Minggu, 02 Oktober 2016

SEJARAH KELAM GEREJA DAN PEMBAHARUAN DALAM GEREJA

Akhir – akhir ini istilah radikal dan radiklisme sering dicampuradukkan. Padahal radikal dan radikalisme adalah  dua hal yang berbeda. Sesuatu ang radikal menurut akar katanya  adalah radiks, artinya  berpikir  atas mengikuti sesuatu sampai ke akar akarnya, jadi sampai pada hal yang prinsip dan sangat mendasar. Seorang Kristen radikal akan bersifat kritis, rasional terbuka dan kontekstual.

Radikalisme harus dibedakan dengan  pemahaman tertentu, yang biasanya merupakan kelompok tertutup dan tidak terbuka pada pihak lain. Makna radikal di sini bukanlah paham yang  seperti itu  tetapi merupakan bidang berpikir dan  bertindak. Sedangkan  pemahaman  tertentu yang saat ini kita kenal adalah sistem tertutup dan merupakan sisi negatif dan sikap radikal dan bersikap intoleran, fanatisme yang berlebihan, bersifat  eksklusif dan  radikalisme. sehingga  kita samapai pada makna bahwa radikalisme adalah gerakan radikal, revolusioner dan merusak.

Dikaitkan dengan iman kristiani, sikap radikal  ada positif negatifnya. Radikal yang positi akan mengarahkan iman kepada sesuatu yang kontekstual, seorang katolik yang radikal akan beriman sesuai konteks, artinya ia beriman katolik dalam budaya tertentu dan di tempat atau komunitas tertentu ( dan dia bukan orang Katolik di surga bukan ? ).  Konteks itulah turut memberi warna  keberimannya orang katolik di Amerika misalnya dengan orang katolik di Indonesia, orang katolik di  Flores dengan orang Katolik di Muntilan walau sama-sama dalam wadah  Gereja Katolik yang satu, tetapi cara mereka mempraktekkan  kekatolikan tentu beda, begitu juga orang Katolik di abad 21 dengan Orang  Katolik di abad 15 tentu ada warna tersendiri.

Heretik dan Skisma

Dalam kaca mata negatif radikalisme dalam gereja melahirkan  dua gerakan yaitu Heretik dan Skisma.  Heretik menurut  Romo Francis Poerwanto SCY adalah  sebentuk kesomobong intelektual.  Seorang yang belajar Kitab suci  menganggap diri paling benar  dan menolak yang lain.  Heretik lebih mungkin menjangkiti orang terpelajar ketimbang awam. Dalam sejarah gereja ada  nama Pellagius seorang teolog atau  misalnya Arius yang menolak keilahian Yesus, mereka merasa lebih benar daripada magistarium.

Hal negatif kedua adalah skisma. Skisma berangkat dari ketidakcocokan mereka yang menganggap bahwa kelompoknya lah yang paling benar.  Mereka benar-benar punya komitmen diri dan tidak mau bergabung. Di dalam gereja katolik kelompok sempalan itu tidak banyak,  yang tidak banyak itu misalnya  kelompok  Tiberias. Contoh lain dari pandangan  yang menganggap paling benar ada pada Agnes, ketika kelompok ini memandang bahwa  kelompok mereka paling benar karena penampakan  bunda Maria kepada ibu Agnes.

Latar belakang skisma dalam gereja

Pernah suatu kali gereja punya kekuasaan yang beti besar dan menjadi rival kekuasaan negara atau Kaisar.  Maka pernah ada masanya gereja dikenal sebagai gereja imperium pada sekitar tahun 800 dan abad-abad berikutnya, ketika  Charles  Yang Agung naik tahta di kerajaan France.  Kekuasaannya sangat luas bahkan menjangkau Italia.  Supaya mendapatkan pengakuan ia dinobatkan  oleh Paus, dan  Paus memberikan mahkota  kepada Kaisar tetapi pada saat yang sama Paus tunduk kepada Kaisar.  Disini munculah cikal  bakal istilah gereja imperium.

Tetapi yang terjadi bukannya gereja menjadi independen terhadap negara  tetapi justru gereja ajur ajer  dengan kekaisaran. Kalau kekaisaran punya pangeran dan bangsawan maka gereja pun mempunya  Kardinal dan para Uskup. Pengaruh gereja imperium untuk zaman ini, menurut Romo Francis, adalah  gelar pangeran untuk para uskup, Mgr.   Yang jelas pada saat itu ada pembagian kekuasaan pada saat itu antara kekaisaran dan gereja. Kaisar  memengang kekuasaan politik, sementara Paus memiliki pengaru di bidang rohani. Ada kesatuan gereja dan Kaisar, sehingga muncullah budaya Kristen.

Budaya  Kristen semakin tampak di Eropa pada tahun 814,  atau ketika pada masa akhir kekuasaan  Karel yang agung.  Pada 9 itulah di Eropa banyak dibangun katedral- katedral megah.  Ekaristi dirayakan dengan prosesi besar. Liturgi dibuat megah dengan bahasa latin. Juga dibangunlah gereja-gereja besar, yang diikuti oleh munculnya biara-biara besar.

Pada masa ini tak dapat dipungkiri memunculkan zaman gereja yang radikal.  Zaman ini membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya banyak gereja dibangun begitu megah, perayaan liturgi dirayakan begitu agung, budaya Eropa lebih berwajah Kristiani. Negatifnya generasi berikutnya dari para kaisar tidak begitu akrab dengan pejabat  kekaisaran yang berakibat perbedaan sengit kepentingan antara gereja dan kekaisaran.  Akibat berikutnya yang cukup memprihatinkan adalah tahta  Roma diperebutkan antar bangsawan. Bayangkan saja  antara tahun 920-1046 atau selama 126 tahun gereja katolik memiliki 26 paus  padahal antara tahun 1838-1958 kita hanya memiliki 7 paus, yaitu terjadi  pembaharuan-pembaharuan  gereja  Katolik dengan melakukan perbaikan terhadap praktek-praktek negatif  yang dialami gereja.

Contoh praktek negatif  dalam gereja adalah pencampuradukan  gereja dan negara misalnya terjadi pada 1045  gereja  Katholik memiliki 3 orang Paus.  Yaitu Benedictus IX (1032-1055) yang kemudian diturunkan, kemudian  Silvester III ( 10 Januari  sampai 10 Maret 1045, kemudian Gregorius  VI (1045-1046).


Yang terjadi kemudian Kaisar menentukan uskup-uskup. Pada saati itu  uskup menguasai spiritual tanah. Pada saat itu uskup menguasai tanah yang luas tetapi menjadi ironi karena para uskup  yang juga menguasai tanah itu dikuasai raja.  Akibatnya  uskup kehilangan otonominya . Situasi gereja yang demikian  ini yang kemudian memunculkan pembaharuan dalam  gereja, salah satu pembaharu dalam gereja adalah Hildebrand Soana atau Gregorius VII.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar