REFORMASI DARI DALAM (
GEREJA KATOLIK )
Kita sebagai orang
Katolik pernah mendengar istilah “ Ecclesia semper reformanda ‘ yang
artinya gereja yang selalu memperbaiki
diri. Gereja adalah organ yang dinamis, tetapi dalam kedinamisan itu gereja
tetap mau dipimpin oleh Roh Kudus. Benar
bahwa gereja di masa lalu pernah mengalami masa kelam, tapi bukan berarti harus
ada reformasi total yang oleh sementara yang tidak suka dengan gereja katolik, menganggap Gereja katolik adalah entitias kuno yang perlu dirubuhkan saja digantikan oleh gereja baru atau gereja yang
telah direformasi. Bahkan Di luar Gereja Katolik setiap tanggal 31 Oktober diperingati
sebagai hari reformasi gereja karena pada tanggal itulah Martin Luther
yang dianggap pendiri gereja bukan
Katholik mempublikasikan 95 tesis untuk mengkritik kondisi gereja di zaman
itu. Pertanyaannya apakah kalau kita ingin memperbaiki gereja harus
menggantikan dengan gereja yang baru.
Tentu saja sejarah kelam gereja Katolik tidak bisa kita
ingkari begitu saja. Reformasi hanyalah salah satu mimpi buruk itu. Saya mengajak agar kita merenung sejarah kelam
itu, bukan untuk diulangi tapi untuk
dapat kita menatap ke masa depan. Satu lagi yang tentu kita tidak lupa adalah
adanya perang salib di abad ke 11 .
Istilah perang salib sebetulnya baru ramai di abad ke 18, sulit dimengerti
mengapa istilah perang salib menjadi istilah yang populer. Saya mengajak pembaca untuk melihat ulang makna dan latar belakang dari
perang salib itul
Persoalan di abad 11
tanah Palestina dikuasai
oleh pasukan Turki Seljuk, padahal tanah suci
Yerusalem berabad-abad para peziarah
sudah terbisa untuk melakukan perjalan ke Palestina. Bisa dibayangkan pada saat
itu belum ada pesawat terbang, kapal laut pun masih sangat sederhana. Jadi
orang Eropa yang mau melakukan Ziarah ke tanah suci pasti berombongan tentu
saja ini mengkawatirkan kelompok Islam
yang sejak tahun 700 melakukan ekspansi
dan menduduki daerah yang dahulu dikenal
sebagai daerah Kristen. Orang Turki
Seljuk tentu tidak senang dan tidak
akan tinggal diam menyaksikan rombongan para peziarah, yan kebanyakan dari
Eropal
Sejatinya peziarahan itu tidak hanya bisa ditempuh lewat laut
saja, lewat darat pun bisa, tapi tantangan jauh lebih berat. Tetapi benar peziarahan lewat darat jauh lebih
lama karena di abad ke 4 orang sudah menggunakan jalan darat untuk melakukan
peziarahan. Tetapi perjalan itu akan
memakan waktu berbulan-bulan bahkan bisa beberapa tahun.
Karena situasi seperti itulah, kata Romo Dr Francis Poerwanto , Scj z untuk memaknai ulang akan Ziarah dengan dasar secara teologis, yaitu
ziaraah ke tanah suci dapat mengurangi dosa dan bahkan menghapus dosa kemudian
muncul pandangan bahwa yang paling
banyak dosanya adalah para pangeran dan
bangsawan karena mereka pernah membunuh,
korupsi dll. Maka wajarlah para pangeran
dan bangsawan berbondong-bondong kesana.
Kita bisa membayangkan kalau seorng
pangeran membawa limapuluh orang
prajurit, maka kalau ada 5 atau enam pangeran maka itu akan menjadi rombongan
yang besar, inilah yang membuat penguasa Takut, sehingga kemudaian
penguasa Turki Seljuk melarang
peziarahan ke tanah suci.
Larangan itu menimbulkan beberapa reaksi. Pada tahun 1064
uskup Gunther bamberg menyikapi diserangnya
7000 peziarah dalam expiditio
inter in terram sacrum ( perjalanan ke tanah suci ) Sn Nru awvFu
Nnerue maka ia akan mendapat indugensi
penuh.
Pada zaman Urbanus II
sengketa tanah suci itu beranjut . pada tanggal 27 November 1095 paa
akhir sinode clermont dia berpidato
untu memaklumkan perang suci, sacrum bellum
untuk para peziarah di tanah suci. Maka terjadilah penindasan di gereja wilayah
Timur. Pada saat itu Turki menghancurkan tempat suci dan Antiochia diduduki. Kekacauan bertambah karena tempat ziarah diresahkan dengan perampokan, pencemaran dan penghinaan. Oleh karena itu Urbanus II mengajak segenap orang Kristen membela hak-hak gereja. Ia menjanjikan indulgensi kepada
semua orang kristiani (raja, bangsawan ,
prajurit dan rakyat ) aga rela pergi ke Yerusalem dengan dijanjikan
pengampunan atas dosa.
Mgr Adhema Le Puy punya cara tersendiri dalam menggembleng orang-orang yang mau
dikirim ke tanah suci ia mengambil salib, kain putih dipotong-potong-potong dan diletakkan di pundak.
Urbanus juga menulis surat kepada orang –ora falmish, bologna
dan Biara Vallombrosa dan ada upaya untuk membantu Gereja Timur.
Beberapa gelombang
pasukan dikirim ke tanah suci.
Gelombang pertama upaya pembebasan
itu gagal karena yang dikirim kebanyak petani dan kurang disiplin.
Kemudian pada tahun 1099 dikirimlah 20 sampai 30 ribu ksatira Jerman ke
palestina dan Jerusalem berhasil direbut. Tetapi kendati begitu ada banjir
darah, pembunuhan, perampokan tetapi juga ada
penitensi dan karya sosial. Pada pertempuran berikutnya antara tahun
1147-1149 keberhasilan kembali diraih. Tetapi pada 1187 Yerusalem berhasil
direbut kembali oleh pihak Islam. Pada perang ke 3 antara tahun 1189 – 1192
kaisar Barbarrosa tewas dan Turki berhasil dikalahkan. Kemudian terjadi
gencatan senjata antara Sulatan Salahudin dengan Rikhard Hatisinga.
Belajar dari peperangan, maka para peziarah dipersenjatai.
Juga terjadi perluasan kekaisaran Barat. Kemudian didirikanlah Hierarki Gereja latin di bawah Yerusalem.
Antiochia, Iskandaria yang mengakibatkan kekacauan. Maka ada upaya untuk
membantu gereja Timur.
Pada perang membebaskan Palestina itu, di dalam gereja
sendiri mengalami degradasi dan gereja tak menyadari ada pimpinan Roh Kudus di
dalam gereja. Gereja pada masa itu menerapkan apa yang disebut sebagai teologi
pahala dan juga berkembang teologi nominalis dimana semua pelayuanan dihitung
atau dikalkulasi dalam bentuk uang. Hal-hal inilah yang menimbulkan gerakan radikal di dalam
gereja. Semua terjadi karena ada skandal
dalam gereja yang mengagungkan para gembala ( sebetulnya hal ini tidak salah )
baik dalam hal pengajaran maupun sikapnya. Akibatnya institusi gereja cenderung menjadi kaku dan kurang memperhatikan dinamika roh Kudus
dan Rahmat.
Institusi gereja dianggap telah mengaburkan rahmat keselamtan
Allah yang Cuma-Cuma dan iman yang murni yang diberikan dalam Kitab Suci. Gereja Kristus yang benar tidak
dapat diidentifikasikan dengan institusi manusia yang tidak sempurna.
Yang paling keras
menyuarakan pembaruan dalam gereja adalah Martin Luther, dan sebetulnya
Luther tak pernah mendirikan gereja tapi murid-muridnya. Menurut Luther gereja
merupakan keseluruhan orang-orang beriman: mereka menghidupi iman mereka dalam
rahmat keselamatan Allah yang diberikan oleh Yesus Kristus dan disampaikan
oleh Roh Kudus, hal itu ditandai
eklesiologi yang ditandai dengan sifat apologetik, Yuridis dan spekulatif.
Sayangnya Gerakan Luther yang sebetulnya tidak ingin membentuk gereja di luar
Gereja yang Katolik ditanggapi dengan
pemisahan yang tegas antara Katholik dan para penentangnya yang mendorong para
pengikut Luther membentuk gereja baru yang kita sebut protestanisme.
Berkembangnya
Protestanisme dan praktek gereja yang tidak mau dituntun oleh
Roh Kudus menantang para Paus di kemudian hari untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja. Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.
Roh Kudus menantang para Paus di kemudian hari untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja. Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.
Kemudian muncullah Paus Bellarminus. Ia dengan tegas
menyatakan bahwa hanya ada 1 gereja dan
bukan dua. Satu-satunya gereja yang benar adalah persekutuan orang-orang yang
dipersatukan oleh pengakuan iman kristiani yang sama dalam
communio sakramen-sakramen, di bawah penggembalaan para imam yang syah dan
kususnya di bawah satu-satunya wakil Kristus di muka bumi
ini yakni Paus.
Menurut Romo Francis, Tekanan pada keanggotaan gereja yang
kelihatan berakibat kepada pembedaan dalam gereja antara”tubuhny” yang kelihatan, yang berisi
“notes ecclesial: satu, Kudus, katolik dan Apostolik. Yang dapat menjadi ukuran gereja yang sebenarnya dan rahmat yang
menjiwai gereja. Bellarminus memberi spesifikasi apa yang dimaksud keanggotaan gereja ciri-ciri gereja ,
infabilitas gereja (gereja yang karena tuntunan Roh Kudus tak dapat sesat),
hirarki ( uskup dan posisi primat Paus
).
Selain Bellarminus, ada satu lagi pembaharu gereja di abad
lalu yakni seorang teolog dari perancis
yakni Yves Congar.
Menurut Congar,
refleksi tentan Allah adalah Allah yang hadir berbentuk yang dikisahkan dalam
Injil. Jadi Allah yang menyejarah adalah Allah sebagaimana dikisahkan dalam
Injil dan peran pokok dari Kristus dalam
sejarah keselamatan. Gereja sebagai totalitas organisme yang hidup, dinamis dan aktif.
Gereja yang demikian akan menyadari kehadiran Roh Kudus karena Roh Kudus adalah Jiwa Gereja, dari
Dialah mengalir seluruh hidup. Gereja adalah hasil yang tampak dari kekuatan
batiniah, tubuh dari Roh yang menciptakan dirinya sendiri. Individu sebagai
bagaian dari keseluruhan organisme, bedasarkan Allah tidak akan mengenal Allah
kecuali dalam keseluruhan.
Menurut Congar, Roha adalah motor batin dari perekmbangan
perluasannya. Dengan demikian Roh Kudus menjadi karunia. Kalau sumbernya Roh
Kudus dalam kita berkomunitas pasti ukurannya membangun komunitas atau tidak,
kalau tujuannya baik, tapi menimbulkan
perpecahan maka itu bukan roh Kudus, karena kalau karnuia itu dari Roh
Kudus pasti akan membangun Komunitas bukan sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar