Senin, 29 Agustus 2016

Kesaksian Perjanjian Baru : NERAKA ITU SUNGGUH ADA .

Peranah di suatu negara orang ditabukan untuk berbicara tentang Neraka karena dianggap mengganggu mental dan membuat orang pesimis. Tetapi agama-agama meyakini bahwa neraka itu sungguh ada, terutama orang  Kristen dan orang  Islam. Tetapi sebetulnya Tuhan tak ingin manusia itu menghuni neraka. CS Lewis mengatakan  ketika orang menolak kehendak Allah ( dan inilah makna esensial  dari dosa  karena manusia menolak Tuhan, maka neraka adalah konsekewensi  sebagai akibat pilihannya sendiri. Ketika orang menolak kehendak Bapa, maka kehendaknyalah yang terlaksana. Jadi pilihan itu adalah pilihannya sendiri.

Lalu apa kata alkitab tentang neraka:

Dalam Mateus  13:40-42
Maka seperti ilalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir jaman. Anak manuisa akan  menyuruh malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan  segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang melakukan kejahatan dari dalam kerajaanNya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api. Di sana akan terdapat ratapan dan kertaka gigi.

Wahyu 20:14-15
“lalu maut dan kerajaan maut  itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah  kematian yang kedua, lautan api dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke lautan api ( wahyu 20:14-15)

pengertian Ketiga tentang neraka,   Yesus mencoba menerangkan dengan cara yang mudah diterima pendengarnya. Dalam perumpamaan Yesus sering memilih benda-benda  yang akrba dengan audiensnya.  Nah dalam Matius  5:22-19, Tuhan Yesus  menyebut tempat pembuangan sampah kota di  kota  Hinom, suatu tempat dimana apinya meyala siang dan malam. Ia menerangkan dalam kisah Lazarus  dan orang kaya, di situ diterangkan tentang suatu tempat  yang nyata dan penuh rasa haus, siksaan, penderitaan, api dan ingatan-ingatan buruk  yang menghantui seseorang karena keputusasaan ( Luk 16: 19-31).

Dari ayat itu sebetulnya  Neraka itu bukan sekedar perumpamaan  keadaan buruhk yang menimpa seseorang. Bahwa orang-orang berdosa pada hari penghakiman Tuhan akan sama-sama dibangkitkan, tetapi dengan nasib  berlainan. Kalaupun orang berkeberatan dengan adanya neraka yang digambarkan sebagai tempat dimana api yang menganga yang membakar manusia tetapi toh tetap ada penderitaan jasmani dan batin karena jauh dari Tuhan  yang menyebabkan mereka menderita akan rasa kesepian, keputusan –keputusan yang pernah dilakukan di dunia.

Lalu bagaimana dengan keberatan bahwa bagaimana Tuhan yang Maha Kasih  kok menciptakan neraka ? Tapi benarkah Tuhan menciptakan neraka kalau sejak semula adalah rencana Tuhan agar manusia selamat ?  Yang benar Tuhan tidak  pernah menginginkan seorang manusiapun masuk neraka. Tetapi di saat yang sama Tuhan menginginkan agar manusia memiliki kehendak yang bebas untuk mengambil keputusan untuk mengikuti Kehendak Tuhan atau mengikuti kehendanya sendiri;antara mencitai Tuhan atau menolak cinta Tuhan. Di dalam doa Bapa kami kita mengucapkan jadilah kehendakMu, tetapi lebih sering terjadi kita melakukan apa yang menjadi kehendakku.  Nah kalau sepanjang hidup kita memilih untuk mengambil keputusan untuk menolak Allah dan tidak menjalankan kehendakNya maka surga atau neraka adalah tergantung pada pilihan keputusan kita.

Abraham Lincoln mengatakan, “ Anda hanya dapat membodohi orang lain sekali saja, Tuhan memiliki catatan terperinci dan Ia dengan kesempurnaanya akan menghakimi kita.  Tetapi kalau Jokowi  saja punya  “tax amnesti” untuk para penghindar pajak, mosok sih Allah dengan kemahakasihNya tidak sudi mengampuni.  Persoalannya tetap sama, apakah kita mau memanfaatkan, hanya saja kalau tax amnesti punya dampak duniawi, tetapi penolakan pada Tuhan berakibat pada kehancuran total seluruh hidup manusia dan kehilangan rahmat Tuhan.


Untunglah Tuhan di dalam kelemahan kita, tetap mengulurkan pertolongan agar kita mau mengikuti kehendakNya. Persoalannya kita mau atau tidak, kita keras kepala atau tidak.

Kamis, 25 Agustus 2016

JANGAN JANGAN KITA LUPA BAHWA KITA INI MURID YESUS  
        
Ada keajekan logika kehacuran zaman  Yesus dan zaman sekarang.   Jaman Yesus diancam kehacuran karena ketidaktaatan bangsa  Israel kepada hukum  Tuhan sehingga ada ancaman kehancuran.  Pada zaman yesus orang-orang Yahudi meyakini bahwa kiamat bakal datang, sementara manusia tidak berpegang pada   hukum Tuhan dan ketidakadilan mereajelala, penindasan oleh yang punya kuasa dan harta atas orang miskin menjadi pemandangan umum, ada ibadah yang penuh kepura-puraan. Banyak nabi yang menyeru dan bernubuat tentang kehancuran dunia. Inilah yang dimaksus dengan kehancuran apokaliptik. Inilah yang jadi keprihatinan Yesus, orang dihadapkan soal hidup dan mati.

Dunia modern juga mengalami persoalan yang kurang lebih mirip. Kalau kita melihat jernih ajaran Yesus, kata pater albert Nolan OP< yang pernah jadi privinsial para imam   Dominikan, demikian taka Nolan, kita akan melihat perspektif  ajaran Yesus  yang sangat relevan dengan dunia masa kini.

Jaman kita ditandai oleh situasi histori yang mendesak untuk dicari jawabannya, yang juga menyangkut soal hidup dan mati tidak sekedar lingkup pribadi, suku atau bangsa tapi juga seluruh manusia. Menurut Pater Nolan jaman ini ditandai oleh ketakutan  bahwa masalah-masalah ini tidak dapat dipecahkan dan tidak seorang pun mampu menghentikan gerakan cepat penghancuran total umat manusia.

Persoalan dunia yang kini sangat mengancam adalah soal iklim.  Pemanasan global ini ditandai oleh meningkatnya karbon yang terlepas di udara kita, pencemaran air dan udara. Penggunaan bahan-bahwan berbahaya semua itu mengancam kehidupan manusia.  Baik jaman Yesus dan jaman modern adalah dunia diikat  oleh persoalan hidup dan mati yang oleh Rebem alves disebut sebagai sistem yang menghancurkan.

Seorang penulis beberapa dasa warsa menyebut dunia sekarang sebagai one dimensional man, atau manusia satu dimensi. Manusia jaman sekarang digerakkan oleh hanya satu hal  yakni modal atau kapital internasional. Sistem ini sangat berkuasa untuk menguasai individu dan individu sangat  terikat oleh sistem. Senjat pemusnah masal diciptakan yang konon untuk menciptakan perdamaian tapi justru memusnahkan.

Lalu dalam situasi sseperti ini, apa yang disumbangkan agama ? yang lebih spesifik lagi apa yang disumbangkan kekristenan ? sayangnya dalih-dalih agama dan akademis kuno sudah tercampakkan, mereka ( orang-orang yang tak percaya pada otoritas agama) menganggap tantangan dunia semakin besar dan tidak ada tempat bagi agama atau agama kehilangan makna  bagi banyak orang. Persis seperti itulah dunia yang menjadi keprihatinan Yesus. Lalu kit membutuhkan  gagasan-gagasan yang ditawarkan kepada dunia, bukan sekedar mengulang pendapat para pemegang otoritas.

Menurut Nolan, bahwa keprihatinan Yesus akan  akhir dunia, yang menuruk  ahli tafsir Perjanjian Baru  merupakan persoalan, dan itu pula yang menjadi perhatian umat manusia.

Kita tersentak bahwa  Yesus sesungguhnya punya  jaman ini. Pengenalan kita akan Yesus dari nasaret memastikan bahwa ada yang relevan  dengan ajaran Yesus untuk jaman ini. Kalau kita sudah berliturgi, berdevosi, beradorasi  dan selalu mengunjungi gereja setiap minggu untuk  mengikuti ekaristi kita sudah berada  di track yang benar tetapi untuk menjadi murid Yesus  sejati  itu saja belum cukup.  Atau jangan –jangan kita lupa dengan ajaran Yesus, padahal Yesus dalam perjanjian  Baru sangat aktual dengan persoalan jaman ini. Berbahagialah karena kita guru yang ajarannya relevan untuk zaman ini. Persoalannya apakan kita  menjadi lupa bahwa kita ini murid Yesus.

Senin, 22 Agustus 2016

PRODIAKON YES, HOMILI NO

Berkotbah atau berhomili itu ternyata gampang. Menjadi Prodiakon itu juga tidak susah. Yang justru sulit adalah  berkotbah yang baik dan menjadi prodiakon yang baik.

Dua syarat yang  dirasakan berat itulah yang membuat umat cenderung menolak untuk dijadikan prodiakon. “ Romo saya masih belum pantas” . Atau yang lain bilang “ Romo saya ndak pandai berhomili”.  Dua alasan itu menjadi  “halangan” bagi seseorang untuk menyatakan ya sebagai prodiakon. Padahal tugas prodiakon tak hanya homili, malah homili adalah tugas tambahan, tapi justru itu yang ditakutkan umat untuk mau dicalonkan sebagai prodiakon.

Tapi  benarkah homili itu sasah ? tidak juga. Santo Alphonsus Liguori menasehati  untuk membuat kotbah yang sederhana. Santo alphonsus mengatakan, “.....berbicaralah dengan menggunakan  gaya bahasa yang sederhana dan hindari penggunaan kata-kata yang muluk-muluk dan dibuat-buat”. Maka sebaiknya hanya mengatakan yang sederhana  kata-kata yang  paling mudah dimengerti oleh pendengar dan bukan kata-kata yang melambung  diangkasa kata-kata yang tidak membumi.


Santo alphonsus juga menyarankan agar kotbah anda ada hasilnya bersikaplah dengan sikap yang biasa dan ketika berkotbah di mimbar anda  seolah-olah berbicara di apartemen, yaitu menghibur mereka dengan kebajikan  atau membawa mereka pada suatu b peristiwa.

Minggu, 21 Agustus 2016

CARILAH DULU KERAJAAN TUHAN BARU SETELAHNYA EMAS OLIMPIADE

Mgr Sugiyo Pranoto punya semboyan terkenal 100 persen katholik dan 100 persen Indonesia artinya   kalau orang  Katholik Indonesia  mau dianggap  mau dianggap 100 persen  Indonesia  maka ia harus seratus persen Katolik. Artinya antara mencintai  Keindonesiaan dan mencitai Kekatholikan tak bisa dipisah-pisahkan dan dibeda-bedakan.

Jujur saja, pilihan itu tak selamanya mudah memilih salah satu dari keduanya bila keduanya merupakan soal penting. Eric Liddle seorang sprinter Inggris di Omimpiade 1924 pernah mengalaminya. Kisahnya yang mengagumkan pernah difilmkan berdasarkan kisah nyatanya dalam film yang berjudul Chariots of Fire (Kereta-kereta Api). Film itu mengisahkan dilema yang dialami Liddle, seorang pelari cepat Inggris yang pernah menjadi nomor satu di dunia dan yang saat itu, tahun 1924, sangat digadang-gadang oleh seluruh warga Inggris mempersembahkan untuk negaranya sekeping emas.  Eric belum gila jika  tak mengharapkan hal yang sama, tapi ia berharap jadwalnya tidak berbenturan dengan aktivitas mingguannya bersama “kekasih hatinya”, siapa lagi kalau Tuhan yang ia cintai yang selalu ia ungkapkan dalam tiap minggunya di dalam gereja. Sebab kalau ia harus memilih antara keduanya, ia akan memilih kemesraan bersama  Tuhan. Eric selalu melaksanakan perintah Yesus dalam Yohanes 12:26 yang berbunyi” Bapaku akan memberi pahala kepada siapapun yang melayani Aku.”

Tapi yang tidak diharapkan Eric itulah yang terjadi. Eric memastikan tidak mau tampil, dan rupanya kabar bahwa Eric tak mau tampil lebih cepat menyebar ketimbang virus yang mematikan. Ada tekanan yang sangat kuat yang siap menggoncangkan  prinsip hidup. Tapi Eric ternyata lebih tegar ketimbang gunung Himalaya. Keteguhan Eric yang begitu besar membuat jengkel koran – koran Inggris, dan gelar tak sedap disandangnya, tidak nasionalis. Tapi Eric sendiri tak kecewa dengan tidak tampilnya di  Final  Olimpiade di nomor bergengsi  lari 100 meter.

Rupanya Tuhan  mengganjar keteguhannya, ia pun mendapat kesempatan  untuk turun di nomor yang bukan spesialisnya,  lari 400 meter di tahun yang sama 1924. Ia tak sendirian ternyata. Dalam film itu, pelari Amerika Jacson Schols, menyemangati dan memberikian secuil kertas yang berisi tulisan yang persis sama yang terdapat dalam Yohanes 12:26:”Barangiapa melayani  Aku, ia akan dihormati Bapa.” Dan beberapa menit kemudian ia memenangi emas  Olimpiade dengan secuil kertas masih dikempit jarinya.  

Mengikut Tuhan pasti ada resikonya, tetapi ketika resiko  kita ambil kita tidak sendirian. Ada Tuhan yang selalu menolong kita. Jadi carilah dulu kerajaan  surga baru kemudian   Tuhan akan menambah yang lainnya.

Senin, 15 Agustus 2016

PERINTAH  YESUS YANG  "GANJIL"

Mungkin orang Katholik sudah lupa berapa kali ia mengucapkan doa  Bapa Kami. Tapi banyak diantara orang yang mengucapkan doa Bapa Kami, terutama ketika mengucapkan ampunilah kesalahan kami, begitu ringan mengucapkan tetapi ketika t erbentur sungguhan orang yang berbuat sesuatu yang tak termaafkan olehnya ia  seperti lupa.  Kalau mengampuni sekali saja susah, bagaimana dengan perintah Yesus untuk mengampuni orang yang sama sebanyak tujuh puluh kali tujuh alias tak terbatas.

Salah seorang yang tak mudah melakukan pengampunan yang bersalah kepadanya adalah Corrie Ten  Bom, sebagaimana ditulis oleh Pater Mark Link, SY.  Corrie adalah pembicara yang sudah berbicara  yang sudah berbicara kepada  banyak orang di banyak negara. Ia sering berbicara ke seluruh penjuru Eropa  dengan teman pengampunan dan rekonsiliasi. Ujian terberat betapa sulitnya memberi pengampunan adalah ketika sehabis ceramah ia dijumpai oleh orang yang sangat dibencinya.

Ingatan kepahitan Corrie muncul lagi. Ia adalah mantan  penghuni kamp konsentrasi Nazi. Corrie Ten Boom dan keluarganya dipersalahkan karena menyembunyikan orang-orang Yahudi di Amsterdam. Kecuali dirinya, tidak ada keluarganya yang selamat. Jadi  masuk akal jika kebenciannya tidak begitu saja hilang.

Kini, orang yang dibencinya ada dihadapanya.  Ia adalah penjaga penjara ketika ia menjadi salah satu penghuninya. Ia pernah mengalami penganiayaan hebat lewat tangannya.  Kini ia ada dihadapannya setelah mendengarkan ceramahnya, tentu saja ia berpendapat bahwa Corrie akan bertindak sesuai yang ia omongkan.  Menghadapi orang yang pernah menyengsarakannya,  Corrie terdiam, sulit ia melakukan sesuatu sesuai yang ia omongkan dalam ceramah-ceramahnya. Bagaimana ia harus mengampuni orang yang telah mengenyahkan nyawa keluarganya, dan membuat kehidupannya begitu pahit.

Tetapi ia menuntut dirinya sendiri untuk konsisten pada yang ia ajarkan. Ada bisikan halus, ayo Cori lakukan seperti apa engkau omongkan.  Akhirnya ia ingat kata-kata Yesus, ia memohon kepadaNya karena ketidakmampuanNya  untuk mengampuni orang itu.  Dan tiba-tiba muncul kekuatan untuk menyapa orang itu, ia akhirnya mampu mengampuninya secara tulus.


Banyak orang yang gagal melakukan yang Corrie lalukan. Tetapi kalau kita mau mengikuti Yesus secara konsekwen kita akan menyadari bahwa Yesus tidak hanya memberi perintah untuk mengampuni tetapi juga  memberi kita kemampuan untuk menaati perintahnya.

Jumat, 12 Agustus 2016

PETRUS  DARI PENGKIANAT SAMPAI MENJADI MARTIRNYA

Saat terahir sudah tiba. Ketika para sahabat yang mengantar kepergian Petrus ke luar roma untuk menyelamatkan diri melihat dengan terkejutnya kembalinya Petrus dengan tiba-tiba. Mereka melihat keraguan  Petrus. Mereka adalah  Paulus, Yohanes dan Linus. Orang-orang Kudus itu tak  berhasil meyakinkan Petrus, untuk menyelamatkan diri sebagai cara terbaik untuk menghindari kaisar yang bengis.  Petrus sebetulnya punya alasan yang kelihatan kudus, menyebarkan kasih di luar   Roma, apalagi orang-orang kudus semakin langka karena dibunuh oleh kaisar Roma.  Untung Petrus  lebih mendengarkan  Roh Kudus untuk tetap berada di Roma, walaupun itu berarti ia terancam dibunuh.

Tetapi Petrus, tegak dengan keyakinannya. Kembalinya  Petrus tidak lagi sebagai pengecut yang cenderung menghindar, tetapi dengan terus berkotbah dan membabtis orang. Tentu saja, penampilan Petrus di depan orang banyak, setelah beberapa tahun kematian Yesus di kayu salib, dengan penuh kesukaran  dan kesengsaraan peayaran lunas dari hutang Petrus pada sang panebus, karena pengkianatannya di halaman rumah Hanas.

Dan ketinggian bukit Vatican, di hadapan penguasa yang bengis, sebetulnya Petrus sedang mengokohkan kerajaan guruNya yakni tahta  yang tak berkesudahan. Gerakan spontan Petrus sebelum tangannya diberkan kepada algojo dengan membentuk  tanda salib, seakan ia sedang memberkati  kota dan seluruh dunia, yang sering diulangi oleh para penggantinya dengan berkat untuk kota dan dunia. Ia tidak kalah. Kematiannya  adalah kematian yang dikehendaki Tuhan, untuk menyuburkan tanah Roma untuk bertumbuhnya iman akan sang penebus yang terus diikutinya.

Petrus sudah mengambil bagiannya yang tepat.  Petrus  telah melaksanakan kata-kata gurunya ketika dia dan murid yang lain masih tinggal bersama di Yudea ketika itu sang guru berkata:” Ketika kamu masih muda kamu bebas kemana saja, tetapi ketika kamu sudah tua, untuk membetulkan ikat pinggang saja engkau harus meminta bantuan.” Benar juga di masa tuanya Petrus hanya melakukan pekerjaan yang dimaui guruNya. Dan kematian Petrus ada pertanda agung bagi tumbuhnya agama baru dengan ajaran yang tidak masuk akal dalam masyarakat tuna aklak seperti negara Romawi yang penuh kebejatan dan kemaksiatan pada waktu itu.

Tetapi Petrus dan para penerusnya bisa mengubah masyarakat.

Kamis, 11 Agustus 2016

JADI APAKAH YESUS TUHAN

Orang Katulik sering jengkel  ketika ditanyai dengan pertanyaan seperti itu berkali-kali dan tanpa bosan orang yang menyai seperti itu dan tanpa  juga menjawabnya seperti bagi kami itu misteri.

Ahmad Deedad ulama sohor yang banyak memiliki pengikut yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk meruntuhkan iman Kristiani juga punya pertanyaan itu. Begitupun Zakir Naik ulama Islam asal India, yang lagi dipuja-puja juga punya pertanyaan yang sama. Apakah  Yesus  Tuhan ? Kapan  Yesus mengatakan ? Tunjukkan satu ayat saja  dalam bibel yang mengatakan Yesus  minta disembah, maka saya akan bersedia menjadi Kristen ? bukankah dalam 1 Yohanes  dikatakan, pada mulanya adalah firman  dan firman itu adalah Allah, bukankah itu kata-kata Yohanes sendiri ? terhadap pertanyaan yang bertubi-tubi itu  apakah jawaban kita.

Tentu kita mempunya jawaban-jawabannya dan biasanya jawaban-jawabannya seperti yang dikotbahkan para imam di gereja Yesus memang putra Allah, Dia adalah kepala gereja, Yesus adalah Allah yang menjelma. Atau jawaban yang sering kita lakukan Allah itu kan misteri karena misteri semakin diterangkan semakin tidak jelas.
Apakah jawaban seperti itu salah ? tentu saja tidak. Dan apakah pertanyaan –pertanyaan  Ahmad Deedad dan Zakir Naik benar ?  Deedad  boleh saja pertanyaan  pertanyaan itu  toh mereka tidak sedang bertanya tapi sedang berusaha meruntuhkan iman Kristiani.  Baik Deedad maupun Zakir naik  belum mengerti  bahwa gereja lebih dahulu terbentuk baru kemudian Kitab Suci ditulis. Dan baik Deedad maupun Zakir naik ceroboh dengan mengatakan kekristenan diciptakan Paulus.  Bayangkan saja para rasul sudah menyebarkan ajaran Yesus dan kemudian Paulus datang dan menulis beberapa surat dan mengatakan ini lho ajaran  Yesus yang benar. Tentu akan terjadi konflik diantara para rasul. Jadi yang lebih masuk akal bahwa Paulus meneruskan ajaran para rasul, dan ketika Paulus mendirikan gereja, yang ia ajarkan adalah ajaran para rasul yang diimani para rasul dan yang didengarkan oleh para rasul dari Yesus sendiri. Jadi logika macam apa yang mengatakan bahwa ajaran Kristen ajarannya Paulus bukan ajarannya Yesus.

Deedad hanya berusaha memutarbalikkan injil.  Deedad menyapakan kitab  Injil dengan   kitab sucinya.  Ayat yang ia kutip adalah ayat yang kontroversial dan dan terlepas dari konteksnya, sehingga ia seolah comot sana comot sini dari kitab Injil dan ditafsirkan dengan sesuka hati.  Padahal ajaran Kristen ( katolik ) tidak hanya  mendasarkan apa yang terdapat dalam kitab suci tapi juga ajaran bapa gereja yang diyakini berasala dari para rasul  ketika para rasul sudah tidak ada diteruskan para uskup. Jadi apa yang diajarkan para rasul  berasal dari Yesus sendiri.  Jadi pertanyaan Deedad terjawab sudah.

Yang kemudian penting bagi kita adalah bagaimana kita memaknai Yesus sebagai putra Allah ? kita bisa minta bantuan ilmu teologi, yang mungkin membuat  kita semakin bingung karna bertemu degan dogma-dogma seperti misalnya Yesus adalah juru selamat, Dialah kepala Gereja,Dialah pemimpin kita satu-satunya, Yesus sungguh Ilahi, Yesus adalah imam, nabi dan raja surgawi , Yesus adalah yang menjelma menjadi manusia.  Jawaban-jawaban seperti itu memang benar, tetapi karena begitu seringnya diulang-ulang dalam bentuk dogma,  umat jarang yang menghayatinya apalagi umat  tidak terbiasa dengan bacaan teologi. Lebih parah lagi ada umat yang meperlakukan Yesus sebagai dukun, yang berdoa saat kita butuh penyembuhan.


Kehadiran Yesus di dalam diri kita dirayakan dalam liturgi. Maka umat yang ikut berpartisipasi dalam berliturgi agar tidak kering harus bisa menangkap Yesus yang menyelamatkan. Yesus adalah  simbol kehadiran kerajaan Allah. Yesus adalah penanda dari hadirNya Allah dalam hidup kita. Dan agar kita memaknai  hadirnya kerajaan  dalam diri kita. Dan itu tak bisa kita lakukan jika kita tak mengenal siapakah sebenarnya  Yesus itu secara pribadi.

Minggu, 07 Agustus 2016

KASIH YESUS SEBAGAI KASIH DALAM KELUARGA

Ajaran  Yesus adalah ajaran yang radikal. Yesus menginginkan agar kita mencintai Allah  tidak setengah-setengah. Tuhan ingin supaya kita tidak  mencitai diri sendiri. Tuhan menginginkan agar kita menjadi   tidak menjadi seorang yang egois. Cinta
Allah  kepada manusia adalah alasan bagi keberadaan kita. Kasih itu mengubah relasi kita kepada orang lain dan menjadikan kita sesuatu yang baru.

Kasih itu menuntut sikap total. Kasih itu tidak setengah setengah, ketika kita mencintai seesama. Tuhan menuntut  cinta yang total.
Kasih menjadi ukuran apakan kita menjadi anak Bapa atau sebagai pengkianatNya. Pada hukum lama berbunyi kasihilah temanmu dan bencilah musuhmu. Tetapi Yesus memberi ajaran yang  baru , “Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka  yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian  kamu menjadi anak bapaMu di surga, yang menerbitkan mathari  bagi orang yang jahat  dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan tidak benar ( mat 5:43-45).

Mengikut Yesus menuntut kesadaran. Mengikut Yesus berarti menginternalisasikan ajaran yesus sebagai  sebagai  bagian hidup kita. Cinta kita kepada Allah itu konstan.  Pada kesempatan lain  kasih itu menuntut kepolosan seorang anak kecil, yang tidak menuntut perthitungan-perhitungan  orang-orang dewas. Kasih itu yang seperti anak-anak yang datan kepada Tuhan, yang tdiak peduli akan orang-orang dewasa sekelilingnya yang ingin melarang mereka datang pada  Yesus. Karena memang kasih  itu tidak dibuat-buat.
Ketika Yesus melihat hal itu, ia marah dan berkata kepada mereka,” biarkan anak-anak itu datang padaku, jangan menghalang-halangi  mereka, sebab orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan surga. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti  seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamNya ( Mark 10:14-15).

Ketotalan kasih terletak pada  kemauan untuk mengasihi walaupun pada akhirnya  ia tidak mendapatkan balasan apa-apa.  Kasih itu berbeda dengan konsep kuno, mata ganti mata. Oleh karenanya ajaran Yesus adalah sesuatu yang radikal. “Hendaklah kamu saling mengasihi karena demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).
Dalam Yhohanes 15:7-11 Yesus berkata, “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu,  mintalah yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah 

bapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak  dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu seperti
Bapa telah mengasihi  Aku, demikian juga Aku telah mengasihi Kmu, tinggalah di dalam kasihKu itu.  Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu Seperti 
 Aku menuruti perintah bapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya suka citaKu ada di dalam kamu dan suka citamu menjadi penuh ( Yoh 15:7-11)


Lihatlah bagaimana Yesus memaknai kerajaan Allah adalah kerajaan kasih, kasih itu adalah menjadi keluarga Allah. Kasih Yesus kepada kita adalah kasih di dalam keluarga. Logikanya kita yang membutuhkan Yesus bukan sebaliknya, tetapi Yesus   memaknai  relasi ini begitu manusiawi, bahwa kita diharapkan  memberikan kasih kepada setiap orang, sehingga muncul kemanusiaan baru  yang membuat Kristus menjadi penuh. Itulah makna yang sesungguhnya kasih  Allah kepada  Yesus  dan kasih Yesus kepada kita,  dan kasih kita kepada sesama adalah gambaran kasih sebagai sebuah keluarga, keluarga Allah.

Sabtu, 06 Agustus 2016

TUMPANG MERAYAKAN HARI PAROKI KE 15

Minggu 7 Agustus 2015 umat paroki  Tumpang merayakan   Hari Paroki yang ke 15.  Hari paroki dirayakan dengan Misa konselebrasi dengan Romo delegatus Adminstratoris kevikepan Kedu sebagai konselebran utama. Umat paroki di wilayah di paroki Banyutemumpang tumpah ruahdi gereja Petrus  Kanisius Mungkid bahkan ruang parkir disamping gereja penuh. Koor pada hari itu semakin meriah dengan hadirnya Orkestra dari “Seminari menengah Mertoyudan.

Dalam homilinya romo  Delegatus Administratoris kevikepan Kedu,
romo Krisno  Handoyo,Pr mengingatkan agar umat  katolik di paroki ini menyadari sebagai satu warga paroki. Dan mengedepankan semangat pengabdian.  Pengabdian menurut romo Krisno memiliki kata  dasar abdi yakini pelayan. Dan kalau kehilangan kata abdi tinggal  kata pengab yang berarti berbau tidak sedap. Maka seorang abdi dibedakan dengan pekerja. Kalau abdi pasti bekerja untuk orang lain sementara  pekerja itu bekerja untuk orang lain. Dan romo Krisno juga mengingatkan yang menjadi penguru paroki untuk meninggalkan mental pejabat dan memakai jubah jembatan. Seorang aktivis gereja hendaknya pertama-tama menjadi jembatan bukan menjadi pejabat. Umat paroki juga diharapkan mau mendengarkan Tuhan sekalipun Tuhan sering diam saja.


Selain konselebran utama, turut mendampingi romo Delegatus Administratoris romo Kepala paroki Gereja Santo Kristophorus Banyutemumpang, Romo  Suparman Pr dan Romo   Yustinus Agus Pr. Sembari merevisi sejarah yang ditulis dalam sejarah paroki sebelumya,  untuk tahun depan dan tahun tahun selanjutnya Hari  paroki akan dilaksanakan setiap tanggal  30 juli.