SEJARAH KELAM GEREJA DAN PEMBAHARUAN DALAM GEREJA
Akhir – akhir ini istilah radikal dan
radiklisme sering dicampuradukkan. Padahal radikal dan radikalisme adalah dua hal yang berbeda. Sesuatu ang radikal
menurut akar katanya adalah radiks,
artinya berpikir atas mengikuti sesuatu sampai ke akar
akarnya, jadi sampai pada hal yang prinsip dan sangat mendasar. Seorang Kristen
radikal akan bersifat kritis, rasional terbuka dan kontekstual.
Radikalisme harus dibedakan dengan pemahaman tertentu, yang biasanya merupakan
kelompok tertutup dan tidak terbuka pada pihak lain. Makna radikal di sini
bukanlah paham yang seperti itu tetapi merupakan bidang berpikir dan bertindak. Sedangkan pemahaman
tertentu yang saat ini kita kenal adalah sistem tertutup dan merupakan sisi
negatif dan sikap radikal dan bersikap intoleran, fanatisme yang berlebihan,
bersifat eksklusif dan radikalisme. sehingga kita samapai pada makna bahwa radikalisme
adalah gerakan radikal, revolusioner dan merusak.
Dikaitkan dengan iman kristiani, sikap
radikal ada positif negatifnya. Radikal yang
positi akan mengarahkan iman kepada sesuatu yang kontekstual, seorang katolik
yang radikal akan beriman sesuai konteks, artinya ia beriman katolik dalam
budaya tertentu dan di tempat atau komunitas tertentu ( dan dia bukan orang
Katolik di surga bukan ? ). Konteks itulah
turut memberi warna keberimannya orang
katolik di Amerika misalnya dengan orang katolik di Indonesia, orang katolik
di Flores dengan orang Katolik di
Muntilan walau sama-sama dalam wadah
Gereja Katolik yang satu, tetapi cara mereka mempraktekkan kekatolikan tentu beda, begitu juga orang
Katolik di abad 21 dengan Orang Katolik
di abad 15 tentu ada warna tersendiri.
Heretik dan Skisma
Dalam kaca mata negatif radikalisme dalam
gereja melahirkan dua gerakan yaitu
Heretik dan Skisma. Heretik menurut Romo Francis Poerwanto SCY adalah sebentuk kesomobong intelektual. Seorang yang belajar Kitab suci menganggap diri paling benar dan menolak yang lain. Heretik lebih mungkin menjangkiti orang
terpelajar ketimbang awam. Dalam sejarah gereja ada nama Pellagius seorang teolog atau misalnya Arius yang menolak keilahian Yesus,
mereka merasa lebih benar daripada magistarium.
Hal negatif kedua adalah skisma. Skisma
berangkat dari ketidakcocokan mereka yang menganggap bahwa kelompoknya lah yang
paling benar. Mereka benar-benar punya
komitmen diri dan tidak mau bergabung. Di dalam gereja katolik kelompok
sempalan itu tidak banyak, yang tidak
banyak itu misalnya kelompok Tiberias. Contoh lain dari pandangan yang menganggap paling benar ada pada Agnes,
ketika kelompok ini memandang bahwa
kelompok mereka paling benar karena penampakan bunda Maria kepada ibu Agnes.
Latar belakang skisma dalam gereja
Pernah suatu kali gereja punya kekuasaan yang
beti besar dan menjadi rival kekuasaan negara atau Kaisar. Maka pernah ada masanya gereja dikenal sebagai
gereja imperium pada sekitar tahun 800 dan abad-abad berikutnya, ketika Charles
Yang Agung naik tahta di kerajaan France. Kekuasaannya sangat luas bahkan menjangkau
Italia. Supaya mendapatkan pengakuan ia
dinobatkan oleh Paus, dan Paus memberikan mahkota kepada Kaisar tetapi pada saat yang sama Paus
tunduk kepada Kaisar. Disini munculah
cikal bakal istilah gereja imperium.
Tetapi yang terjadi bukannya gereja menjadi
independen terhadap negara tetapi justru
gereja ajur ajer dengan kekaisaran. Kalau
kekaisaran punya pangeran dan bangsawan maka gereja pun mempunya Kardinal dan para Uskup. Pengaruh gereja
imperium untuk zaman ini, menurut Romo Francis, adalah gelar pangeran untuk para uskup, Mgr. Yang jelas pada saat itu ada pembagian
kekuasaan pada saat itu antara kekaisaran dan gereja. Kaisar memengang kekuasaan politik, sementara Paus
memiliki pengaru di bidang rohani. Ada kesatuan gereja dan Kaisar, sehingga
muncullah budaya Kristen.
Budaya
Kristen semakin tampak di Eropa pada tahun 814, atau ketika pada masa akhir kekuasaan Karel yang agung. Pada 9 itulah di Eropa banyak dibangun
katedral- katedral megah. Ekaristi
dirayakan dengan prosesi besar. Liturgi dibuat megah dengan bahasa latin. Juga
dibangunlah gereja-gereja besar, yang diikuti oleh munculnya biara-biara besar.
Pada masa ini tak dapat dipungkiri memunculkan
zaman gereja yang radikal. Zaman ini
membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya banyak gereja dibangun
begitu megah, perayaan liturgi dirayakan begitu agung, budaya Eropa lebih
berwajah Kristiani. Negatifnya generasi berikutnya dari para kaisar tidak
begitu akrab dengan pejabat kekaisaran
yang berakibat perbedaan sengit kepentingan antara gereja dan kekaisaran. Akibat berikutnya yang cukup memprihatinkan
adalah tahta Roma diperebutkan antar
bangsawan. Bayangkan saja antara tahun
920-1046 atau selama 126 tahun gereja katolik memiliki 26 paus padahal antara tahun 1838-1958 kita hanya
memiliki 7 paus, yaitu terjadi
pembaharuan-pembaharuan
gereja Katolik dengan melakukan
perbaikan terhadap praktek-praktek negatif
yang dialami gereja.
Contoh praktek negatif dalam gereja adalah pencampuradukan gereja dan negara misalnya terjadi pada 1045 gereja
Katholik memiliki 3 orang Paus. Yaitu
Benedictus IX (1032-1055) yang kemudian diturunkan, kemudian Silvester III ( 10 Januari sampai 10 Maret 1045, kemudian Gregorius VI (1045-1046).
Yang terjadi kemudian Kaisar menentukan
uskup-uskup. Pada saati itu uskup
menguasai spiritual tanah. Pada saat itu uskup menguasai tanah yang luas tetapi
menjadi ironi karena para uskup yang
juga menguasai tanah itu dikuasai raja.
Akibatnya uskup kehilangan
otonominya . Situasi gereja yang demikian
ini yang kemudian memunculkan pembaharuan dalam gereja, salah satu pembaharu dalam gereja
adalah Hildebrand Soana atau Gregorius VII.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar