilai Rohani atau kebiasaan yang didapat seseorang
dalam keluarga adalah hidup doa.
Surat Gembala itu juga mengajak gereja untuk
merenungkan bacaan hari itu ( Luk 18
:1-8) yaitu agar kita tak jemu-jemu berdoa dan bersatu dengan Allah dan
merasakan kerahimanNya. Dari relasi yang
mendalam itulah akan berbuah pada bagi pelayanan kepada sesama dan suburlah
solidaritas kemanusiaan.
Salah satu yang menjadi solidaritas kemanusiaan,
Surat Gembala juga menyebut solidaritas pangan yang menjadi ciri peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang kita peringati pada 16 Oktober. Dan HPS
tahun 2016 ini mengangkat tema “Penguatan pangan berbasi keluarga.´keluarga
dengan demikian tidak hanya menggembleng
soal iman, , namun keluarga juga menjadi tempat untuk membangunkesadaran
tentang kecukupan pangan keluarga yang sehat dan lestari. Dengan kecukupan dan
ketersediaan pangan, keluarga dapat mengmbangkan sikap dan tindakan nyata
solidaritas melalui berbagi pangan bagi mereka yang berkekurangan. Kita haru
berani berkata “cukup” terhadap segala bentuk keserakahan. Kita harus berani
mewujutkan sabda Yesus:”Kamu yang harus
memberi mereka makan. “
Bapa suci Fransiskus dengan tegas mengatakan:”
ketika kamu tidak menghabiskan makanannmu, membunag-buang makanan, itu sama dengan merampok orang miskin
(Homili hari Lingkungan Hidup sedunia PBB
5 Juni 2013).
Jadi, menurut surat Gembala Tersebut, ada orang
yang kekurangan, tetapi ada juga yang berkelimpahan, jadi ada budaya menumpuk
pangan di tengah kelaparan. Dalam
Rencana Induk keuskupan Agung Semarang 2015-2035 kita diajak untuk menjadi pelopor peradaban kasih agar terwujut masyarakat
Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Salah satu ukuran
kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan makanan.
Surat Gembala itu
juga mengajak agar keluarga-
keluarga katolik di keuskupan Agung Semarang
ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah
( Pedoman pastoral keluarga KWWI 2010,
no 6). Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga
keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan
kasih Kristiani.
Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah
yang murah hati, berbelas kasih melallui pelayanan, terutama mereka yang lemah
dan paling rapuh, terluka dan menderita. Kerahiman Allah tidak bertentangan dengan keadilan dan kebenaran,
justru bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8).
Akhirnya Surat
Gembala memberi penegasan bahwa dalam
bulan Oktober selain kita memperingati HPS,
orang katolik juga berdoa Rosario, sekaligus bulan ini adalah bulan
misi. Wujut misi/evangelisasi :”Semoga dalam semua komunitas kristiani, hari
Misi sedunia kita memperbarui kegimbiraan Injil dan tanggung jawab mereka untuk
mewartakannya,
Selasa, 11 Oktober 2016
REFORMASI DARI DALAM (
GEREJA KATOLIK )
Kita sebagai orang
Katolik pernah mendengar istilah “ Ecclesia semper reformanda ‘ yang
artinya gereja yang selalu memperbaiki
diri. Gereja adalah organ yang dinamis, tetapi dalam kedinamisan itu gereja
tetap mau dipimpin oleh Roh Kudus. Benar
bahwa gereja di masa lalu pernah mengalami masa kelam, tapi bukan berarti harus
ada reformasi total yang oleh sementara yang tidak suka dengan gereja katolik, menganggap Gereja katolik adalah entitias kuno yang perlu dirubuhkan saja digantikan oleh gereja baru atau gereja yang
telah direformasi. Bahkan Di luar Gereja Katolik setiap tanggal 31 Oktober diperingati
sebagai hari reformasi gereja karena pada tanggal itulah Martin Luther
yang dianggap pendiri gereja bukan
Katholik mempublikasikan 95 tesis untuk mengkritik kondisi gereja di zaman
itu. Pertanyaannya apakah kalau kita ingin memperbaiki gereja harus
menggantikan dengan gereja yang baru.
Tentu saja sejarah kelam gereja Katolik tidak bisa kita
ingkari begitu saja. Reformasi hanyalah salah satu mimpi buruk itu. Saya mengajak agar kita merenung sejarah kelam
itu, bukan untuk diulangi tapi untuk
dapat kita menatap ke masa depan. Satu lagi yang tentu kita tidak lupa adalah
adanya perang salib di abad ke 11 .
Istilah perang salib sebetulnya baru ramai di abad ke 18, sulit dimengerti
mengapa istilah perang salib menjadi istilah yang populer. Saya mengajak pembaca untuk melihat ulang makna dan latar belakang dari
perang salib itul
Persoalan di abad 11
tanah Palestina dikuasai
oleh pasukan Turki Seljuk, padahal tanah suci
Yerusalem berabad-abad para peziarah
sudah terbisa untuk melakukan perjalan ke Palestina. Bisa dibayangkan pada saat
itu belum ada pesawat terbang, kapal laut pun masih sangat sederhana. Jadi
orang Eropa yang mau melakukan Ziarah ke tanah suci pasti berombongan tentu
saja ini mengkawatirkan kelompok Islam
yang sejak tahun 700 melakukan ekspansi
dan menduduki daerah yang dahulu dikenal
sebagai daerah Kristen. Orang Turki
Seljuk tentu tidak senang dan tidak
akan tinggal diam menyaksikan rombongan para peziarah, yan kebanyakan dari
Eropal
Sejatinya peziarahan itu tidak hanya bisa ditempuh lewat laut
saja, lewat darat pun bisa, tapi tantangan jauh lebih berat. Tetapi benar peziarahan lewat darat jauh lebih
lama karena di abad ke 4 orang sudah menggunakan jalan darat untuk melakukan
peziarahan. Tetapi perjalan itu akan
memakan waktu berbulan-bulan bahkan bisa beberapa tahun.
Karena situasi seperti itulah, kata Romo Dr Francis Poerwanto , Scj z untuk memaknai ulang akan Ziarah dengan dasar secara teologis, yaitu
ziaraah ke tanah suci dapat mengurangi dosa dan bahkan menghapus dosa kemudian
muncul pandangan bahwa yang paling
banyak dosanya adalah para pangeran dan
bangsawan karena mereka pernah membunuh,
korupsi dll. Maka wajarlah para pangeran
dan bangsawan berbondong-bondong kesana.
Kita bisa membayangkan kalau seorng
pangeran membawa limapuluh orang
prajurit, maka kalau ada 5 atau enam pangeran maka itu akan menjadi rombongan
yang besar, inilah yang membuat penguasa Takut, sehingga kemudaian
penguasa Turki Seljuk melarang
peziarahan ke tanah suci.
Larangan itu menimbulkan beberapa reaksi. Pada tahun 1064
uskup Gunther bamberg menyikapi diserangnya
7000 peziarah dalam expiditio
inter in terram sacrum ( perjalanan ke tanah suci ) Sn Nru awvFu
Nnerue maka ia akan mendapat indugensi
penuh.
Pada zaman Urbanus II
sengketa tanah suci itu beranjut . pada tanggal 27 November 1095 paa
akhir sinode clermont dia berpidato
untu memaklumkan perang suci, sacrum bellum
untuk para peziarah di tanah suci. Maka terjadilah penindasan di gereja wilayah
Timur. Pada saat itu Turki menghancurkan tempat suci dan Antiochia diduduki. Kekacauan bertambah karena tempat ziarah diresahkan dengan perampokan, pencemaran dan penghinaan. Oleh karena itu Urbanus II mengajak segenap orang Kristen membela hak-hak gereja. Ia menjanjikan indulgensi kepada
semua orang kristiani (raja, bangsawan ,
prajurit dan rakyat ) aga rela pergi ke Yerusalem dengan dijanjikan
pengampunan atas dosa.
Mgr Adhema Le Puy punya cara tersendiri dalam menggembleng orang-orang yang mau
dikirim ke tanah suci ia mengambil salib, kain putih dipotong-potong-potong dan diletakkan di pundak.
Urbanus juga menulis surat kepada orang –ora falmish, bologna
dan Biara Vallombrosa dan ada upaya untuk membantu Gereja Timur.
Beberapa gelombang
pasukan dikirim ke tanah suci.
Gelombang pertama upaya pembebasan
itu gagal karena yang dikirim kebanyak petani dan kurang disiplin.
Kemudian pada tahun 1099 dikirimlah 20 sampai 30 ribu ksatira Jerman ke
palestina dan Jerusalem berhasil direbut. Tetapi kendati begitu ada banjir
darah, pembunuhan, perampokan tetapi juga ada
penitensi dan karya sosial. Pada pertempuran berikutnya antara tahun
1147-1149 keberhasilan kembali diraih. Tetapi pada 1187 Yerusalem berhasil
direbut kembali oleh pihak Islam. Pada perang ke 3 antara tahun 1189 – 1192
kaisar Barbarrosa tewas dan Turki berhasil dikalahkan. Kemudian terjadi
gencatan senjata antara Sulatan Salahudin dengan Rikhard Hatisinga.
Belajar dari peperangan, maka para peziarah dipersenjatai.
Juga terjadi perluasan kekaisaran Barat. Kemudian didirikanlah Hierarki Gereja latin di bawah Yerusalem.
Antiochia, Iskandaria yang mengakibatkan kekacauan. Maka ada upaya untuk
membantu gereja Timur.
Pada perang membebaskan Palestina itu, di dalam gereja
sendiri mengalami degradasi dan gereja tak menyadari ada pimpinan Roh Kudus di
dalam gereja. Gereja pada masa itu menerapkan apa yang disebut sebagai teologi
pahala dan juga berkembang teologi nominalis dimana semua pelayuanan dihitung
atau dikalkulasi dalam bentuk uang. Hal-hal inilah yang menimbulkan gerakan radikal di dalam
gereja. Semua terjadi karena ada skandal
dalam gereja yang mengagungkan para gembala ( sebetulnya hal ini tidak salah )
baik dalam hal pengajaran maupun sikapnya. Akibatnya institusi gereja cenderung menjadi kaku dan kurang memperhatikan dinamika roh Kudus
dan Rahmat.
Institusi gereja dianggap telah mengaburkan rahmat keselamtan
Allah yang Cuma-Cuma dan iman yang murni yang diberikan dalam Kitab Suci. Gereja Kristus yang benar tidak
dapat diidentifikasikan dengan institusi manusia yang tidak sempurna.
Yang paling keras
menyuarakan pembaruan dalam gereja adalah Martin Luther, dan sebetulnya
Luther tak pernah mendirikan gereja tapi murid-muridnya. Menurut Luther gereja
merupakan keseluruhan orang-orang beriman: mereka menghidupi iman mereka dalam
rahmat keselamatan Allah yang diberikan oleh Yesus Kristus dan disampaikan
oleh Roh Kudus, hal itu ditandai
eklesiologi yang ditandai dengan sifat apologetik, Yuridis dan spekulatif.
Sayangnya Gerakan Luther yang sebetulnya tidak ingin membentuk gereja di luar
Gereja yang Katolik ditanggapi dengan
pemisahan yang tegas antara Katholik dan para penentangnya yang mendorong para
pengikut Luther membentuk gereja baru yang kita sebut protestanisme.
Berkembangnya
Protestanisme dan praktek gereja yang tidak mau dituntun oleh
Roh Kudus menantang para Paus di kemudian hari untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja. Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.
Roh Kudus menantang para Paus di kemudian hari untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja. Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.
Kemudian muncullah Paus Bellarminus. Ia dengan tegas
menyatakan bahwa hanya ada 1 gereja dan
bukan dua. Satu-satunya gereja yang benar adalah persekutuan orang-orang yang
dipersatukan oleh pengakuan iman kristiani yang sama dalam
communio sakramen-sakramen, di bawah penggembalaan para imam yang syah dan
kususnya di bawah satu-satunya wakil Kristus di muka bumi
ini yakni Paus.
Menurut Romo Francis, Tekanan pada keanggotaan gereja yang
kelihatan berakibat kepada pembedaan dalam gereja antara”tubuhny” yang kelihatan, yang berisi
“notes ecclesial: satu, Kudus, katolik dan Apostolik. Yang dapat menjadi ukuran gereja yang sebenarnya dan rahmat yang
menjiwai gereja. Bellarminus memberi spesifikasi apa yang dimaksud keanggotaan gereja ciri-ciri gereja ,
infabilitas gereja (gereja yang karena tuntunan Roh Kudus tak dapat sesat),
hirarki ( uskup dan posisi primat Paus
).
Selain Bellarminus, ada satu lagi pembaharu gereja di abad
lalu yakni seorang teolog dari perancis
yakni Yves Congar.
Menurut Congar,
refleksi tentan Allah adalah Allah yang hadir berbentuk yang dikisahkan dalam
Injil. Jadi Allah yang menyejarah adalah Allah sebagaimana dikisahkan dalam
Injil dan peran pokok dari Kristus dalam
sejarah keselamatan. Gereja sebagai totalitas organisme yang hidup, dinamis dan aktif.
Gereja yang demikian akan menyadari kehadiran Roh Kudus karena Roh Kudus adalah Jiwa Gereja, dari
Dialah mengalir seluruh hidup. Gereja adalah hasil yang tampak dari kekuatan
batiniah, tubuh dari Roh yang menciptakan dirinya sendiri. Individu sebagai
bagaian dari keseluruhan organisme, bedasarkan Allah tidak akan mengenal Allah
kecuali dalam keseluruhan.
Menurut Congar, Roha adalah motor batin dari perekmbangan
perluasannya. Dengan demikian Roh Kudus menjadi karunia. Kalau sumbernya Roh
Kudus dalam kita berkomunitas pasti ukurannya membangun komunitas atau tidak,
kalau tujuannya baik, tapi menimbulkan
perpecahan maka itu bukan roh Kudus, karena kalau karnuia itu dari Roh
Kudus pasti akan membangun Komunitas bukan sebaliknya.
Sabtu, 08 Oktober 2016
PESAN PAUS AGAR KIT MENJADI MURID YANG MISIONER
Apakah
yang dimaksudkan oleh Paus
sebagai murid yang misioner ?> yaitu murid yang selalu berelasi dengan Allah
dan kemudian mewartakan dan jangan dibalik, orang yang tak pernah berelasi
dengan Allah tak mungkin bisa mewartakan Allah.
Pergi untuk mewartakan ke ujung dunia adalah Amanat Yesus Kristus kepada para rasul untuk pergi
ke ujung dunia (kis.1:8)
Ada beberapa dokumen yang menghendaki agar kita
menjadi murid-murid yang misioner
1. Dalam
keutamaan sakramen baptis yang diterima, setiap anggota umat allah ditobatkan
menjadi muri-murid yang berjiwa misionaris ( lih. Mat 28:19). Setiap orang yang
telah dibabptis, apapun perannya dalam gereja dan sedalam apapun derajat
imannya, adalah seorang agen pewarta kabar Gembira (EG.120).
2. Yang
hendak saya anjurkan ( Paus Fransiskus, pen) dengan sangat adalah sesuatu yang
semakin sejalan dengan garis
pertimbangan Injili. Yang dimaksdukan adalah cara seorang murid yang misioner,
suatu pendekatan yang menggali sumbernya dari terang dan kekuatan Roh Kudus,
serta senantiasa berada dalam pemeliharaan-Nya (EG 50).
3. Gereja
pada dirinya sendiri adalah seorang murid yang misioner (EG 40 )
4.
Murid misoner menyuadari bahwa pengertiannya
mengenai Injil serta kemampuanya untuk mempertimbangkan jalan jalan Roh Kudus juga harus tumbuh , dan dengan
demikian ia melakukan kebaikan
sebisanya, bahkan jika dalam prosesnya, sepatunya terkena lumpur jalanan
(EG.45).
Murid yang misioner harus keluar dari zona
nyaman, keluar untuk menjemput tantangan.
Di Alkitab, kisah gerak keluar
seperti yang diinginkan Paus kita jumapai dalam panggilan Abraham (Kej
12:1-3), Musa ( Kel. 3:10) sampai dengan nabi Yeremias ( Yer 1:7). Dalam kisah
Itu Allah memerintahkan untuk meninggal zona nyaman untuk menempuh zona baru
yang penuh tantangan.
Dasar panggilan Yesus kepada para murdi tak lain karena hakekat, sang Sabda yang adalah juga utusan Allah “ marilah kita pergi ke kota-kota yang
berdekatan supaya Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku
telah datang (mrk 1:38).
Menurut paus hakekat Gereja sebagai murid
misoner tak berhenti dengan naiknya Yesus ke surga. Sebelumnya Yesus telah menjanjikan bahwa akan ada penolong yang akan membantu para murid untuk melaksanakan tugas pewartaan mereka ( Yoh
16:7) janji itu menjadi nyata pada saat
Roh Kudus atas diri para Rasul dalam peristiwa Pentakosta ( Kis 2:1-13)
Senin, 03 Oktober 2016
GERAKAN PEMBAHARUAN DARI DALAM GEREJA KATOLIK
Gereja Katolik pernah mengalami masa kelam
dalam sejarah, ketika gereja tergoda untuk
berkuasa sebagaimana Kaisar/raja, Ketika para Paus begitu mudah digantikan oleh Kaisar/Raja atau
penguasa setempat. Akibatnya gereja
menjadi tidak otonom lagi, kaisar atau
bangsawan begitu mudah untuk mengangkat imam, bahkan kardinal sesuai keinginan
raja yang bersangkutan, yang tidak jarang terjadi adalah kerabat dari raja yang
bersangkutan. Itu terjadi di abad IX sampai sekitar abad ke XI. Situasi seperti
ini tentu merupakan situasi yang tidak nyaman bagi gereja. Untunglah muncul beberapa pembaharu
dari dalam gereja. Salah satu pembaharu itu adalah Hildebrand Soana (Gregorius
VII). Ia dilahirkan tahun 1020 di Toskania, Italia Tengah. Ia pernah belajar di
Roma pada tahun 1046 ia menemani paus Gregorius VI di Cluny. Pada tahun
1049 ia dibawa ke Roma oleh paus Leo IX.
Dan ia diangkat paus pada
Pembaharuan yang dibawanya tidak berdiri
sendiri. Ketika gereja tergoda pada kekuasaan ada biara-biara yang tak mau
ikut-ikutan dan memilih pembaharuan dari
dalam. Pada tahun 909 ada biara dengan
regula Benedectus langsung di bawah kepausan
Roma. Pembaharuan biara yang
tunduk kepada Roma dan membangun banyak biara di Eropa.
Di dalam biara Doa, Lection Divina, Liturgi,
askese dan ketaatan kepada Paus. Ada
otonomi gereja dari Kaisar, tetapi Gereja Timur menolak karena bagi gereja
Timur gereja dan neara adalah satu. Hal
terakhir ini pula yang menjadi salah
satu pemicu berpisahnya gereja Timur dari gereja Katholik.
Salah satu pembaharuan yang dilakukan
Gregorius VII adalah melawan simoni yakni adanya jabatan gereja karena
suap, artinya Kaisar tertentu mengangkat
Paus atau Kardinal atau
Uskup dengan imbalan perlindungan,
sehingga muncullah Paus tandingan, atau penguasa yang seenaknya mengganti
seorang uskup, salah satu akibatnya
hanya dalam waktu 24 tahun, gereja memiliki 5 orang Paus. Gregorius VII
juga menganjurkan selibat imam tujuan
selibat antara lain apa yang disebut
investitura, dimana gereja dan biara dikuasai oleh bangsawan.
Sebetulnya keadaan sosial zaman itu sungguh
memprihatinkan karna sampai zaman itu belum ada lembaga pendidikan kecuali yang
diselenggarakan keuskupan, itupun hanya diperuntukkan untuk kelompok bangsawan.
Pembaharuan yang dibawa Paus Gregorius VII
terus berlanjut sampai abad ke XII. Pembaharuan di abad XII antara lain :
1. Menyetujui
Kaisar boleh punya hak nominasi, tapi tetap harus ikut kanonik.
2.
Mengharuskan selibat Imam.
3.
Mengacu hukum gereja kuno ( dictatus papa)
4.
Melawan Korupsi – menentang Investitura awam (
bangsawan berhak untuk nominasi pimpinan
biara/uskup )
5.
Mengambil kembali kekuasaan gereja yang diambil
bangsawan
6.
Paus berhak kembali mengundang konsili.
Nati akan terbukti bahwa pembaharuan itu tak selamanya mulus. Tapi itu menunjukkan bahwa gereja bukan institusi yang statis tapi dinamis.
Minggu, 02 Oktober 2016
SEJARAH KELAM GEREJA DAN PEMBAHARUAN DALAM GEREJA
Akhir – akhir ini istilah radikal dan
radiklisme sering dicampuradukkan. Padahal radikal dan radikalisme adalah dua hal yang berbeda. Sesuatu ang radikal
menurut akar katanya adalah radiks,
artinya berpikir atas mengikuti sesuatu sampai ke akar
akarnya, jadi sampai pada hal yang prinsip dan sangat mendasar. Seorang Kristen
radikal akan bersifat kritis, rasional terbuka dan kontekstual.
Radikalisme harus dibedakan dengan pemahaman tertentu, yang biasanya merupakan
kelompok tertutup dan tidak terbuka pada pihak lain. Makna radikal di sini
bukanlah paham yang seperti itu tetapi merupakan bidang berpikir dan bertindak. Sedangkan pemahaman
tertentu yang saat ini kita kenal adalah sistem tertutup dan merupakan sisi
negatif dan sikap radikal dan bersikap intoleran, fanatisme yang berlebihan,
bersifat eksklusif dan radikalisme. sehingga kita samapai pada makna bahwa radikalisme
adalah gerakan radikal, revolusioner dan merusak.
Dikaitkan dengan iman kristiani, sikap
radikal ada positif negatifnya. Radikal yang
positi akan mengarahkan iman kepada sesuatu yang kontekstual, seorang katolik
yang radikal akan beriman sesuai konteks, artinya ia beriman katolik dalam
budaya tertentu dan di tempat atau komunitas tertentu ( dan dia bukan orang
Katolik di surga bukan ? ). Konteks itulah
turut memberi warna keberimannya orang
katolik di Amerika misalnya dengan orang katolik di Indonesia, orang katolik
di Flores dengan orang Katolik di
Muntilan walau sama-sama dalam wadah
Gereja Katolik yang satu, tetapi cara mereka mempraktekkan kekatolikan tentu beda, begitu juga orang
Katolik di abad 21 dengan Orang Katolik
di abad 15 tentu ada warna tersendiri.
Heretik dan Skisma
Dalam kaca mata negatif radikalisme dalam
gereja melahirkan dua gerakan yaitu
Heretik dan Skisma. Heretik menurut Romo Francis Poerwanto SCY adalah sebentuk kesomobong intelektual. Seorang yang belajar Kitab suci menganggap diri paling benar dan menolak yang lain. Heretik lebih mungkin menjangkiti orang
terpelajar ketimbang awam. Dalam sejarah gereja ada nama Pellagius seorang teolog atau misalnya Arius yang menolak keilahian Yesus,
mereka merasa lebih benar daripada magistarium.
Hal negatif kedua adalah skisma. Skisma
berangkat dari ketidakcocokan mereka yang menganggap bahwa kelompoknya lah yang
paling benar. Mereka benar-benar punya
komitmen diri dan tidak mau bergabung. Di dalam gereja katolik kelompok
sempalan itu tidak banyak, yang tidak
banyak itu misalnya kelompok Tiberias. Contoh lain dari pandangan yang menganggap paling benar ada pada Agnes,
ketika kelompok ini memandang bahwa
kelompok mereka paling benar karena penampakan bunda Maria kepada ibu Agnes.
Latar belakang skisma dalam gereja
Pernah suatu kali gereja punya kekuasaan yang
beti besar dan menjadi rival kekuasaan negara atau Kaisar. Maka pernah ada masanya gereja dikenal sebagai
gereja imperium pada sekitar tahun 800 dan abad-abad berikutnya, ketika Charles
Yang Agung naik tahta di kerajaan France. Kekuasaannya sangat luas bahkan menjangkau
Italia. Supaya mendapatkan pengakuan ia
dinobatkan oleh Paus, dan Paus memberikan mahkota kepada Kaisar tetapi pada saat yang sama Paus
tunduk kepada Kaisar. Disini munculah
cikal bakal istilah gereja imperium.
Tetapi yang terjadi bukannya gereja menjadi
independen terhadap negara tetapi justru
gereja ajur ajer dengan kekaisaran. Kalau
kekaisaran punya pangeran dan bangsawan maka gereja pun mempunya Kardinal dan para Uskup. Pengaruh gereja
imperium untuk zaman ini, menurut Romo Francis, adalah gelar pangeran untuk para uskup, Mgr. Yang jelas pada saat itu ada pembagian
kekuasaan pada saat itu antara kekaisaran dan gereja. Kaisar memengang kekuasaan politik, sementara Paus
memiliki pengaru di bidang rohani. Ada kesatuan gereja dan Kaisar, sehingga
muncullah budaya Kristen.
Budaya
Kristen semakin tampak di Eropa pada tahun 814, atau ketika pada masa akhir kekuasaan Karel yang agung. Pada 9 itulah di Eropa banyak dibangun
katedral- katedral megah. Ekaristi
dirayakan dengan prosesi besar. Liturgi dibuat megah dengan bahasa latin. Juga
dibangunlah gereja-gereja besar, yang diikuti oleh munculnya biara-biara besar.
Pada masa ini tak dapat dipungkiri memunculkan
zaman gereja yang radikal. Zaman ini
membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya banyak gereja dibangun
begitu megah, perayaan liturgi dirayakan begitu agung, budaya Eropa lebih
berwajah Kristiani. Negatifnya generasi berikutnya dari para kaisar tidak
begitu akrab dengan pejabat kekaisaran
yang berakibat perbedaan sengit kepentingan antara gereja dan kekaisaran. Akibat berikutnya yang cukup memprihatinkan
adalah tahta Roma diperebutkan antar
bangsawan. Bayangkan saja antara tahun
920-1046 atau selama 126 tahun gereja katolik memiliki 26 paus padahal antara tahun 1838-1958 kita hanya
memiliki 7 paus, yaitu terjadi
pembaharuan-pembaharuan
gereja Katolik dengan melakukan
perbaikan terhadap praktek-praktek negatif
yang dialami gereja.
Contoh praktek negatif dalam gereja adalah pencampuradukan gereja dan negara misalnya terjadi pada 1045 gereja
Katholik memiliki 3 orang Paus. Yaitu
Benedictus IX (1032-1055) yang kemudian diturunkan, kemudian Silvester III ( 10 Januari sampai 10 Maret 1045, kemudian Gregorius VI (1045-1046).
Yang terjadi kemudian Kaisar menentukan
uskup-uskup. Pada saati itu uskup
menguasai spiritual tanah. Pada saat itu uskup menguasai tanah yang luas tetapi
menjadi ironi karena para uskup yang
juga menguasai tanah itu dikuasai raja.
Akibatnya uskup kehilangan
otonominya . Situasi gereja yang demikian
ini yang kemudian memunculkan pembaharuan dalam gereja, salah satu pembaharu dalam gereja
adalah Hildebrand Soana atau Gregorius VII.
Langganan:
Postingan (Atom)