Senin, 03 Oktober 2016

GERAKAN PEMBAHARUAN DARI DALAM GEREJA KATOLIK

Gereja Katolik pernah mengalami masa kelam dalam sejarah, ketika gereja tergoda untuk  berkuasa sebagaimana Kaisar/raja, Ketika para Paus  begitu mudah digantikan oleh Kaisar/Raja atau penguasa setempat.  Akibatnya gereja menjadi tidak otonom lagi,  kaisar atau bangsawan begitu mudah untuk mengangkat imam, bahkan kardinal sesuai keinginan raja yang bersangkutan, yang tidak jarang terjadi adalah kerabat dari raja yang bersangkutan. Itu terjadi di abad IX sampai sekitar abad ke XI. Situasi seperti ini tentu merupakan situasi yang tidak nyaman bagi  gereja. Untunglah muncul beberapa pembaharu dari dalam gereja. Salah satu pembaharu itu adalah Hildebrand Soana (Gregorius VII). Ia dilahirkan tahun 1020 di Toskania, Italia Tengah. Ia pernah belajar di Roma pada tahun 1046 ia menemani paus Gregorius VI di Cluny. Pada tahun 1049  ia dibawa ke Roma oleh paus Leo IX. Dan ia diangkat paus pada

Pembaharuan yang dibawanya tidak berdiri sendiri. Ketika gereja tergoda pada kekuasaan ada biara-biara yang tak mau ikut-ikutan  dan memilih pembaharuan dari dalam. Pada tahun 909 ada biara  dengan regula Benedectus langsung di bawah kepausan  Roma.  Pembaharuan biara yang tunduk kepada Roma dan membangun banyak biara di Eropa.

Di dalam biara Doa, Lection Divina, Liturgi, askese dan ketaatan kepada  Paus. Ada otonomi gereja dari Kaisar, tetapi Gereja Timur menolak karena bagi gereja Timur gereja dan neara adalah satu.  Hal terakhir ini pula yang  menjadi salah satu pemicu berpisahnya gereja Timur dari gereja  Katholik.

Salah satu pembaharuan yang dilakukan Gregorius  VII adalah melawan  simoni yakni adanya jabatan gereja karena suap, artinya Kaisar tertentu mengangkat   Paus atau  Kardinal atau Uskup  dengan imbalan perlindungan, sehingga muncullah Paus tandingan, atau penguasa yang seenaknya mengganti seorang uskup, salah satu akibatnya  hanya dalam waktu 24 tahun, gereja memiliki 5 orang Paus. Gregorius VII juga menganjurkan  selibat imam tujuan selibat antara lain  apa yang disebut investitura, dimana gereja dan biara dikuasai oleh bangsawan.

Sebetulnya keadaan sosial zaman itu sungguh memprihatinkan karna sampai zaman itu belum ada lembaga pendidikan kecuali yang diselenggarakan keuskupan, itupun hanya diperuntukkan untuk kelompok bangsawan. 

Pembaharuan yang dibawa Paus Gregorius VII terus berlanjut sampai abad ke XII. Pembaharuan di abad XII antara lain :

1.     Menyetujui  Kaisar boleh punya hak nominasi, tapi tetap harus ikut kanonik.
2.    Mengharuskan selibat Imam.
3.    Mengacu hukum gereja kuno ( dictatus papa)
4.    Melawan Korupsi – menentang Investitura awam ( bangsawan berhak  untuk nominasi pimpinan biara/uskup )
5.    Mengambil kembali kekuasaan gereja yang diambil bangsawan
6.    Paus berhak kembali mengundang konsili.


Nati akan terbukti bahwa pembaharuan  itu tak selamanya mulus.  Tapi itu menunjukkan bahwa gereja bukan  institusi yang statis tapi dinamis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar