Minggu, 23 Oktober 2016

KETIKA KAMU TIDAK MENGHABISKAN MAKANANMU KAMU MERAMPOK ORANG MISKIN
Dalam  Surat Gembala   yang dibacakan di gereja-gereja Keuskupan Agung Semarang  pada tanggal 4-5 Oktober 2016 dan bertepatan dengan  pesta Santo Fransiscus Asisi, Gereja  di Keuskupan Agung  Semarang diingatkan  akan pesan Sinode para Uskup di tahun 2014 dan 2015 di Roma, yang membahas tentang keluarga.  Dan Sidang Agung Gereja katolik Indonesia  

          ( SAGKI)  yang juga memberi perhatian pada keluarga:”Keluarga-keluarga Katolik :  Sukacita Injil, panggilan  dan Perutusan keluarga dan dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk.” Keluarga sebagai sel pertama yang sangat penting dalam masyarakat (familiaris con sortio, 42) dan Sekolah-sekolah kemanusiaan (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang  belajar hidup  bersama orang lain serta  menuntun nilai-nilai luhur  dan warisan Umum. Keluarga, demikian  Surat Gembala itu,  dimana doa didengarkan, permumpaan dengan Allah  yang membawa suka cita, dialami, iman ditumbuhkan dan keutamaan ditanamkan.

Dalam keluarga, demikian Surat Gembala, Kehidupan Rohani dan iman seseorang dimatangkan, kehidupan sosial  anggota keluarga semakin dimatangkan seiring  dengan perkembangan hidup beriman. Dan salah satu nilai Rohani atau kebiasaan yang didapat seseorang dalam keluarga adalah hidup doa.

Surat Gembala itu juga mengajak gereja untuk merenungkan bacaan hari  itu ( Luk 18 :1-8) yaitu agar kita tak jemu-jemu berdoa dan bersatu dengan Allah dan merasakan kerahimanNya. Dari relasi  yang mendalam itulah akan berbuah pada bagi pelayanan kepada sesama dan suburlah solidaritas kemanusiaan.

Salah satu yang menjadi solidaritas kemanusiaan, Surat Gembala juga menyebut solidaritas pangan yang menjadi ciri  peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  yang kita peringati pada 16 Oktober. Dan HPS tahun 2016 ini mengangkat tema “Penguatan pangan berbasi keluarga.´keluarga dengan demikian tidak hanya  menggembleng soal iman, , namun keluarga juga menjadi tempat untuk membangunkesadaran tentang kecukupan pangan keluarga yang sehat dan lestari. Dengan kecukupan dan ketersediaan pangan, keluarga dapat mengmbangkan sikap dan tindakan nyata solidaritas melalui berbagi pangan bagi mereka yang berkekurangan. Kita haru berani berkata “cukup” terhadap segala bentuk keserakahan. Kita harus berani mewujutkan sabda  Yesus:”Kamu yang harus memberi mereka makan. “

Bapa suci Fransiskus dengan tegas mengatakan:” ketika kamu tidak menghabiskan makanannmu, membunag-buang  makanan, itu sama dengan merampok orang miskin (Homili hari Lingkungan Hidup sedunia PBB  5 Juni 2013).
Jadi, menurut surat Gembala Tersebut, ada orang yang kekurangan, tetapi ada juga yang berkelimpahan, jadi ada budaya menumpuk pangan  di tengah kelaparan. Dalam Rencana Induk  keuskupan Agung  Semarang 2015-2035 kita diajak  untuk menjadi pelopor  peradaban kasih agar terwujut masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Salah satu ukuran kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan makanan.

Surat Gembala itu  juga mengajak  agar keluarga- keluarga katolik di keuskupan Agung Semarang  ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah ( Pedoman pastoral  keluarga KWWI 2010, no 6). Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga  keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan kasih Kristiani.

Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati, berbelas kasih melallui pelayanan, terutama mereka yang lemah dan paling rapuh, terluka dan menderita. Kerahiman Allah  tidak bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, justru bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8).


Akhirnya Surat  Gembala memberi penegasan  bahwa dalam bulan Oktober selain kita memperingati HPS,  orang katolik juga berdoa Rosario, sekaligus bulan ini adalah bulan misi. Wujut misi/evangelisasi :”Semoga dalam semua komunitas kristiani, hari Misi sedunia kita memperbarui kegimbiraan Injil dan tanggung jawab mereka untuk mewartakannya,

Selasa, 11 Oktober 2016

REFORMASI DARI DALAM  ( GEREJA KATOLIK )

Kita sebagai orang  Katolik pernah mendengar istilah “ Ecclesia semper reformanda ‘ yang artinya gereja yang  selalu memperbaiki diri.  Gereja adalah organ yang  dinamis, tetapi dalam kedinamisan itu gereja tetap mau dipimpin oleh  Roh Kudus. Benar bahwa gereja di masa lalu pernah mengalami masa kelam, tapi bukan berarti harus ada reformasi total yang oleh sementara yang tidak suka dengan gereja katolik, menganggap Gereja katolik adalah entitias kuno yang perlu dirubuhkan saja digantikan oleh gereja baru atau gereja yang telah direformasi.  Bahkan Di luar Gereja  Katolik setiap tanggal 31 Oktober diperingati sebagai hari reformasi gereja karena pada tanggal itulah Martin Luther yang  dianggap pendiri gereja bukan Katholik mempublikasikan 95 tesis untuk mengkritik kondisi gereja di zaman itu.  Pertanyaannya apakah  kalau kita ingin memperbaiki gereja harus menggantikan dengan gereja yang baru.

Tentu saja sejarah kelam gereja Katolik tidak bisa kita ingkari begitu saja. Reformasi hanyalah salah satu mimpi buruk itu.  Saya mengajak agar kita merenung sejarah kelam itu, bukan untuk diulangi  tapi untuk dapat kita menatap ke masa depan. Satu lagi yang tentu kita tidak lupa adalah adanya perang salib  di abad ke 11 . Istilah perang salib sebetulnya baru ramai di abad ke 18, sulit dimengerti mengapa istilah perang salib menjadi istilah yang populer.  Saya mengajak pembaca untuk  melihat ulang makna dan latar belakang dari perang salib itul

Persoalan di abad 11  tanah  Palestina dikuasai oleh  pasukan  Turki Seljuk, padahal tanah suci Yerusalem  berabad-abad para peziarah sudah terbisa untuk melakukan perjalan ke Palestina. Bisa dibayangkan pada saat itu belum ada pesawat terbang, kapal laut pun masih sangat sederhana. Jadi orang Eropa yang mau melakukan Ziarah ke tanah suci pasti berombongan tentu saja ini mengkawatirkan  kelompok Islam yang  sejak tahun 700 melakukan ekspansi dan menduduki daerah yang  dahulu dikenal sebagai daerah Kristen.  Orang Turki Seljuk tentu tidak senang   dan tidak akan tinggal diam menyaksikan rombongan para peziarah, yan kebanyakan dari Eropal

Sejatinya peziarahan itu tidak hanya bisa ditempuh lewat laut saja, lewat darat pun bisa, tapi tantangan jauh lebih berat.  Tetapi benar peziarahan lewat darat jauh lebih lama karena di abad ke 4 orang sudah menggunakan jalan darat untuk melakukan peziarahan.  Tetapi perjalan itu akan memakan waktu berbulan-bulan bahkan bisa beberapa tahun.

Karena situasi seperti itulah,  kata Romo Dr Francis Poerwanto , Scj z untuk memaknai ulang akan Ziarah dengan dasar secara teologis, yaitu ziaraah  ke tanah suci  dapat mengurangi  dosa dan bahkan menghapus dosa kemudian muncul pandangan bahwa  yang paling banyak dosanya adalah  para pangeran dan bangsawan karena  mereka pernah membunuh, korupsi dll.  Maka wajarlah para pangeran dan bangsawan berbondong-bondong  kesana. Kita bisa membayangkan  kalau seorng pangeran membawa  limapuluh orang prajurit, maka kalau ada 5 atau enam pangeran maka itu akan menjadi rombongan yang besar, inilah yang membuat penguasa Takut, sehingga kemudaian penguasa   Turki Seljuk  melarang  peziarahan ke tanah suci.

Larangan itu menimbulkan beberapa reaksi. Pada tahun 1064 uskup Gunther bamberg   menyikapi  diserangnya  7000 peziarah dalam expiditio  inter in terram sacrum ( perjalanan ke tanah suci ) Sn Nru awvFu Nnerue  maka ia akan mendapat indugensi penuh.

Pada zaman Urbanus II  sengketa tanah suci itu beranjut . pada tanggal 27 November 1095 paa akhir sinode clermont   dia berpidato untu  memaklumkan perang suci, sacrum bellum untuk para peziarah di tanah suci. Maka terjadilah penindasan di gereja wilayah Timur. Pada saat itu Turki menghancurkan tempat suci  dan Antiochia diduduki.  Kekacauan bertambah  karena tempat ziarah diresahkan  dengan perampokan, pencemaran dan penghinaan.  Oleh karena itu Urbanus II  mengajak segenap orang Kristen  membela hak-hak  gereja. Ia menjanjikan indulgensi kepada semua  orang kristiani (raja, bangsawan , prajurit dan rakyat ) aga rela pergi ke Yerusalem dengan  dijanjikan  pengampunan atas dosa.

Mgr Adhema Le Puy punya cara tersendiri  dalam menggembleng orang-orang yang mau dikirim ke tanah suci ia mengambil salib, kain putih  dipotong-potong-potong dan diletakkan di pundak.

Urbanus juga menulis surat kepada orang –ora falmish, bologna dan Biara Vallombrosa dan ada upaya untuk membantu Gereja Timur.

Beberapa gelombang  pasukan dikirim ke tanah suci.  Gelombang pertama upaya pembebasan  itu gagal karena yang dikirim kebanyak petani dan kurang disiplin. Kemudian pada tahun 1099 dikirimlah 20 sampai 30 ribu ksatira Jerman ke palestina dan Jerusalem berhasil direbut. Tetapi kendati begitu ada banjir darah, pembunuhan, perampokan tetapi juga ada  penitensi dan karya sosial. Pada pertempuran berikutnya antara tahun 1147-1149 keberhasilan kembali diraih. Tetapi pada 1187 Yerusalem berhasil direbut kembali oleh pihak Islam. Pada perang ke 3 antara tahun 1189 – 1192 kaisar Barbarrosa tewas dan Turki berhasil dikalahkan. Kemudian terjadi gencatan senjata antara Sulatan Salahudin dengan Rikhard Hatisinga.

Belajar dari peperangan, maka para peziarah dipersenjatai. Juga terjadi perluasan kekaisaran Barat. Kemudian didirikanlah  Hierarki Gereja latin di bawah Yerusalem. Antiochia, Iskandaria yang mengakibatkan kekacauan. Maka ada upaya untuk membantu gereja Timur.

Pada perang membebaskan Palestina itu, di dalam gereja sendiri mengalami degradasi dan gereja tak menyadari ada pimpinan Roh Kudus di dalam gereja. Gereja pada masa itu menerapkan apa yang disebut sebagai teologi pahala dan juga berkembang teologi nominalis dimana semua pelayuanan dihitung atau dikalkulasi dalam bentuk uang. Hal-hal inilah  yang menimbulkan gerakan radikal di dalam gereja. Semua  terjadi karena ada skandal dalam gereja yang mengagungkan para gembala ( sebetulnya hal ini tidak salah ) baik dalam hal pengajaran maupun sikapnya. Akibatnya   institusi gereja  cenderung menjadi kaku  dan kurang memperhatikan dinamika roh Kudus dan Rahmat.

Institusi gereja dianggap telah mengaburkan rahmat keselamtan Allah yang Cuma-Cuma dan iman yang murni yang diberikan dalam  Kitab Suci. Gereja Kristus yang benar tidak dapat diidentifikasikan dengan institusi manusia yang tidak sempurna.

Yang paling keras  menyuarakan pembaruan dalam gereja adalah Martin Luther, dan sebetulnya Luther tak pernah mendirikan gereja tapi murid-muridnya. Menurut Luther gereja merupakan keseluruhan orang-orang beriman: mereka menghidupi iman mereka dalam rahmat keselamatan Allah yang diberikan oleh Yesus Kristus dan disampaikan oleh  Roh Kudus, hal itu ditandai eklesiologi yang ditandai dengan sifat apologetik, Yuridis dan spekulatif. Sayangnya Gerakan Luther yang sebetulnya tidak ingin membentuk gereja di luar Gereja yang  Katolik ditanggapi dengan pemisahan yang tegas antara Katholik dan para penentangnya yang mendorong para pengikut Luther membentuk gereja baru yang kita sebut protestanisme.

Berkembangnya  Protestanisme dan praktek gereja yang tidak mau dituntun oleh
Roh Kudus   menantang  para Paus di kemudian hari  untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja.  Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan  gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.

Kemudian muncullah Paus Bellarminus. Ia dengan tegas menyatakan bahwa  hanya ada 1 gereja dan bukan dua. Satu-satunya gereja yang benar adalah persekutuan orang-orang yang dipersatukan oleh   pengakuan iman kristiani yang sama dalam communio sakramen-sakramen, di bawah penggembalaan para imam yang syah dan kususnya  di  bawah satu-satunya wakil Kristus di muka bumi ini yakni Paus.

Menurut Romo Francis, Tekanan pada keanggotaan gereja yang kelihatan berakibat kepada pembedaan dalam gereja  antara”tubuhny” yang kelihatan, yang berisi “notes ecclesial: satu, Kudus, katolik dan Apostolik.  Yang dapat menjadi ukuran  gereja yang sebenarnya dan rahmat yang menjiwai gereja. Bellarminus memberi spesifikasi  apa yang dimaksud  keanggotaan gereja ciri-ciri gereja , infabilitas gereja (gereja yang karena tuntunan Roh Kudus tak dapat sesat), hirarki ( uskup dan posisi primat  Paus ).

Selain Bellarminus, ada satu lagi pembaharu gereja di abad lalu yakni seorang  teolog dari perancis yakni Yves Congar.

Menurut  Congar, refleksi tentan Allah adalah Allah yang hadir berbentuk yang dikisahkan dalam Injil. Jadi Allah yang menyejarah adalah Allah sebagaimana dikisahkan dalam Injil dan peran pokok dari Kristus dalam  sejarah keselamatan. Gereja sebagai totalitas  organisme yang hidup, dinamis dan aktif. Gereja yang demikian akan menyadari kehadiran Roh Kudus  karena Roh Kudus adalah Jiwa Gereja, dari Dialah mengalir seluruh hidup. Gereja adalah hasil yang tampak dari kekuatan batiniah, tubuh dari Roh yang menciptakan dirinya sendiri. Individu sebagai bagaian dari keseluruhan organisme, bedasarkan Allah tidak akan mengenal Allah kecuali dalam keseluruhan.


Menurut Congar, Roha adalah motor batin dari perekmbangan perluasannya. Dengan demikian Roh Kudus menjadi karunia. Kalau sumbernya Roh Kudus dalam kita berkomunitas pasti ukurannya membangun komunitas atau tidak, kalau tujuannya baik, tapi menimbulkan  perpecahan maka itu bukan roh Kudus, karena kalau karnuia itu dari Roh Kudus pasti akan membangun Komunitas bukan sebaliknya.

Sabtu, 08 Oktober 2016

PESAN PAUS AGAR KIT MENJADI MURID YANG MISIONER

Apakah  yang dimaksudkan oleh  Paus sebagai murid yang misioner ?> yaitu murid yang selalu berelasi dengan Allah dan kemudian mewartakan dan jangan dibalik, orang yang tak pernah berelasi dengan Allah tak mungkin bisa mewartakan Allah.  Pergi untuk mewartakan ke ujung dunia adalah Amanat  Yesus Kristus kepada para rasul untuk pergi ke ujung dunia (kis.1:8)

Ada beberapa dokumen yang menghendaki agar kita menjadi  murid-murid yang misioner
1.    Dalam keutamaan sakramen baptis yang diterima, setiap anggota umat allah ditobatkan menjadi muri-murid yang berjiwa misionaris ( lih. Mat 28:19). Setiap orang yang telah dibabptis, apapun perannya dalam gereja dan sedalam apapun derajat imannya, adalah seorang agen pewarta kabar Gembira (EG.120).

2.    Yang hendak saya anjurkan ( Paus Fransiskus, pen) dengan sangat adalah sesuatu yang semakin  sejalan dengan garis pertimbangan Injili. Yang dimaksdukan adalah cara seorang murid yang misioner, suatu pendekatan yang menggali sumbernya dari terang dan kekuatan Roh Kudus, serta senantiasa berada dalam pemeliharaan-Nya (EG 50).

3.    Gereja pada dirinya sendiri adalah seorang murid yang misioner (EG 40 )

4.    Murid misoner menyuadari bahwa pengertiannya mengenai Injil serta kemampuanya untuk mempertimbangkan jalan jalan  Roh Kudus juga harus tumbuh , dan dengan demikian ia melakukan   kebaikan sebisanya, bahkan jika dalam prosesnya, sepatunya terkena lumpur jalanan (EG.45).

Murid yang misioner harus keluar dari zona nyaman, keluar untuk menjemput tantangan.  Di Alkitab, kisah gerak keluar  seperti yang diinginkan Paus kita jumapai dalam panggilan Abraham (Kej 12:1-3), Musa ( Kel. 3:10) sampai dengan nabi Yeremias ( Yer 1:7). Dalam kisah Itu Allah memerintahkan untuk meninggal zona nyaman untuk menempuh zona baru yang penuh tantangan.

Dasar panggilan Yesus kepada para murdi  tak lain karena hakekat, sang  Sabda yang adalah juga utusan Allah  “ marilah kita pergi ke kota-kota yang berdekatan supaya  Aku  memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang (mrk 1:38).

Menurut paus hakekat Gereja sebagai murid misoner tak berhenti dengan naiknya Yesus ke surga.  Sebelumnya Yesus  telah menjanjikan  bahwa akan ada penolong  yang akan membantu para murid untuk  melaksanakan tugas pewartaan mereka ( Yoh 16:7) janji itu menjadi nyata pada saat  Roh Kudus atas diri para Rasul dalam peristiwa Pentakosta ( Kis 2:1-13)

Jadi setiap orang yang t elah dibaptis menjadi anggota  Gereja katolik oleh karena imannya, ia dipanggil untuk mewartakan kabar  Gembira sekaligus  dipanggil  untuk menjadi murid  yang missione

Senin, 03 Oktober 2016

GERAKAN PEMBAHARUAN DARI DALAM GEREJA KATOLIK

Gereja Katolik pernah mengalami masa kelam dalam sejarah, ketika gereja tergoda untuk  berkuasa sebagaimana Kaisar/raja, Ketika para Paus  begitu mudah digantikan oleh Kaisar/Raja atau penguasa setempat.  Akibatnya gereja menjadi tidak otonom lagi,  kaisar atau bangsawan begitu mudah untuk mengangkat imam, bahkan kardinal sesuai keinginan raja yang bersangkutan, yang tidak jarang terjadi adalah kerabat dari raja yang bersangkutan. Itu terjadi di abad IX sampai sekitar abad ke XI. Situasi seperti ini tentu merupakan situasi yang tidak nyaman bagi  gereja. Untunglah muncul beberapa pembaharu dari dalam gereja. Salah satu pembaharu itu adalah Hildebrand Soana (Gregorius VII). Ia dilahirkan tahun 1020 di Toskania, Italia Tengah. Ia pernah belajar di Roma pada tahun 1046 ia menemani paus Gregorius VI di Cluny. Pada tahun 1049  ia dibawa ke Roma oleh paus Leo IX. Dan ia diangkat paus pada

Pembaharuan yang dibawanya tidak berdiri sendiri. Ketika gereja tergoda pada kekuasaan ada biara-biara yang tak mau ikut-ikutan  dan memilih pembaharuan dari dalam. Pada tahun 909 ada biara  dengan regula Benedectus langsung di bawah kepausan  Roma.  Pembaharuan biara yang tunduk kepada Roma dan membangun banyak biara di Eropa.

Di dalam biara Doa, Lection Divina, Liturgi, askese dan ketaatan kepada  Paus. Ada otonomi gereja dari Kaisar, tetapi Gereja Timur menolak karena bagi gereja Timur gereja dan neara adalah satu.  Hal terakhir ini pula yang  menjadi salah satu pemicu berpisahnya gereja Timur dari gereja  Katholik.

Salah satu pembaharuan yang dilakukan Gregorius  VII adalah melawan  simoni yakni adanya jabatan gereja karena suap, artinya Kaisar tertentu mengangkat   Paus atau  Kardinal atau Uskup  dengan imbalan perlindungan, sehingga muncullah Paus tandingan, atau penguasa yang seenaknya mengganti seorang uskup, salah satu akibatnya  hanya dalam waktu 24 tahun, gereja memiliki 5 orang Paus. Gregorius VII juga menganjurkan  selibat imam tujuan selibat antara lain  apa yang disebut investitura, dimana gereja dan biara dikuasai oleh bangsawan.

Sebetulnya keadaan sosial zaman itu sungguh memprihatinkan karna sampai zaman itu belum ada lembaga pendidikan kecuali yang diselenggarakan keuskupan, itupun hanya diperuntukkan untuk kelompok bangsawan. 

Pembaharuan yang dibawa Paus Gregorius VII terus berlanjut sampai abad ke XII. Pembaharuan di abad XII antara lain :

1.     Menyetujui  Kaisar boleh punya hak nominasi, tapi tetap harus ikut kanonik.
2.    Mengharuskan selibat Imam.
3.    Mengacu hukum gereja kuno ( dictatus papa)
4.    Melawan Korupsi – menentang Investitura awam ( bangsawan berhak  untuk nominasi pimpinan biara/uskup )
5.    Mengambil kembali kekuasaan gereja yang diambil bangsawan
6.    Paus berhak kembali mengundang konsili.


Nati akan terbukti bahwa pembaharuan  itu tak selamanya mulus.  Tapi itu menunjukkan bahwa gereja bukan  institusi yang statis tapi dinamis.

Minggu, 02 Oktober 2016

SEJARAH KELAM GEREJA DAN PEMBAHARUAN DALAM GEREJA

Akhir – akhir ini istilah radikal dan radiklisme sering dicampuradukkan. Padahal radikal dan radikalisme adalah  dua hal yang berbeda. Sesuatu ang radikal menurut akar katanya  adalah radiks, artinya  berpikir  atas mengikuti sesuatu sampai ke akar akarnya, jadi sampai pada hal yang prinsip dan sangat mendasar. Seorang Kristen radikal akan bersifat kritis, rasional terbuka dan kontekstual.

Radikalisme harus dibedakan dengan  pemahaman tertentu, yang biasanya merupakan kelompok tertutup dan tidak terbuka pada pihak lain. Makna radikal di sini bukanlah paham yang  seperti itu  tetapi merupakan bidang berpikir dan  bertindak. Sedangkan  pemahaman  tertentu yang saat ini kita kenal adalah sistem tertutup dan merupakan sisi negatif dan sikap radikal dan bersikap intoleran, fanatisme yang berlebihan, bersifat  eksklusif dan  radikalisme. sehingga  kita samapai pada makna bahwa radikalisme adalah gerakan radikal, revolusioner dan merusak.

Dikaitkan dengan iman kristiani, sikap radikal  ada positif negatifnya. Radikal yang positi akan mengarahkan iman kepada sesuatu yang kontekstual, seorang katolik yang radikal akan beriman sesuai konteks, artinya ia beriman katolik dalam budaya tertentu dan di tempat atau komunitas tertentu ( dan dia bukan orang Katolik di surga bukan ? ).  Konteks itulah turut memberi warna  keberimannya orang katolik di Amerika misalnya dengan orang katolik di Indonesia, orang katolik di  Flores dengan orang Katolik di Muntilan walau sama-sama dalam wadah  Gereja Katolik yang satu, tetapi cara mereka mempraktekkan  kekatolikan tentu beda, begitu juga orang Katolik di abad 21 dengan Orang  Katolik di abad 15 tentu ada warna tersendiri.

Heretik dan Skisma

Dalam kaca mata negatif radikalisme dalam gereja melahirkan  dua gerakan yaitu Heretik dan Skisma.  Heretik menurut  Romo Francis Poerwanto SCY adalah  sebentuk kesomobong intelektual.  Seorang yang belajar Kitab suci  menganggap diri paling benar  dan menolak yang lain.  Heretik lebih mungkin menjangkiti orang terpelajar ketimbang awam. Dalam sejarah gereja ada  nama Pellagius seorang teolog atau  misalnya Arius yang menolak keilahian Yesus, mereka merasa lebih benar daripada magistarium.

Hal negatif kedua adalah skisma. Skisma berangkat dari ketidakcocokan mereka yang menganggap bahwa kelompoknya lah yang paling benar.  Mereka benar-benar punya komitmen diri dan tidak mau bergabung. Di dalam gereja katolik kelompok sempalan itu tidak banyak,  yang tidak banyak itu misalnya  kelompok  Tiberias. Contoh lain dari pandangan  yang menganggap paling benar ada pada Agnes, ketika kelompok ini memandang bahwa  kelompok mereka paling benar karena penampakan  bunda Maria kepada ibu Agnes.

Latar belakang skisma dalam gereja

Pernah suatu kali gereja punya kekuasaan yang beti besar dan menjadi rival kekuasaan negara atau Kaisar.  Maka pernah ada masanya gereja dikenal sebagai gereja imperium pada sekitar tahun 800 dan abad-abad berikutnya, ketika  Charles  Yang Agung naik tahta di kerajaan France.  Kekuasaannya sangat luas bahkan menjangkau Italia.  Supaya mendapatkan pengakuan ia dinobatkan  oleh Paus, dan  Paus memberikan mahkota  kepada Kaisar tetapi pada saat yang sama Paus tunduk kepada Kaisar.  Disini munculah cikal  bakal istilah gereja imperium.

Tetapi yang terjadi bukannya gereja menjadi independen terhadap negara  tetapi justru gereja ajur ajer  dengan kekaisaran. Kalau kekaisaran punya pangeran dan bangsawan maka gereja pun mempunya  Kardinal dan para Uskup. Pengaruh gereja imperium untuk zaman ini, menurut Romo Francis, adalah  gelar pangeran untuk para uskup, Mgr.   Yang jelas pada saat itu ada pembagian kekuasaan pada saat itu antara kekaisaran dan gereja. Kaisar  memengang kekuasaan politik, sementara Paus memiliki pengaru di bidang rohani. Ada kesatuan gereja dan Kaisar, sehingga muncullah budaya Kristen.

Budaya  Kristen semakin tampak di Eropa pada tahun 814,  atau ketika pada masa akhir kekuasaan  Karel yang agung.  Pada 9 itulah di Eropa banyak dibangun katedral- katedral megah.  Ekaristi dirayakan dengan prosesi besar. Liturgi dibuat megah dengan bahasa latin. Juga dibangunlah gereja-gereja besar, yang diikuti oleh munculnya biara-biara besar.

Pada masa ini tak dapat dipungkiri memunculkan zaman gereja yang radikal.  Zaman ini membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya banyak gereja dibangun begitu megah, perayaan liturgi dirayakan begitu agung, budaya Eropa lebih berwajah Kristiani. Negatifnya generasi berikutnya dari para kaisar tidak begitu akrab dengan pejabat  kekaisaran yang berakibat perbedaan sengit kepentingan antara gereja dan kekaisaran.  Akibat berikutnya yang cukup memprihatinkan adalah tahta  Roma diperebutkan antar bangsawan. Bayangkan saja  antara tahun 920-1046 atau selama 126 tahun gereja katolik memiliki 26 paus  padahal antara tahun 1838-1958 kita hanya memiliki 7 paus, yaitu terjadi  pembaharuan-pembaharuan  gereja  Katolik dengan melakukan perbaikan terhadap praktek-praktek negatif  yang dialami gereja.

Contoh praktek negatif  dalam gereja adalah pencampuradukan  gereja dan negara misalnya terjadi pada 1045  gereja  Katholik memiliki 3 orang Paus.  Yaitu Benedictus IX (1032-1055) yang kemudian diturunkan, kemudian  Silvester III ( 10 Januari  sampai 10 Maret 1045, kemudian Gregorius  VI (1045-1046).


Yang terjadi kemudian Kaisar menentukan uskup-uskup. Pada saati itu  uskup menguasai spiritual tanah. Pada saat itu uskup menguasai tanah yang luas tetapi menjadi ironi karena para uskup  yang juga menguasai tanah itu dikuasai raja.  Akibatnya  uskup kehilangan otonominya . Situasi gereja yang demikian  ini yang kemudian memunculkan pembaharuan dalam  gereja, salah satu pembaharu dalam gereja adalah Hildebrand Soana atau Gregorius VII.