Minggu, 23 Oktober 2016

KETIKA KAMU TIDAK MENGHABISKAN MAKANANMU KAMU MERAMPOK ORANG MISKIN
Dalam  Surat Gembala   yang dibacakan di gereja-gereja Keuskupan Agung Semarang  pada tanggal 4-5 Oktober 2016 dan bertepatan dengan  pesta Santo Fransiscus Asisi, Gereja  di Keuskupan Agung  Semarang diingatkan  akan pesan Sinode para Uskup di tahun 2014 dan 2015 di Roma, yang membahas tentang keluarga.  Dan Sidang Agung Gereja katolik Indonesia  

          ( SAGKI)  yang juga memberi perhatian pada keluarga:”Keluarga-keluarga Katolik :  Sukacita Injil, panggilan  dan Perutusan keluarga dan dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk.” Keluarga sebagai sel pertama yang sangat penting dalam masyarakat (familiaris con sortio, 42) dan Sekolah-sekolah kemanusiaan (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang  belajar hidup  bersama orang lain serta  menuntun nilai-nilai luhur  dan warisan Umum. Keluarga, demikian  Surat Gembala itu,  dimana doa didengarkan, permumpaan dengan Allah  yang membawa suka cita, dialami, iman ditumbuhkan dan keutamaan ditanamkan.

Dalam keluarga, demikian Surat Gembala, Kehidupan Rohani dan iman seseorang dimatangkan, kehidupan sosial  anggota keluarga semakin dimatangkan seiring  dengan perkembangan hidup beriman. Dan salah satu nilai Rohani atau kebiasaan yang didapat seseorang dalam keluarga adalah hidup doa.

Surat Gembala itu juga mengajak gereja untuk merenungkan bacaan hari  itu ( Luk 18 :1-8) yaitu agar kita tak jemu-jemu berdoa dan bersatu dengan Allah dan merasakan kerahimanNya. Dari relasi  yang mendalam itulah akan berbuah pada bagi pelayanan kepada sesama dan suburlah solidaritas kemanusiaan.

Salah satu yang menjadi solidaritas kemanusiaan, Surat Gembala juga menyebut solidaritas pangan yang menjadi ciri  peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  yang kita peringati pada 16 Oktober. Dan HPS tahun 2016 ini mengangkat tema “Penguatan pangan berbasi keluarga.´keluarga dengan demikian tidak hanya  menggembleng soal iman, , namun keluarga juga menjadi tempat untuk membangunkesadaran tentang kecukupan pangan keluarga yang sehat dan lestari. Dengan kecukupan dan ketersediaan pangan, keluarga dapat mengmbangkan sikap dan tindakan nyata solidaritas melalui berbagi pangan bagi mereka yang berkekurangan. Kita haru berani berkata “cukup” terhadap segala bentuk keserakahan. Kita harus berani mewujutkan sabda  Yesus:”Kamu yang harus memberi mereka makan. “

Bapa suci Fransiskus dengan tegas mengatakan:” ketika kamu tidak menghabiskan makanannmu, membunag-buang  makanan, itu sama dengan merampok orang miskin (Homili hari Lingkungan Hidup sedunia PBB  5 Juni 2013).
Jadi, menurut surat Gembala Tersebut, ada orang yang kekurangan, tetapi ada juga yang berkelimpahan, jadi ada budaya menumpuk pangan  di tengah kelaparan. Dalam Rencana Induk  keuskupan Agung  Semarang 2015-2035 kita diajak  untuk menjadi pelopor  peradaban kasih agar terwujut masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Salah satu ukuran kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan makanan.

Surat Gembala itu  juga mengajak  agar keluarga- keluarga katolik di keuskupan Agung Semarang  ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah ( Pedoman pastoral  keluarga KWWI 2010, no 6). Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga  keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan kasih Kristiani.

Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati, berbelas kasih melallui pelayanan, terutama mereka yang lemah dan paling rapuh, terluka dan menderita. Kerahiman Allah  tidak bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, justru bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8).


Akhirnya Surat  Gembala memberi penegasan  bahwa dalam bulan Oktober selain kita memperingati HPS,  orang katolik juga berdoa Rosario, sekaligus bulan ini adalah bulan misi. Wujut misi/evangelisasi :”Semoga dalam semua komunitas kristiani, hari Misi sedunia kita memperbarui kegimbiraan Injil dan tanggung jawab mereka untuk mewartakannya,

Selasa, 11 Oktober 2016

REFORMASI DARI DALAM  ( GEREJA KATOLIK )

Kita sebagai orang  Katolik pernah mendengar istilah “ Ecclesia semper reformanda ‘ yang artinya gereja yang  selalu memperbaiki diri.  Gereja adalah organ yang  dinamis, tetapi dalam kedinamisan itu gereja tetap mau dipimpin oleh  Roh Kudus. Benar bahwa gereja di masa lalu pernah mengalami masa kelam, tapi bukan berarti harus ada reformasi total yang oleh sementara yang tidak suka dengan gereja katolik, menganggap Gereja katolik adalah entitias kuno yang perlu dirubuhkan saja digantikan oleh gereja baru atau gereja yang telah direformasi.  Bahkan Di luar Gereja  Katolik setiap tanggal 31 Oktober diperingati sebagai hari reformasi gereja karena pada tanggal itulah Martin Luther yang  dianggap pendiri gereja bukan Katholik mempublikasikan 95 tesis untuk mengkritik kondisi gereja di zaman itu.  Pertanyaannya apakah  kalau kita ingin memperbaiki gereja harus menggantikan dengan gereja yang baru.

Tentu saja sejarah kelam gereja Katolik tidak bisa kita ingkari begitu saja. Reformasi hanyalah salah satu mimpi buruk itu.  Saya mengajak agar kita merenung sejarah kelam itu, bukan untuk diulangi  tapi untuk dapat kita menatap ke masa depan. Satu lagi yang tentu kita tidak lupa adalah adanya perang salib  di abad ke 11 . Istilah perang salib sebetulnya baru ramai di abad ke 18, sulit dimengerti mengapa istilah perang salib menjadi istilah yang populer.  Saya mengajak pembaca untuk  melihat ulang makna dan latar belakang dari perang salib itul

Persoalan di abad 11  tanah  Palestina dikuasai oleh  pasukan  Turki Seljuk, padahal tanah suci Yerusalem  berabad-abad para peziarah sudah terbisa untuk melakukan perjalan ke Palestina. Bisa dibayangkan pada saat itu belum ada pesawat terbang, kapal laut pun masih sangat sederhana. Jadi orang Eropa yang mau melakukan Ziarah ke tanah suci pasti berombongan tentu saja ini mengkawatirkan  kelompok Islam yang  sejak tahun 700 melakukan ekspansi dan menduduki daerah yang  dahulu dikenal sebagai daerah Kristen.  Orang Turki Seljuk tentu tidak senang   dan tidak akan tinggal diam menyaksikan rombongan para peziarah, yan kebanyakan dari Eropal

Sejatinya peziarahan itu tidak hanya bisa ditempuh lewat laut saja, lewat darat pun bisa, tapi tantangan jauh lebih berat.  Tetapi benar peziarahan lewat darat jauh lebih lama karena di abad ke 4 orang sudah menggunakan jalan darat untuk melakukan peziarahan.  Tetapi perjalan itu akan memakan waktu berbulan-bulan bahkan bisa beberapa tahun.

Karena situasi seperti itulah,  kata Romo Dr Francis Poerwanto , Scj z untuk memaknai ulang akan Ziarah dengan dasar secara teologis, yaitu ziaraah  ke tanah suci  dapat mengurangi  dosa dan bahkan menghapus dosa kemudian muncul pandangan bahwa  yang paling banyak dosanya adalah  para pangeran dan bangsawan karena  mereka pernah membunuh, korupsi dll.  Maka wajarlah para pangeran dan bangsawan berbondong-bondong  kesana. Kita bisa membayangkan  kalau seorng pangeran membawa  limapuluh orang prajurit, maka kalau ada 5 atau enam pangeran maka itu akan menjadi rombongan yang besar, inilah yang membuat penguasa Takut, sehingga kemudaian penguasa   Turki Seljuk  melarang  peziarahan ke tanah suci.

Larangan itu menimbulkan beberapa reaksi. Pada tahun 1064 uskup Gunther bamberg   menyikapi  diserangnya  7000 peziarah dalam expiditio  inter in terram sacrum ( perjalanan ke tanah suci ) Sn Nru awvFu Nnerue  maka ia akan mendapat indugensi penuh.

Pada zaman Urbanus II  sengketa tanah suci itu beranjut . pada tanggal 27 November 1095 paa akhir sinode clermont   dia berpidato untu  memaklumkan perang suci, sacrum bellum untuk para peziarah di tanah suci. Maka terjadilah penindasan di gereja wilayah Timur. Pada saat itu Turki menghancurkan tempat suci  dan Antiochia diduduki.  Kekacauan bertambah  karena tempat ziarah diresahkan  dengan perampokan, pencemaran dan penghinaan.  Oleh karena itu Urbanus II  mengajak segenap orang Kristen  membela hak-hak  gereja. Ia menjanjikan indulgensi kepada semua  orang kristiani (raja, bangsawan , prajurit dan rakyat ) aga rela pergi ke Yerusalem dengan  dijanjikan  pengampunan atas dosa.

Mgr Adhema Le Puy punya cara tersendiri  dalam menggembleng orang-orang yang mau dikirim ke tanah suci ia mengambil salib, kain putih  dipotong-potong-potong dan diletakkan di pundak.

Urbanus juga menulis surat kepada orang –ora falmish, bologna dan Biara Vallombrosa dan ada upaya untuk membantu Gereja Timur.

Beberapa gelombang  pasukan dikirim ke tanah suci.  Gelombang pertama upaya pembebasan  itu gagal karena yang dikirim kebanyak petani dan kurang disiplin. Kemudian pada tahun 1099 dikirimlah 20 sampai 30 ribu ksatira Jerman ke palestina dan Jerusalem berhasil direbut. Tetapi kendati begitu ada banjir darah, pembunuhan, perampokan tetapi juga ada  penitensi dan karya sosial. Pada pertempuran berikutnya antara tahun 1147-1149 keberhasilan kembali diraih. Tetapi pada 1187 Yerusalem berhasil direbut kembali oleh pihak Islam. Pada perang ke 3 antara tahun 1189 – 1192 kaisar Barbarrosa tewas dan Turki berhasil dikalahkan. Kemudian terjadi gencatan senjata antara Sulatan Salahudin dengan Rikhard Hatisinga.

Belajar dari peperangan, maka para peziarah dipersenjatai. Juga terjadi perluasan kekaisaran Barat. Kemudian didirikanlah  Hierarki Gereja latin di bawah Yerusalem. Antiochia, Iskandaria yang mengakibatkan kekacauan. Maka ada upaya untuk membantu gereja Timur.

Pada perang membebaskan Palestina itu, di dalam gereja sendiri mengalami degradasi dan gereja tak menyadari ada pimpinan Roh Kudus di dalam gereja. Gereja pada masa itu menerapkan apa yang disebut sebagai teologi pahala dan juga berkembang teologi nominalis dimana semua pelayuanan dihitung atau dikalkulasi dalam bentuk uang. Hal-hal inilah  yang menimbulkan gerakan radikal di dalam gereja. Semua  terjadi karena ada skandal dalam gereja yang mengagungkan para gembala ( sebetulnya hal ini tidak salah ) baik dalam hal pengajaran maupun sikapnya. Akibatnya   institusi gereja  cenderung menjadi kaku  dan kurang memperhatikan dinamika roh Kudus dan Rahmat.

Institusi gereja dianggap telah mengaburkan rahmat keselamtan Allah yang Cuma-Cuma dan iman yang murni yang diberikan dalam  Kitab Suci. Gereja Kristus yang benar tidak dapat diidentifikasikan dengan institusi manusia yang tidak sempurna.

Yang paling keras  menyuarakan pembaruan dalam gereja adalah Martin Luther, dan sebetulnya Luther tak pernah mendirikan gereja tapi murid-muridnya. Menurut Luther gereja merupakan keseluruhan orang-orang beriman: mereka menghidupi iman mereka dalam rahmat keselamatan Allah yang diberikan oleh Yesus Kristus dan disampaikan oleh  Roh Kudus, hal itu ditandai eklesiologi yang ditandai dengan sifat apologetik, Yuridis dan spekulatif. Sayangnya Gerakan Luther yang sebetulnya tidak ingin membentuk gereja di luar Gereja yang  Katolik ditanggapi dengan pemisahan yang tegas antara Katholik dan para penentangnya yang mendorong para pengikut Luther membentuk gereja baru yang kita sebut protestanisme.

Berkembangnya  Protestanisme dan praktek gereja yang tidak mau dituntun oleh
Roh Kudus   menantang  para Paus di kemudian hari  untuk mengadakan pembaharuan pembaharuan di dalam gereja.  Adrian VI (1522-1523) ingin melakukan perbaikan  gereja untuk memperbaiki praktek gereja yang tidak mengikuti tuntunan Roh Kudus dan menolak ketaatan tanpa syarat. Oleh karenanya ia merekomendasikan kepada para utusannya untuk mengakui kesalahan gereja mulai dari kesalah tahta suci di masa lalu.

Kemudian muncullah Paus Bellarminus. Ia dengan tegas menyatakan bahwa  hanya ada 1 gereja dan bukan dua. Satu-satunya gereja yang benar adalah persekutuan orang-orang yang dipersatukan oleh   pengakuan iman kristiani yang sama dalam communio sakramen-sakramen, di bawah penggembalaan para imam yang syah dan kususnya  di  bawah satu-satunya wakil Kristus di muka bumi ini yakni Paus.

Menurut Romo Francis, Tekanan pada keanggotaan gereja yang kelihatan berakibat kepada pembedaan dalam gereja  antara”tubuhny” yang kelihatan, yang berisi “notes ecclesial: satu, Kudus, katolik dan Apostolik.  Yang dapat menjadi ukuran  gereja yang sebenarnya dan rahmat yang menjiwai gereja. Bellarminus memberi spesifikasi  apa yang dimaksud  keanggotaan gereja ciri-ciri gereja , infabilitas gereja (gereja yang karena tuntunan Roh Kudus tak dapat sesat), hirarki ( uskup dan posisi primat  Paus ).

Selain Bellarminus, ada satu lagi pembaharu gereja di abad lalu yakni seorang  teolog dari perancis yakni Yves Congar.

Menurut  Congar, refleksi tentan Allah adalah Allah yang hadir berbentuk yang dikisahkan dalam Injil. Jadi Allah yang menyejarah adalah Allah sebagaimana dikisahkan dalam Injil dan peran pokok dari Kristus dalam  sejarah keselamatan. Gereja sebagai totalitas  organisme yang hidup, dinamis dan aktif. Gereja yang demikian akan menyadari kehadiran Roh Kudus  karena Roh Kudus adalah Jiwa Gereja, dari Dialah mengalir seluruh hidup. Gereja adalah hasil yang tampak dari kekuatan batiniah, tubuh dari Roh yang menciptakan dirinya sendiri. Individu sebagai bagaian dari keseluruhan organisme, bedasarkan Allah tidak akan mengenal Allah kecuali dalam keseluruhan.


Menurut Congar, Roha adalah motor batin dari perekmbangan perluasannya. Dengan demikian Roh Kudus menjadi karunia. Kalau sumbernya Roh Kudus dalam kita berkomunitas pasti ukurannya membangun komunitas atau tidak, kalau tujuannya baik, tapi menimbulkan  perpecahan maka itu bukan roh Kudus, karena kalau karnuia itu dari Roh Kudus pasti akan membangun Komunitas bukan sebaliknya.

Sabtu, 08 Oktober 2016

PESAN PAUS AGAR KIT MENJADI MURID YANG MISIONER

Apakah  yang dimaksudkan oleh  Paus sebagai murid yang misioner ?> yaitu murid yang selalu berelasi dengan Allah dan kemudian mewartakan dan jangan dibalik, orang yang tak pernah berelasi dengan Allah tak mungkin bisa mewartakan Allah.  Pergi untuk mewartakan ke ujung dunia adalah Amanat  Yesus Kristus kepada para rasul untuk pergi ke ujung dunia (kis.1:8)

Ada beberapa dokumen yang menghendaki agar kita menjadi  murid-murid yang misioner
1.    Dalam keutamaan sakramen baptis yang diterima, setiap anggota umat allah ditobatkan menjadi muri-murid yang berjiwa misionaris ( lih. Mat 28:19). Setiap orang yang telah dibabptis, apapun perannya dalam gereja dan sedalam apapun derajat imannya, adalah seorang agen pewarta kabar Gembira (EG.120).

2.    Yang hendak saya anjurkan ( Paus Fransiskus, pen) dengan sangat adalah sesuatu yang semakin  sejalan dengan garis pertimbangan Injili. Yang dimaksdukan adalah cara seorang murid yang misioner, suatu pendekatan yang menggali sumbernya dari terang dan kekuatan Roh Kudus, serta senantiasa berada dalam pemeliharaan-Nya (EG 50).

3.    Gereja pada dirinya sendiri adalah seorang murid yang misioner (EG 40 )

4.    Murid misoner menyuadari bahwa pengertiannya mengenai Injil serta kemampuanya untuk mempertimbangkan jalan jalan  Roh Kudus juga harus tumbuh , dan dengan demikian ia melakukan   kebaikan sebisanya, bahkan jika dalam prosesnya, sepatunya terkena lumpur jalanan (EG.45).

Murid yang misioner harus keluar dari zona nyaman, keluar untuk menjemput tantangan.  Di Alkitab, kisah gerak keluar  seperti yang diinginkan Paus kita jumapai dalam panggilan Abraham (Kej 12:1-3), Musa ( Kel. 3:10) sampai dengan nabi Yeremias ( Yer 1:7). Dalam kisah Itu Allah memerintahkan untuk meninggal zona nyaman untuk menempuh zona baru yang penuh tantangan.

Dasar panggilan Yesus kepada para murdi  tak lain karena hakekat, sang  Sabda yang adalah juga utusan Allah  “ marilah kita pergi ke kota-kota yang berdekatan supaya  Aku  memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang (mrk 1:38).

Menurut paus hakekat Gereja sebagai murid misoner tak berhenti dengan naiknya Yesus ke surga.  Sebelumnya Yesus  telah menjanjikan  bahwa akan ada penolong  yang akan membantu para murid untuk  melaksanakan tugas pewartaan mereka ( Yoh 16:7) janji itu menjadi nyata pada saat  Roh Kudus atas diri para Rasul dalam peristiwa Pentakosta ( Kis 2:1-13)

Jadi setiap orang yang t elah dibaptis menjadi anggota  Gereja katolik oleh karena imannya, ia dipanggil untuk mewartakan kabar  Gembira sekaligus  dipanggil  untuk menjadi murid  yang missione

Senin, 03 Oktober 2016

GERAKAN PEMBAHARUAN DARI DALAM GEREJA KATOLIK

Gereja Katolik pernah mengalami masa kelam dalam sejarah, ketika gereja tergoda untuk  berkuasa sebagaimana Kaisar/raja, Ketika para Paus  begitu mudah digantikan oleh Kaisar/Raja atau penguasa setempat.  Akibatnya gereja menjadi tidak otonom lagi,  kaisar atau bangsawan begitu mudah untuk mengangkat imam, bahkan kardinal sesuai keinginan raja yang bersangkutan, yang tidak jarang terjadi adalah kerabat dari raja yang bersangkutan. Itu terjadi di abad IX sampai sekitar abad ke XI. Situasi seperti ini tentu merupakan situasi yang tidak nyaman bagi  gereja. Untunglah muncul beberapa pembaharu dari dalam gereja. Salah satu pembaharu itu adalah Hildebrand Soana (Gregorius VII). Ia dilahirkan tahun 1020 di Toskania, Italia Tengah. Ia pernah belajar di Roma pada tahun 1046 ia menemani paus Gregorius VI di Cluny. Pada tahun 1049  ia dibawa ke Roma oleh paus Leo IX. Dan ia diangkat paus pada

Pembaharuan yang dibawanya tidak berdiri sendiri. Ketika gereja tergoda pada kekuasaan ada biara-biara yang tak mau ikut-ikutan  dan memilih pembaharuan dari dalam. Pada tahun 909 ada biara  dengan regula Benedectus langsung di bawah kepausan  Roma.  Pembaharuan biara yang tunduk kepada Roma dan membangun banyak biara di Eropa.

Di dalam biara Doa, Lection Divina, Liturgi, askese dan ketaatan kepada  Paus. Ada otonomi gereja dari Kaisar, tetapi Gereja Timur menolak karena bagi gereja Timur gereja dan neara adalah satu.  Hal terakhir ini pula yang  menjadi salah satu pemicu berpisahnya gereja Timur dari gereja  Katholik.

Salah satu pembaharuan yang dilakukan Gregorius  VII adalah melawan  simoni yakni adanya jabatan gereja karena suap, artinya Kaisar tertentu mengangkat   Paus atau  Kardinal atau Uskup  dengan imbalan perlindungan, sehingga muncullah Paus tandingan, atau penguasa yang seenaknya mengganti seorang uskup, salah satu akibatnya  hanya dalam waktu 24 tahun, gereja memiliki 5 orang Paus. Gregorius VII juga menganjurkan  selibat imam tujuan selibat antara lain  apa yang disebut investitura, dimana gereja dan biara dikuasai oleh bangsawan.

Sebetulnya keadaan sosial zaman itu sungguh memprihatinkan karna sampai zaman itu belum ada lembaga pendidikan kecuali yang diselenggarakan keuskupan, itupun hanya diperuntukkan untuk kelompok bangsawan. 

Pembaharuan yang dibawa Paus Gregorius VII terus berlanjut sampai abad ke XII. Pembaharuan di abad XII antara lain :

1.     Menyetujui  Kaisar boleh punya hak nominasi, tapi tetap harus ikut kanonik.
2.    Mengharuskan selibat Imam.
3.    Mengacu hukum gereja kuno ( dictatus papa)
4.    Melawan Korupsi – menentang Investitura awam ( bangsawan berhak  untuk nominasi pimpinan biara/uskup )
5.    Mengambil kembali kekuasaan gereja yang diambil bangsawan
6.    Paus berhak kembali mengundang konsili.


Nati akan terbukti bahwa pembaharuan  itu tak selamanya mulus.  Tapi itu menunjukkan bahwa gereja bukan  institusi yang statis tapi dinamis.

Minggu, 02 Oktober 2016

SEJARAH KELAM GEREJA DAN PEMBAHARUAN DALAM GEREJA

Akhir – akhir ini istilah radikal dan radiklisme sering dicampuradukkan. Padahal radikal dan radikalisme adalah  dua hal yang berbeda. Sesuatu ang radikal menurut akar katanya  adalah radiks, artinya  berpikir  atas mengikuti sesuatu sampai ke akar akarnya, jadi sampai pada hal yang prinsip dan sangat mendasar. Seorang Kristen radikal akan bersifat kritis, rasional terbuka dan kontekstual.

Radikalisme harus dibedakan dengan  pemahaman tertentu, yang biasanya merupakan kelompok tertutup dan tidak terbuka pada pihak lain. Makna radikal di sini bukanlah paham yang  seperti itu  tetapi merupakan bidang berpikir dan  bertindak. Sedangkan  pemahaman  tertentu yang saat ini kita kenal adalah sistem tertutup dan merupakan sisi negatif dan sikap radikal dan bersikap intoleran, fanatisme yang berlebihan, bersifat  eksklusif dan  radikalisme. sehingga  kita samapai pada makna bahwa radikalisme adalah gerakan radikal, revolusioner dan merusak.

Dikaitkan dengan iman kristiani, sikap radikal  ada positif negatifnya. Radikal yang positi akan mengarahkan iman kepada sesuatu yang kontekstual, seorang katolik yang radikal akan beriman sesuai konteks, artinya ia beriman katolik dalam budaya tertentu dan di tempat atau komunitas tertentu ( dan dia bukan orang Katolik di surga bukan ? ).  Konteks itulah turut memberi warna  keberimannya orang katolik di Amerika misalnya dengan orang katolik di Indonesia, orang katolik di  Flores dengan orang Katolik di Muntilan walau sama-sama dalam wadah  Gereja Katolik yang satu, tetapi cara mereka mempraktekkan  kekatolikan tentu beda, begitu juga orang Katolik di abad 21 dengan Orang  Katolik di abad 15 tentu ada warna tersendiri.

Heretik dan Skisma

Dalam kaca mata negatif radikalisme dalam gereja melahirkan  dua gerakan yaitu Heretik dan Skisma.  Heretik menurut  Romo Francis Poerwanto SCY adalah  sebentuk kesomobong intelektual.  Seorang yang belajar Kitab suci  menganggap diri paling benar  dan menolak yang lain.  Heretik lebih mungkin menjangkiti orang terpelajar ketimbang awam. Dalam sejarah gereja ada  nama Pellagius seorang teolog atau  misalnya Arius yang menolak keilahian Yesus, mereka merasa lebih benar daripada magistarium.

Hal negatif kedua adalah skisma. Skisma berangkat dari ketidakcocokan mereka yang menganggap bahwa kelompoknya lah yang paling benar.  Mereka benar-benar punya komitmen diri dan tidak mau bergabung. Di dalam gereja katolik kelompok sempalan itu tidak banyak,  yang tidak banyak itu misalnya  kelompok  Tiberias. Contoh lain dari pandangan  yang menganggap paling benar ada pada Agnes, ketika kelompok ini memandang bahwa  kelompok mereka paling benar karena penampakan  bunda Maria kepada ibu Agnes.

Latar belakang skisma dalam gereja

Pernah suatu kali gereja punya kekuasaan yang beti besar dan menjadi rival kekuasaan negara atau Kaisar.  Maka pernah ada masanya gereja dikenal sebagai gereja imperium pada sekitar tahun 800 dan abad-abad berikutnya, ketika  Charles  Yang Agung naik tahta di kerajaan France.  Kekuasaannya sangat luas bahkan menjangkau Italia.  Supaya mendapatkan pengakuan ia dinobatkan  oleh Paus, dan  Paus memberikan mahkota  kepada Kaisar tetapi pada saat yang sama Paus tunduk kepada Kaisar.  Disini munculah cikal  bakal istilah gereja imperium.

Tetapi yang terjadi bukannya gereja menjadi independen terhadap negara  tetapi justru gereja ajur ajer  dengan kekaisaran. Kalau kekaisaran punya pangeran dan bangsawan maka gereja pun mempunya  Kardinal dan para Uskup. Pengaruh gereja imperium untuk zaman ini, menurut Romo Francis, adalah  gelar pangeran untuk para uskup, Mgr.   Yang jelas pada saat itu ada pembagian kekuasaan pada saat itu antara kekaisaran dan gereja. Kaisar  memengang kekuasaan politik, sementara Paus memiliki pengaru di bidang rohani. Ada kesatuan gereja dan Kaisar, sehingga muncullah budaya Kristen.

Budaya  Kristen semakin tampak di Eropa pada tahun 814,  atau ketika pada masa akhir kekuasaan  Karel yang agung.  Pada 9 itulah di Eropa banyak dibangun katedral- katedral megah.  Ekaristi dirayakan dengan prosesi besar. Liturgi dibuat megah dengan bahasa latin. Juga dibangunlah gereja-gereja besar, yang diikuti oleh munculnya biara-biara besar.

Pada masa ini tak dapat dipungkiri memunculkan zaman gereja yang radikal.  Zaman ini membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya banyak gereja dibangun begitu megah, perayaan liturgi dirayakan begitu agung, budaya Eropa lebih berwajah Kristiani. Negatifnya generasi berikutnya dari para kaisar tidak begitu akrab dengan pejabat  kekaisaran yang berakibat perbedaan sengit kepentingan antara gereja dan kekaisaran.  Akibat berikutnya yang cukup memprihatinkan adalah tahta  Roma diperebutkan antar bangsawan. Bayangkan saja  antara tahun 920-1046 atau selama 126 tahun gereja katolik memiliki 26 paus  padahal antara tahun 1838-1958 kita hanya memiliki 7 paus, yaitu terjadi  pembaharuan-pembaharuan  gereja  Katolik dengan melakukan perbaikan terhadap praktek-praktek negatif  yang dialami gereja.

Contoh praktek negatif  dalam gereja adalah pencampuradukan  gereja dan negara misalnya terjadi pada 1045  gereja  Katholik memiliki 3 orang Paus.  Yaitu Benedictus IX (1032-1055) yang kemudian diturunkan, kemudian  Silvester III ( 10 Januari  sampai 10 Maret 1045, kemudian Gregorius  VI (1045-1046).


Yang terjadi kemudian Kaisar menentukan uskup-uskup. Pada saati itu  uskup menguasai spiritual tanah. Pada saat itu uskup menguasai tanah yang luas tetapi menjadi ironi karena para uskup  yang juga menguasai tanah itu dikuasai raja.  Akibatnya  uskup kehilangan otonominya . Situasi gereja yang demikian  ini yang kemudian memunculkan pembaharuan dalam  gereja, salah satu pembaharu dalam gereja adalah Hildebrand Soana atau Gregorius VII.

Kamis, 29 September 2016

BERIMAN DENGAN RADIKAL SEPERTI YESUS   (  bagian 2 )

Yesus dalam kitab suci sering digambarkan sebagai tokoh yang sering melakukan kritik sosial,  baik terhadap orang-orang Yahudi  yang menindas  sesamanya,  penguasa Romawi yang tidak adil. Apa yang dilakukan Yesus, mirip dengan beberapa  nabi Perjanjian lama yang  berkata keras terhadap  kelompok kaya yang menindas.

Misal dalam Yeremias bab 7, Yeremias mengkritik para pemimpin agama.  Para pemimpin agama  selalu pergi ke bait Allah, tetapi mereka tidak  meningalkan kebiasaan buruk,  sehingga mereka sering ke bait Allah  dan melakukan persembahan dan korban,tetapi di luar bait Allah, mereka mencuri dan berzinah.

Yesus memperlakukan mirip yang dilakukan Yeremias. Yesus juga sering mengajar kaum Herodian  yang terkenal sebagai kelompok kaya di zaman Yesus di tengah-tengah kemiskinan.

Beberapa tindakan  Yesus dalam situasi sosio-politis jaman  itu  yang dianggap selesai tindakan politik dan provokator.

1.     Mewartakan kedatangan kerajaan Allah dari Nazareth, Yesus datang  ke gurun Yudea untuk  bertemu Yohanes Pembabptis. Yesus bergabung dengan gerakan  Yohanes pembaptis  yang berseru:”Bertobatlah ! kerajaan surga sudah dekat.” juga dalam doa yang diajarkan kepada para murid, Yesus juga  juga memohon  kedatangan kerajaan surga itu “datanglah kerajaanMu! Dalam Mateus 6:33 ia juga minta kepada para murid untuk lebih dahulu mencari kerajaan Allah. Dalam teks tersebut Yesus tidak  menarik garis apakah yang dimaksud kerajaan Allah adalah sebuah kerajaan yang memah secara riil  dibangun kembali  oleh Allah diantara umatNya ataukah sebuah situasi religius dimana allah memulihkan kembali kesatuaNya dengn umat dan  menjamin keselamatan  bagi umatNya.

Yesus dicurigai penguasa, karena walau kerajaan Allah itu ekskatalogis sifatnya, tapi cita-cita itu mirip impian para pejuang Galilea yang juga mengharapkan pemulihan kerajaan Israel, bagi mereka Allahlah satu-satunya Allah Israel.

Yohanes adalah pendahulu Yesus yang sebetulnya tidak anti imam, walaupun pengunduran  diri ke padang gurun dan jauh dari hirup pikuk  peribadatan Yerusalem, pantas dicurigai sebagai penolakan  terhadap kelompok imam, padahal Yohanes pembaptis sesungguhnya adalah kelompok Esseni, atau kelompok Imam. Dan kelompok Imam dan kelompok aristokrat atau bangsawan  dianggap satu kelas dan menguasai  rumah ibadah Yerusalem, yang juga merupakan  simbol kekuasaan. Itulah  yang mendorong kecurigaan  para imam di Yerusalem sehingga dikrimlah utusan kepada  Yohanes  Pembabtis  untuk menyelidiki sekaligus  menyelidik Yohanes apakah dia Mesias yang dijawab oleh Yohanes Pembaptis bahwa ia bukanlah Mesias, salah seoran rabi ataupun Elia. Ia hanyalah  suara yang b erseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan Tuhan. Ia menyerukan kedatangan kerajaan Allah tanpa melibatkan diri dalam perjuangan – perjuangan politis dan militer yang sudah muncul di zamannya.

Yesus pun, seperti  Yohanes  pembaptis  yang tidak melakukan  perjuangan seperti para pejuang Galelea. Dan kerajaan Allah yang ingin ditegakkan  bukan dengan menggunakan kekuatan perang melawan penjajah ?  yang dilakukan Yesus adalah  dengan mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan. Tetapi toh karna Yesus seorang menarik  masa, tetap saja pemimpin Yahudi dan  Romawi selalu mencurigai gerak-geriknya.

2.    Karena Dia Mesias

Orang Kristen begitu akrab dengan  gelar Yesus sebagai Mesias yang menyatu dalam diri Yesus. Tidak sulit mencari  makna Mesias dalam perjanjian Baru  yang adalah merupakan sosok  raja spiritual dalam diri Yesus yang memulihkan tidak hanya kerajaan bagi  Israel  tetapi juga keselamatan dunia dan manusia. Sementara dalam pemahaman  Yahudi, Mesias pertama-tama dimengerti  sebagai sosok raja politis  yang datang untuk memulihkan kembali  kerajaan bagi Israel.  Jadi tugas nyata yang dihadapi  oleh siapapun yang mengaku sebagai Mesias pada zaman yesus adalah membebaskan Israel dari kuasa penjajah Romawi. Sebagaimana  dikatakan  di atas. Jadi Mesias dalam pandangan Yahudi sarat dengan makna politis. Dalam budaya Jawa kita mengenal konsep ratu adil.

Nah karena sarat makna politis itu  pulalah yang dinyatkan oleh orang-orang yahudi ketika membawa yesus ke hadapan pilatus. Maka bertubi-tubi tuduhan dituduhkan pada Yesus  seperti misalnya Yesus dituduh sebagai penjahat ( Yoh 8:30), Orang yang menyesatkan bangsa, melarang membayar pajak kepada Kaisar, menyatakan diri sebagai Kristus, yaitu Raja ( Luk 23:2). Titulus atau keterangan  yang dipasang oleh Pontius Pilatus di atas kepala yesus di atas salib perlu dibaca dalam konteks sosio –politis zaman itu. Titulus di atas kepala orang yang disalib selalu menunjukkan alasan penyaliban. Seperti kita ketahui Titulus itu ditulis oleh Pilatus “Raja  orang nazareth Raja orang  Yahudi. Pilatus menolak protes orang-orang  Yahudi  atas tulisan di atas  di atas kepala Yesus  karena bagi Pilatus ysus sama dengan orang-orang yang sudah dibunuh dan disalibkannya, yakni mereka yang menyatakan diri sebagai Mesias, raja orang yaghudi, yang ingin bebas dari  Romawi

3.    Care kepada orang Miskin
Masyarakat Galilea di jaman Yesus  terbelah menjadi dua yakni orang kaya dan orang miskin.. Kesamaan yesus dan para pejuang itu, bahwa orang-orang miskin selalu ada di sekitar mereka. Nah di tengah kemapanan  kaum Aristokrat  pemerintahan Herodes Agripa di  Sephoria jua Tiberias, orang miskin juga terkonsentrasi  di situ. Nah para pejuang itulah harapan orang miskin dan kepada mereka, mereka  melakukan protes  terhadapa  bangsa yahudi kaya dan bangsawan yang menindas dan tentu saja pemerintahan Romawi. Maka tidak sedikit orang miskin bergabung dengan perlawanan mereka di Galilea. Kemiskinan yang sungguh-sungguh miskin secara materi itulah juga orang-orang di sekitar yesus, bukan sekedar kemiskinan rohani seperti dimengerti oleh orang-orang Kristen.
4.    Memasuki Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah.

Puncak tindakan provokatif  Yesus adalah ketika ia memasuki Yerusalem. Meski  gesekan Yesus adalah gerakan religius, Tetapi karena memasuki Yerusalem, yang idak sekedar  pusat religius Israel, tetapi juga pusat politis. Maka benturan-benturan  politis mejadi tak terelakkan antara Yesus dan para pemimpin Yahudi dan penjajah Romawi yang selalu curiga  terhadap gerakan perlawanan. Ketika masuk Yerusalem itulah para fans  Yesus  bersimpat kepadanya  dan ia disambut sebagai seorang raja. Jadi cara ia disambut  dan reaksi orang-orang yang menyambut akan ditangkap sebagai gerakan politik Oleh kuasa  agama Yahudi dan pemerintah Romawi  dan ada aroma ketakutan dalam diri mereka.

Lebih tak dapat diterima lagi oleh orang  Yahudi adalah ketika  Yesus memasuki bait Allah yang merupakan markas besar para pemimpin Yahudi ( Sanhedrin). Ketegasan Yesus membersihkan  bait Allah: mengusir para pedagang, menjungkirbalikkan meja krusi para penukar uang.  Markus meulis (Mrk 11:17)   Tindakan keras Yesus didasari oleh rasa cinta yang begitu besar terhadap bait Allah, rumah doa yang sekarang sudah dijadikan sarang penyamun.

Para pemimpin Yahudi yang mendengar kata  Yesus, sangat paham dengan ayat kitab suci yang dikutup Yesus yakni Yeremias 7:11, yang dimaksud  sebagai penyamun  bukan hanya  mereka yang berjualan dan menjadi penukar uang, tetapi terutama para pemimpin Yahudi yang membiarkan para pedagang dan penukar uang itu berjualan di sana.  Mereka tidak akan bisa berjualan di lingkungan bait Allah ( wilayah yang disebut sebagai halaman   untuk orang kafir, tanpa ijin dari yang berwenang, jadi kasarnya para penjual  telah menyuap para pemimpin bait Allah. Sikap tegas terhadap kuasa agama akan cepat panggung politik.

Penampilan Yesus di bait Allah itu mengundang resiko berat, karena bait Allah adalah pusat religius Yahudi yang diyakini sebagai tempat kehadiran Allah. Yesus  pertama-tama mengkritik  pemimpin Yahudi  bukan penguasa Romawi. (Imam dan ahli Taurat)  yang menjadi perpanjangan  tangan penjajah. Pada akhirnya, Yesus dibawa kepada  politik, adalah tanda bahwa ia melakukan geraka  politis. Orang-orang  menjadi sangat paham bahwa gerakan yesus adalah gerakan politis. Diantara  orang- orang Galilea yang mebnghendaki pemulihan kerajaan Israel. Tangan Pontius politis sungguh sangat berdarah, dari tangannya para pejuang telah menerima hukuman
AGAMA TIDAK PERNAH MEMPRODUKSI RADIKALISME

Banyak kekerasan mengatasnamakan agama. Ada yang menafsif agama dengan tafsir pribadi, dan menganjukan untuk menghalalkan menghilangkan mereka yang tak sepaham.  Ada agama tertentu, itu bisa Islam atau Kristen, memproduksi pelaku teror misal Al Qaida atau IRA  untuk kalangan Kristen, bahkan orang  Kristen punya sejarah kelam dengan perang salib. Menajadi permenungan apakah  agama bisa memproduksi kekerasan kalau agama itu bertujuan untuk  menciptakan cinta damai.

Agama sejatinya punya peranan penting  dalam diri seseorang. Dr Haryatmoko Pr, menyatakan bahwa  bahwa  agama merupakan imajiner Sosial  yang memperteguh motivasi. Fungsi agama  dalam diri seseorang adalah  untuk memberi identitas, dan memiliki acuan pada tujuan terakhir.

Orang yang beragama memiliki  intentionalitas yang sadar, sehingga memungkinkan diri secara sadar memperlakukan diri, sehigga diri sebagai subyek  bisa memformulasi obyek  sehingga subyek bisa menangkap obyek.

Agama menjadi sekedar alat kepentingan jika ia diikuti oleh demagog. Demagog selalu mengaitkan  kasus dan  traumatisasi. Demagog, kata Haryatmoko, di tengah orang miskin di samping gudang makanan yang belum didistribusikan akan berteriak:” lihat saudara-saudara, kita ini miskin bukan  karena kita ini miskin, tetapi  kita miskin karena  ada orang yang menyimpan makanan begitu banyak>” demikianlah, romo Haryatmoko mengamsalkan, padahal makanan itu tidak disimpan permanen, tapi memang belum dibagikan saja.

Mengapa Demagog gagasannya laku, karena demagog menyadari kekuatan r etorika imajiner. Mereka mampu mengubah kegelisahan  kolektif menjadi  perasaan takut  terhadap musuh bersama.  Kaum demagog sangat sadar ini sehingga ia begitu mudah menggosok ingatan kolektif masa.

Romo  Haryatmoko juga mengingatkan bahwa traumatisme  ditandai dengan upaya menyalurkan  kegelisahan ke musuh. Kebencian menumbuhkan hasrat  menghancurkan  semua penghalang imajener baru sehingga perasaan berkuasa diperbesar.  Menurut Haryatmoko, apa yang dimaksud proses imajiner adalah proses mental dalam melihat orang lain. Demagog atau penganjur tindak teror terus menggosok pengikutnya untuk kemurnian identitas. Dalam keadaan ini simbolisme agama digunakan untuk meneguhkan tekad, mempertajam permusuhan dan memistiskan motif.

Dr  Haryatmoko, mengajak kita untuk membedakan apa yang dimaksud imajiner,  imajinatif dan terorisme. Sesuatu  yang imajiner  adalah suatu rekaan fiksi yang berusaha mengeliminasi yang mengancam.  Ini berbeda yang imajinatif yang punya makna positif yaitu berkaitan  dengan kreatifitas. Sementara terorisme adalah suatu nihilisme. Penghilangan sesuatu yang bertentangan dengannya sama  artinya dengan matinya kebebasan.


Disinilah kemudian muncul kekerasan simbolis, sesuatu yang benar karena terus diplilntir kemudian bisa salah. Pergi ke luar  rumah sebetulnya bisa saja positif untuk  mengembangkan diri, tetapi ketika ada kecurigaan yang  diulangi terus menerus, sehingga akhirnya ke luar rumah menjadi sesuatu yang salah. Kekerasa simbolis  adalah pintu masuk kekerasan simbolis adalah pintu masuk kekerasan psikologi. Seorang bapak yang merasa disindir cukup mengatakan, “ coba katakan sekali lagi.” Dengan nada yang agak keras.  Yang akan  menciutkan keberanian  seorang istri, yang mau tidak mau menyetujui seorang suami.. 

Jumat, 23 September 2016

APAKAH YESUS SEORANG RADIKAL ?

Ketika orang mendengar kata Teroris reaksinya hampir sama : Teror, kejam, tidak berperikemanusiaan, anti Kristen.  Lalu orang pun mencapnya sebagai seorang radikal.  Lalu apa sih makna radikal itu sesungguhnya. Lalu sampailah kita pada tokoh  yang kita ikuti, Yesus. Ia pun terkenal sebagai tokoh yang keras, tanpa kompromi, anti kemapanan, berani melawan kekuasaan, penganjur nilai-nilai kemanusiaan. Nah,  apakah kualitas karakter kepribadian yang seperti itu hanya dimiliki  seorang yang radikal.

Kalau  Teroris sebagai  kelompok radikal dan Yesus juga dicap seorang radikal, tentu ada bedanya antara keduanya. Karna  buahnya memang berbeda.  Setidaknya perlu dibedakan antara sikap radikal dan radikalisme sebagai isme. Yesus jelas tidak sedang memperjuangkan sebuah isme, kalau ada paham yang sedang diperjuangkan Yesus adalah tegaknya kerajaan Allah.  Tulisan ini membatasi diri pada pandangan bahwa mengapa Yesus kok dianggap seorang radikal.

Kata radikal marak sejak abad 18 yaitu dikaitkan dengan gerakan politik yang  menghendak perubahan revolusioner dan mendasar.  Tetapi istilah radikal sendiri sebetulnya bukanlah monopoliti dunia politik.  Menurut kamus bahasa Indonesia  kata radikal 1. Secara mendasar         ( sampai kehal-hal   yang mendasar ) 2.  Amat keras menuntut Perubahan; 3. Maju dalam berpikir dan bertindak.  Kata radikal berasal dari bahasa  Latin  yang berarti mendasar atau root dalam bahasa Inggris.

Dari makna tersebut, jelas apa yang dilakukan oleh Yesus punya makna radikal. Yesus tidak memperjuangkan kerajaan Allah setengah-setengah tapi total dan radikal.  Yesus pernah mengatakan, kalau imanmu tidak sebesar orang-orang Farisi maka kamu tidak akan naik ke surga. Yang dekat dengan istilah ini adalah fanatik , artinya rohani yang maknanya disempitkan bahwa seorang yang fanatik adalah orang yang tidak  bisa  menerima pendapat orang lain. Dalam Efesus 33:17 dikatakan”..sehingga oleh imanmu Kristu diam di dalam hatimu dan  kamu berakar serta berdasar di dalam kasih...”  Santo  Paulus juga berkata, hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah  hatimu melimpah dengan syukur, Dari penggalan ayat – ayat itu jelas bahwa kalau kita mau mengikuti Yesus kita harus menjadi seorang yang  radikal.

Tentu saja yang diperjuangkan Yesus bukanlah radikalisme sempit, yang tertutup dan tak bisa menerima  pandangan orang lain, atau enggan berdialog dengan orang lain. Yesus juga bukan seorang tokoh politik yang berjuang secara politik, walau ajaran yang dibawakannya punya imbas politik.  Yesus juga menolak untuk dijadikan mesias politik oleh kaum Zelot,  bahkan beberapa muridnya sebelumnya juga punya pandangan kaum Zelot. Yang diperjuangkan Yesus jauh lebih itu. Jadi menjadi debatable juga apakah Yesus itu seorang radikal atau seorang moderat. Saya hanya mengajak untuk melihat Yesus secara utuh. Bukan Yesus menurut saya tetapi Yesus menurut Perjanjian Baru.

Secara  teologis biblis, menurut  Dr. St. Eko Riyadi, Pr  Yesus bukanlah seorang radikal  yang bergerak dalam bentuk – bentuk kekerasan untuk mencapai tujuanNya. Namun demikian, kematian Yesus di kayu salib tidak bisa dibaca  tanpa mempergunakan kaca mata  orang zaman  Yesus  dalam memahami hukuman  salib yang sebetulnya merupakan sebuah hukuman politis  yang biasa diterapkan pemerintah Romawi  bagi para pejuang yang melawan  dan membahayakan kekuasaan Romawi.  Menurut Romo Eko  Riyadi, Gerakan Yesus memiliki dimensi sosio-politis  yang pasti tidak lepas begitu saja dari pengawasan penguasa Roma yang waktu itu menguasai wilayah Palestina.

Pada sisi lain, kehadiran  Yesus ( baca bukan Yesus dalam Perjanjian Baru )  bisa dilihat dari sisi sosial Poliltik pada zamannya karena tindakan yesus pun  punya efek atau implikasi  politis yang menghadapkan Dia  pada benturan  baik dengan penguasa  Yahudi maupun penguasa Romasi.

Yesus dalam situasi sosio politik Yahudi  Romawi.

Yesus hidup  pada zaman ketika Israel secara politis dijajah romawi sejak 63 SM, pada saat itu Pompeyus  berhasil menaklukkan Plestina.  Injil Lukas mengatakan Yesus lahir ketika Kirenius menjadi wali negeri Siria.  Penguasa Yudea saat Yesus lahir adalah Herodes Agung, yang sebetulnya adalah antek atau kaki tangan Roma atau Palestina. Hadirnya Romawi membawa berkah bagi bangsawan atau kaum Aristokrat  yaitu kelompok imam dan  kelompok atas. Terutama yang ada di perkotaan. Dan ketika Romawi berkuasa, ada perpindahan dari kampung ke perkotaan. Ada ketegangan antara orang Yahudi dan orang  Romawi.  Romawi membangun fasilitas umum seperti jalan dan jembatan dan itu tentu membutuhkan biaya.Penguasa Romawi kadang mengambil kekayaan Palestina ( termasuk harta persembahan di Bait Allah ) dan juga kekayaan rakyat untuk membiayai proyek-proyek besar mereka.  Tak dapata terhindarkan juga korupsi para gubernur Romawi di palestina dengan memanfatkan jabatan tinggi  untuk memperkaya diri  dan sebagai batu loncatan untuk meraih jabatan yang lebih bergengsi.

Dalam situasi tertekan ini, tak jarang muncul gerakan melawan Romawi dan mereka  menamai diri sebagai  mesias  dan  menganggap diri bahwa gerakan mereka seirama dengan gagasan apoklaiptik  tentang kerajaan baru  yang akan dipulihkan oleh Allah.  Mereka menyebut diri pembuka zaman baru. Menghadapi mereka, penguasa Romawi sangat tegas.  Terhadap kelompok ini Orang romawi memastikan bahwa diantara mereka tidak ada yang selamat.

Sementara itu penguasaan  Romawi atas  Plesltina menumbuhsuburkan dambaan apokaliptik akan pengadilan Allah yang akan segera tiba. Beberapa orang menganggap diri sebagai pembawa pesan, tapi  karna ada unsur politis dan militerlah, yang menyebabkan  Romawi bertindak tegas. Untuk memberi dasar religius pada  gerakan ini yang memikat rakyat  mereka membungkus gerakan dengan dengan semangat religius yakni kecintaan  pada Allah dan pada tanah nenek moyang.  Yang terkenal adalah Theudas yang memiliki empat ratus murid yang akhirnya dipenggal kepalanya oleh  Romawi kemudina muncul juga si Mesir yang juga akhirnya ditindas oleh   Romawi. Di Zaman  Yesus,  Athroges menyatakan diri sebagai raja  orang Yahudi dan dihancurkan oleh Roma.  Kemudian ada juga : “Sisamaria”  yang juga disalibkan Pilaltus meskipun tidak melakukan perlawanan militer terhadap  Roma. Di luar mereka masih ada tokoh seperti Hezekiah yang terkenal sebagai bandit Galilea, Simon dari Perea, Yudas dari Galilea, Simon anak yora, Simon bar Kokba.  Mereka adalah figur-figur mesianisk yang dibasmi Penguasa  Romawi.

Galilea sendiri yang menjadi wilayah dimana  Yesus tinggal, adalah lahan subur  bagi muncul sebagai gerakan  yang mengaku sebagai mesias dan melakukan gerakan  perlawanan terhadap romawi. Tidak hanya terhadap penguasa  Romawi, mereka juga melawan para Aristokrat  Yahudi yang menjadi antek Romawi. Di sekitar mereka banyak orang miskin  yang tersisish dari kehidupan sosial  yang membangkitkan perlawanan terhadap  Romawi.  Orang Romawi menamai mereka lestes atau bandit.  Kelompok bandit  inilah yang akan menjadi kekuatn utama kaum zelot dalam melawan pemerintah  Romawi.

Mesias dan pemulihan kerajaan Apokaliptik

Kaum zelot dan  beberapa orang yang menampilkan diri sebagai pembawa keailan Allah yang tampil untuk mengawali pemulihan kerajaan Allah di dunia ( bedakan dengan Kerajaan AllahNya Yesus, yakni kerajaan Allah di surga). Banyak kaum zelot yang mengau sebagi mesis. Dalam pemahaman umum, seorang   Mesias  adalah dia yang diurapi  dengan minyak  yang diyakini seagai keluarga Daud  sehingga tugas utamanya membangun  kembali israel dan memulihkan kerajaan Daud.  Menyatakan diri sebagai Mesias  pada masa itu sama artinya dengan menantang Romawi untuk berperang karena Mesias adalah raja Israel. Menjadi Mesias berarti menjadi raja israel yang harus berlawanan dengan penguasa Romawi. Hreodes Agung pada masa awal pemerintahannya membasmi kelompok  bandit di Galilea  ini dan membunuh Hezekiah yang menjadi pemimpinnya.

Tindakan keras  roma terhadap pemimpin perjuangan, menandakan betapa sensitifnya keberadaan  pasukan perlawanan.

Oleh karenanya, walau gerakan Yesus tidak bertujuan untuk menegakkan kerajaan di dunia ini ( seperti jawaban Yesus di hadapan Pilatus ketika  Yesus diadili.  Toh gerakan Yesus tak luput dari pengawasan Romawi, apalagi kalau gerakannya menarik minat banyak orang  (terutama dari kelompok miskin ) untuk mengikutinya.  Yesus orang Galilea  dan ciri Galilea yang miskin dan pensuplai banyak pejung, turut mewarnai gerakan Yesus.  Di sekitarnya muncul orang miskin, orang terbuang, orang sakit. Yesus mewartakan datangnya kerajaan Allah  ( Balileia tou Theou). Dalam dunia Yunani – Romawi basilea merupakan  sebuah gambaran  imanatif  yang digunakan oleh orang tertindas dalam perlawanan mereka terhadap  Romawi.

Yesus sendiri menyadari bahwa diantara para pengikutnya mungkin saja ada yang salah menafsirkan gerakannya. Dari kerumunan yang sering mengikutinya ada yang tertarik karena gerakan politik.  Benar Yesus disalibkan, apalagi ia disalibkan bersama yang oleh orang orang Romawi dianggap sebagai bandit, karena perlawanannya.  Tetapi alasan Yesus disalib bukan karena ia telah melakukan perlawanan terhadap  Roma, tapi karena ia dianggap telah mengaku sebagai raja Yahudi.


Gerakan Yesus berakar pada gerakan pertobatan  yang diserukan oleh Yohanes Pembabtis. Orang perlu bertobat  di hadapan kerajaan Allah  yang semakin mendekat. Pertobatan ditandai  dengan pembaptisan oleh Yohanes di sungai Yordan. Yesus yang masuk  gerakan itu, memilih untuk  meninggalkan padang gurun Yudesa ketika Yohanes dipenjarakan oleh Herodes Agripa.  Kemudian ia mengajar , mengusir setan, menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan cara itulah Ia menghadirkan kerajaan Allah.