Selasa, 11 Oktober 2016

REFORMASI DARI DALAM  ( GEREJA KATOLIK )

Kita sebagai orang  Katolik pernah mendengar istilah “ Ecclesia semper reformanda ‘ yang artinya gereja yang  selalu memperbaiki diri.  Gereja adalah organ yang  dinamis, tetapi dalam kedinamisan itu gereja tetap mau dipimpin oleh  Roh Kudus. Benar bahwa gereja di masa lalu pernah mengalami masa kelam, tapi bukan berarti harus ada reformasi total yang oleh sementara yang tidak suka dengan gereja katolik, menganggap Gereja katolik adalah entitias kuno yang perlu dirubuhkan saja digantikan oleh gereja baru atau gereja yang telah direformasi.  Bahkan Di luar Gereja  Katolik setiap tanggal 31 Oktober diperingati sebagai hari reformasi gereja karena pada tanggal itulah Martin Luther yang  dianggap pendiri gereja bukan Katholik mempublikasikan 95 tesis untuk mengkritik kondisi gereja di zaman itu.  Pertanyaannya apakah  kalau kita ingin memperbaiki gereja harus menggantikan dengan gereja yang baru.

Tentu saja sejarah kelam gereja Katolik tidak bisa kita ingkari begitu saja. Reformasi hanyalah salah satu mimpi buruk itu.  Saya mengajak agar kita merenung sejarah kelam itu, bukan untuk diulangi  tapi untuk dapat kita menatap ke masa depan. Satu lagi yang tentu kita tidak lupa adalah adanya perang salib  di abad ke 11 . Istilah perang salib sebetulnya baru ramai di abad ke 18, sulit dimengerti mengapa istilah perang salib menjadi istilah yang populer.  Saya mengajak pembaca untuk  melihat ulang makna dan latar belakang dari perang salib itul

Persoalan di abad 11  tanah  Palestina dikuasai oleh  pasukan  Turki Seljuk, padahal tanah suci Yerusalem  berabad-abad para peziarah sudah terbisa untuk melakukan perjalan ke Palestina. Bisa dibayangkan pada saat itu belum ada pesawat terbang, kapal laut pun masih sangat sederhana. Jadi orang Eropa yang mau melakukan Ziarah ke tanah suci pasti berombongan tentu saja ini mengkawatirkan  kelompok Islam yang  sejak tahun 700 melakukan ekspansi dan menduduki daerah yang  dahulu dikenal sebagai daerah Kristen.  Orang Turki Seljuk tentu tidak senang   dan tidak akan tinggal diam menyaksikan rombongan para peziarah, yan kebanyakan dari Eropal

Sejatinya peziarahan itu tidak hanya bisa ditempuh lewat laut saja, lewat darat pun bisa, tapi tantangan jauh lebih berat.  Tetapi benar peziarahan lewat darat jauh lebih lama karena di abad ke 4 orang sudah menggunakan jalan darat untuk melakukan peziarahan.  Tetapi perjalan itu akan memakan waktu berbulan-bulan bahkan bisa beberapa tahun.

Karena situasi seperti itulah,  kata Romo Dr Francis Poerwanto , Scj z untuk memaknai ulang akan Ziarah dengan dasar secara teologis, yaitu ziaraah  ke tanah suci  dapat mengurangi  dosa dan bahkan menghapus dosa kemudian muncul pandangan bahwa  yang paling banyak dosanya adalah  para pangeran dan bangsawan karena  mereka pernah membunuh, korupsi dll.  Maka wajarlah para pangeran dan bangsawan berbondong-bondong  kesana. Kita bisa membayangkan  kalau seorng pangeran membawa  limapuluh orang prajurit, maka kalau ada 5 atau enam pangeran maka itu akan menjadi rombongan yang besar, inilah yang membuat penguasa Takut, sehingga kemudaian penguasa   Turki Seljuk  melarang  peziarahan ke tanah suci.

Larangan itu menimbulkan beberapa reaksi. Pada tahun 1064 uskup Gunther bamberg   menyikapi  diserangnya  7000 peziarah dalam expiditio  inter in terram sacrum ( perjalanan ke tanah suci ) Sn Nru awvFu Nnerue  maka ia akan mendapat indugensi penuh.

Pada zaman Urbanus II  sengketa tanah suci itu beranjut . pada tanggal 27 November 1095 paa akhir sinode clermont   dia berpidato untu  memaklumkan perang suci, sacrum bellum untuk para peziarah di tanah suci. Maka terjadilah penindasan di gereja wilayah Timur. Pada saat itu Turki menghancurkan tempat suci  dan Antiochia diduduki.  Kekacauan bertambah  karena tempat ziarah diresahkan  dengan perampokan, pencemaran dan penghinaan.  Oleh karena itu Urbanus II  mengajak segenap orang Kristen  membela hak-hak  gereja. Ia menjanjikan indulgensi kepada semua  orang kristiani (raja, bangsawan , prajurit dan rakyat ) aga rela pergi ke Yerusalem dengan  dijanjikan  pengampunan atas dosa.

Mgr Adhema Le Puy punya cara tersendiri  dalam menggembleng orang-orang yang mau dikirim ke tanah suci ia mengambil salib, kain putih  dipotong-potong-potong dan diletakkan di pundak.

Urbanus juga menulis surat kepada orang –ora falmish, bologna dan Biara Vallombrosa dan ada upaya untuk membantu Gereja Timur.

Beberapa gelombang  pasukan dikirim ke tanah suci.  Gelombang pertama upaya pembebasan  itu gagal karena yang dikirim kebanyak petani dan kurang disiplin. Kemudian pada tahun 1099 dikirimlah 20 sampai 30 ribu ksatira Jerman ke palestina dan Jerusalem berhasil direbut. Tetapi kendati begitu ada banjir darah, pembunuhan, perampokan tetapi juga ada  penitensi dan karya sosial. Pada pertempuran berikutnya antara tahun 1147-1149 keberhasilan kembali diraih. Tetapi pada 1187 Yerusalem berhasil direbut kembali oleh pihak Islam. Pada perang ke 3 antara tahun 1189 – 1192 kaisar Barbarrosa tewas dan Turki berhasil dikalahkan. Kemudian terjadi gencatan senjata antara Sulatan Salahudin dengan Rikhard Hatisinga.

Belajar dari peperangan, maka para peziarah dipersenjatai. Juga terjadi perluasan kekaisaran Barat. Kemudian didirikanlah  Hierarki Gereja latin di bawah Yerusalem. Antiochia, Iskandaria yang mengakibatkan kekacauan. Maka ada upaya untuk membantu gereja Timur.

Pada perang membebaskan Palestina itu, di dalam gereja sendiri mengalami degradasi dan gereja tak menyadari ada pimpinan Roh Kudus di dalam gereja. Gereja pada masa itu menerapkan apa yang disebut sebagai teologi pahala dan juga berkembang teologi nominalis dimana semua pelayuanan dihitung atau dikalkulasi dalam bentuk uang. Hal-hal inilah  yang menimbulkan gerakan radikal di dalam gereja. Semua  terjadi karena ada skandal dalam gereja yang mengagungkan para gembala ( sebetulnya hal ini tidak salah ) baik dalam hal pengajaran maupun sikapnya. Akibatnya   institusi gereja  cenderung menjadi kaku  dan kurang memperhatikan dinamika roh Kudus dan Rahmat.

Institusi gereja dianggap telah mengaburkan rahmat keselamtan Allah yang Cuma-Cuma dan iman yang murni yang diberikan dalam  Kitab Suci. Gereja Kristus yang benar tidak dapat diidentifikasikan dengan institusi manusia yang tidak sempurna.

Yang paling keras  menyuarakan pembaruan dalam gereja adalah Martin Luther, dan sebetulnya Luther tak pernah mendirikan gereja tapi murid-muridnya. Menurut Luther gereja merupakan keseluruhan orang-orang beriman: mereka menghidupi iman mereka dalam rahmat keselamatan Allah yang diberikan oleh Yesus Kristus dan disampaikan oleh  Roh Kudus, hal itu ditandai eklesiologi yang ditandai dengan sifat apologetik, Yuridis dan spekulatif. Sayangnya Gerakan Luther yang sebetulnya tidak ingin membentuk gereja di luar Gereja yang  Katolik ditanggapi dengan pemisahan yang tegas antara Katholik dan para penentangnya yang mendorong para pengikut Luther membentuk gereja baru yang kita sebut protestanisme.

Berkembangnya  Protestanisme dan praktek gereja yang tidak mau dituntun oleh
Roh Kudus   menantang  para Paus di kemudian hari  untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja.  Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan  gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.

Kemudian muncullah Paus Bellarminus. Ia dengan tegas menyatakan bahwa  hanya ada 1 gereja dan bukan dua. Satu-satunya gereja yang benar adalah persekutuan orang-orang yang dipersatukan oleh   pengakuan iman kristiani yang sama dalam communio sakramen-sakramen, di bawah penggembalaan para imam yang syah dan kususnya  di  bawah satu-satunya wakil Kristus di muka bumi ini yakni Paus.

Menurut Romo Francis, Tekanan pada keanggotaan gereja yang kelihatan berakibat kepada pembedaan dalam gereja  antara”tubuhny” yang kelihatan, yang berisi “notes ecclesial: satu, Kudus, katolik dan Apostolik.  Yang dapat menjadi ukuran  gereja yang sebenarnya dan rahmat yang menjiwai gereja. Bellarminus memberi spesifikasi  apa yang dimaksud  keanggotaan gereja ciri-ciri gereja , infabilitas gereja (gereja yang karena tuntunan Roh Kudus tak dapat sesat), hirarki ( uskup dan posisi primat  Paus ).

Selain Bellarminus, ada satu lagi pembaharu gereja di abad lalu yakni seorang  teolog dari perancis yakni Yves Congar.

Menurut  Congar, refleksi tentan Allah adalah Allah yang hadir berbentuk yang dikisahkan dalam Injil. Jadi Allah yang menyejarah adalah Allah sebagaimana dikisahkan dalam Injil dan peran pokok dari Kristus dalam  sejarah keselamatan. Gereja sebagai totalitas  organisme yang hidup, dinamis dan aktif. Gereja yang demikian akan menyadari kehadiran Roh Kudus  karena Roh Kudus adalah Jiwa Gereja, dari Dialah mengalir seluruh hidup. Gereja adalah hasil yang tampak dari kekuatan batiniah, tubuh dari Roh yang menciptakan dirinya sendiri. Individu sebagai bagaian dari keseluruhan organisme, bedasarkan Allah tidak akan mengenal Allah kecuali dalam keseluruhan.


Menurut Congar, Roha adalah motor batin dari perekmbangan perluasannya. Dengan demikian Roh Kudus menjadi karunia. Kalau sumbernya Roh Kudus dalam kita berkomunitas pasti ukurannya membangun komunitas atau tidak, kalau tujuannya baik, tapi menimbulkan  perpecahan maka itu bukan roh Kudus, karena kalau karnuia itu dari Roh Kudus pasti akan membangun Komunitas bukan sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar