Kamis, 29 September 2016

BERIMAN DENGAN RADIKAL SEPERTI YESUS   (  bagian 2 )

Yesus dalam kitab suci sering digambarkan sebagai tokoh yang sering melakukan kritik sosial,  baik terhadap orang-orang Yahudi  yang menindas  sesamanya,  penguasa Romawi yang tidak adil. Apa yang dilakukan Yesus, mirip dengan beberapa  nabi Perjanjian lama yang  berkata keras terhadap  kelompok kaya yang menindas.

Misal dalam Yeremias bab 7, Yeremias mengkritik para pemimpin agama.  Para pemimpin agama  selalu pergi ke bait Allah, tetapi mereka tidak  meningalkan kebiasaan buruk,  sehingga mereka sering ke bait Allah  dan melakukan persembahan dan korban,tetapi di luar bait Allah, mereka mencuri dan berzinah.

Yesus memperlakukan mirip yang dilakukan Yeremias. Yesus juga sering mengajar kaum Herodian  yang terkenal sebagai kelompok kaya di zaman Yesus di tengah-tengah kemiskinan.

Beberapa tindakan  Yesus dalam situasi sosio-politis jaman  itu  yang dianggap selesai tindakan politik dan provokator.

1.     Mewartakan kedatangan kerajaan Allah dari Nazareth, Yesus datang  ke gurun Yudea untuk  bertemu Yohanes Pembabptis. Yesus bergabung dengan gerakan  Yohanes pembaptis  yang berseru:”Bertobatlah ! kerajaan surga sudah dekat.” juga dalam doa yang diajarkan kepada para murid, Yesus juga  juga memohon  kedatangan kerajaan surga itu “datanglah kerajaanMu! Dalam Mateus 6:33 ia juga minta kepada para murid untuk lebih dahulu mencari kerajaan Allah. Dalam teks tersebut Yesus tidak  menarik garis apakah yang dimaksud kerajaan Allah adalah sebuah kerajaan yang memah secara riil  dibangun kembali  oleh Allah diantara umatNya ataukah sebuah situasi religius dimana allah memulihkan kembali kesatuaNya dengn umat dan  menjamin keselamatan  bagi umatNya.

Yesus dicurigai penguasa, karena walau kerajaan Allah itu ekskatalogis sifatnya, tapi cita-cita itu mirip impian para pejuang Galilea yang juga mengharapkan pemulihan kerajaan Israel, bagi mereka Allahlah satu-satunya Allah Israel.

Yohanes adalah pendahulu Yesus yang sebetulnya tidak anti imam, walaupun pengunduran  diri ke padang gurun dan jauh dari hirup pikuk  peribadatan Yerusalem, pantas dicurigai sebagai penolakan  terhadap kelompok imam, padahal Yohanes pembaptis sesungguhnya adalah kelompok Esseni, atau kelompok Imam. Dan kelompok Imam dan kelompok aristokrat atau bangsawan  dianggap satu kelas dan menguasai  rumah ibadah Yerusalem, yang juga merupakan  simbol kekuasaan. Itulah  yang mendorong kecurigaan  para imam di Yerusalem sehingga dikrimlah utusan kepada  Yohanes  Pembabtis  untuk menyelidiki sekaligus  menyelidik Yohanes apakah dia Mesias yang dijawab oleh Yohanes Pembaptis bahwa ia bukanlah Mesias, salah seoran rabi ataupun Elia. Ia hanyalah  suara yang b erseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan Tuhan. Ia menyerukan kedatangan kerajaan Allah tanpa melibatkan diri dalam perjuangan – perjuangan politis dan militer yang sudah muncul di zamannya.

Yesus pun, seperti  Yohanes  pembaptis  yang tidak melakukan  perjuangan seperti para pejuang Galelea. Dan kerajaan Allah yang ingin ditegakkan  bukan dengan menggunakan kekuatan perang melawan penjajah ?  yang dilakukan Yesus adalah  dengan mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan. Tetapi toh karna Yesus seorang menarik  masa, tetap saja pemimpin Yahudi dan  Romawi selalu mencurigai gerak-geriknya.

2.    Karena Dia Mesias

Orang Kristen begitu akrab dengan  gelar Yesus sebagai Mesias yang menyatu dalam diri Yesus. Tidak sulit mencari  makna Mesias dalam perjanjian Baru  yang adalah merupakan sosok  raja spiritual dalam diri Yesus yang memulihkan tidak hanya kerajaan bagi  Israel  tetapi juga keselamatan dunia dan manusia. Sementara dalam pemahaman  Yahudi, Mesias pertama-tama dimengerti  sebagai sosok raja politis  yang datang untuk memulihkan kembali  kerajaan bagi Israel.  Jadi tugas nyata yang dihadapi  oleh siapapun yang mengaku sebagai Mesias pada zaman yesus adalah membebaskan Israel dari kuasa penjajah Romawi. Sebagaimana  dikatakan  di atas. Jadi Mesias dalam pandangan Yahudi sarat dengan makna politis. Dalam budaya Jawa kita mengenal konsep ratu adil.

Nah karena sarat makna politis itu  pulalah yang dinyatkan oleh orang-orang yahudi ketika membawa yesus ke hadapan pilatus. Maka bertubi-tubi tuduhan dituduhkan pada Yesus  seperti misalnya Yesus dituduh sebagai penjahat ( Yoh 8:30), Orang yang menyesatkan bangsa, melarang membayar pajak kepada Kaisar, menyatakan diri sebagai Kristus, yaitu Raja ( Luk 23:2). Titulus atau keterangan  yang dipasang oleh Pontius Pilatus di atas kepala yesus di atas salib perlu dibaca dalam konteks sosio –politis zaman itu. Titulus di atas kepala orang yang disalib selalu menunjukkan alasan penyaliban. Seperti kita ketahui Titulus itu ditulis oleh Pilatus “Raja  orang nazareth Raja orang  Yahudi. Pilatus menolak protes orang-orang  Yahudi  atas tulisan di atas  di atas kepala Yesus  karena bagi Pilatus ysus sama dengan orang-orang yang sudah dibunuh dan disalibkannya, yakni mereka yang menyatakan diri sebagai Mesias, raja orang yaghudi, yang ingin bebas dari  Romawi

3.    Care kepada orang Miskin
Masyarakat Galilea di jaman Yesus  terbelah menjadi dua yakni orang kaya dan orang miskin.. Kesamaan yesus dan para pejuang itu, bahwa orang-orang miskin selalu ada di sekitar mereka. Nah di tengah kemapanan  kaum Aristokrat  pemerintahan Herodes Agripa di  Sephoria jua Tiberias, orang miskin juga terkonsentrasi  di situ. Nah para pejuang itulah harapan orang miskin dan kepada mereka, mereka  melakukan protes  terhadapa  bangsa yahudi kaya dan bangsawan yang menindas dan tentu saja pemerintahan Romawi. Maka tidak sedikit orang miskin bergabung dengan perlawanan mereka di Galilea. Kemiskinan yang sungguh-sungguh miskin secara materi itulah juga orang-orang di sekitar yesus, bukan sekedar kemiskinan rohani seperti dimengerti oleh orang-orang Kristen.
4.    Memasuki Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah.

Puncak tindakan provokatif  Yesus adalah ketika ia memasuki Yerusalem. Meski  gesekan Yesus adalah gerakan religius, Tetapi karena memasuki Yerusalem, yang idak sekedar  pusat religius Israel, tetapi juga pusat politis. Maka benturan-benturan  politis mejadi tak terelakkan antara Yesus dan para pemimpin Yahudi dan penjajah Romawi yang selalu curiga  terhadap gerakan perlawanan. Ketika masuk Yerusalem itulah para fans  Yesus  bersimpat kepadanya  dan ia disambut sebagai seorang raja. Jadi cara ia disambut  dan reaksi orang-orang yang menyambut akan ditangkap sebagai gerakan politik Oleh kuasa  agama Yahudi dan pemerintah Romawi  dan ada aroma ketakutan dalam diri mereka.

Lebih tak dapat diterima lagi oleh orang  Yahudi adalah ketika  Yesus memasuki bait Allah yang merupakan markas besar para pemimpin Yahudi ( Sanhedrin). Ketegasan Yesus membersihkan  bait Allah: mengusir para pedagang, menjungkirbalikkan meja krusi para penukar uang.  Markus meulis (Mrk 11:17)   Tindakan keras Yesus didasari oleh rasa cinta yang begitu besar terhadap bait Allah, rumah doa yang sekarang sudah dijadikan sarang penyamun.

Para pemimpin Yahudi yang mendengar kata  Yesus, sangat paham dengan ayat kitab suci yang dikutup Yesus yakni Yeremias 7:11, yang dimaksud  sebagai penyamun  bukan hanya  mereka yang berjualan dan menjadi penukar uang, tetapi terutama para pemimpin Yahudi yang membiarkan para pedagang dan penukar uang itu berjualan di sana.  Mereka tidak akan bisa berjualan di lingkungan bait Allah ( wilayah yang disebut sebagai halaman   untuk orang kafir, tanpa ijin dari yang berwenang, jadi kasarnya para penjual  telah menyuap para pemimpin bait Allah. Sikap tegas terhadap kuasa agama akan cepat panggung politik.

Penampilan Yesus di bait Allah itu mengundang resiko berat, karena bait Allah adalah pusat religius Yahudi yang diyakini sebagai tempat kehadiran Allah. Yesus  pertama-tama mengkritik  pemimpin Yahudi  bukan penguasa Romawi. (Imam dan ahli Taurat)  yang menjadi perpanjangan  tangan penjajah. Pada akhirnya, Yesus dibawa kepada  politik, adalah tanda bahwa ia melakukan geraka  politis. Orang-orang  menjadi sangat paham bahwa gerakan yesus adalah gerakan politis. Diantara  orang- orang Galilea yang mebnghendaki pemulihan kerajaan Israel. Tangan Pontius politis sungguh sangat berdarah, dari tangannya para pejuang telah menerima hukuman
AGAMA TIDAK PERNAH MEMPRODUKSI RADIKALISME

Banyak kekerasan mengatasnamakan agama. Ada yang menafsif agama dengan tafsir pribadi, dan menganjukan untuk menghalalkan menghilangkan mereka yang tak sepaham.  Ada agama tertentu, itu bisa Islam atau Kristen, memproduksi pelaku teror misal Al Qaida atau IRA  untuk kalangan Kristen, bahkan orang  Kristen punya sejarah kelam dengan perang salib. Menajadi permenungan apakah  agama bisa memproduksi kekerasan kalau agama itu bertujuan untuk  menciptakan cinta damai.

Agama sejatinya punya peranan penting  dalam diri seseorang. Dr Haryatmoko Pr, menyatakan bahwa  bahwa  agama merupakan imajiner Sosial  yang memperteguh motivasi. Fungsi agama  dalam diri seseorang adalah  untuk memberi identitas, dan memiliki acuan pada tujuan terakhir.

Orang yang beragama memiliki  intentionalitas yang sadar, sehingga memungkinkan diri secara sadar memperlakukan diri, sehigga diri sebagai subyek  bisa memformulasi obyek  sehingga subyek bisa menangkap obyek.

Agama menjadi sekedar alat kepentingan jika ia diikuti oleh demagog. Demagog selalu mengaitkan  kasus dan  traumatisasi. Demagog, kata Haryatmoko, di tengah orang miskin di samping gudang makanan yang belum didistribusikan akan berteriak:” lihat saudara-saudara, kita ini miskin bukan  karena kita ini miskin, tetapi  kita miskin karena  ada orang yang menyimpan makanan begitu banyak>” demikianlah, romo Haryatmoko mengamsalkan, padahal makanan itu tidak disimpan permanen, tapi memang belum dibagikan saja.

Mengapa Demagog gagasannya laku, karena demagog menyadari kekuatan r etorika imajiner. Mereka mampu mengubah kegelisahan  kolektif menjadi  perasaan takut  terhadap musuh bersama.  Kaum demagog sangat sadar ini sehingga ia begitu mudah menggosok ingatan kolektif masa.

Romo  Haryatmoko juga mengingatkan bahwa traumatisme  ditandai dengan upaya menyalurkan  kegelisahan ke musuh. Kebencian menumbuhkan hasrat  menghancurkan  semua penghalang imajener baru sehingga perasaan berkuasa diperbesar.  Menurut Haryatmoko, apa yang dimaksud proses imajiner adalah proses mental dalam melihat orang lain. Demagog atau penganjur tindak teror terus menggosok pengikutnya untuk kemurnian identitas. Dalam keadaan ini simbolisme agama digunakan untuk meneguhkan tekad, mempertajam permusuhan dan memistiskan motif.

Dr  Haryatmoko, mengajak kita untuk membedakan apa yang dimaksud imajiner,  imajinatif dan terorisme. Sesuatu  yang imajiner  adalah suatu rekaan fiksi yang berusaha mengeliminasi yang mengancam.  Ini berbeda yang imajinatif yang punya makna positif yaitu berkaitan  dengan kreatifitas. Sementara terorisme adalah suatu nihilisme. Penghilangan sesuatu yang bertentangan dengannya sama  artinya dengan matinya kebebasan.


Disinilah kemudian muncul kekerasan simbolis, sesuatu yang benar karena terus diplilntir kemudian bisa salah. Pergi ke luar  rumah sebetulnya bisa saja positif untuk  mengembangkan diri, tetapi ketika ada kecurigaan yang  diulangi terus menerus, sehingga akhirnya ke luar rumah menjadi sesuatu yang salah. Kekerasa simbolis  adalah pintu masuk kekerasan simbolis adalah pintu masuk kekerasan psikologi. Seorang bapak yang merasa disindir cukup mengatakan, “ coba katakan sekali lagi.” Dengan nada yang agak keras.  Yang akan  menciutkan keberanian  seorang istri, yang mau tidak mau menyetujui seorang suami.. 

Jumat, 23 September 2016

APAKAH YESUS SEORANG RADIKAL ?

Ketika orang mendengar kata Teroris reaksinya hampir sama : Teror, kejam, tidak berperikemanusiaan, anti Kristen.  Lalu orang pun mencapnya sebagai seorang radikal.  Lalu apa sih makna radikal itu sesungguhnya. Lalu sampailah kita pada tokoh  yang kita ikuti, Yesus. Ia pun terkenal sebagai tokoh yang keras, tanpa kompromi, anti kemapanan, berani melawan kekuasaan, penganjur nilai-nilai kemanusiaan. Nah,  apakah kualitas karakter kepribadian yang seperti itu hanya dimiliki  seorang yang radikal.

Kalau  Teroris sebagai  kelompok radikal dan Yesus juga dicap seorang radikal, tentu ada bedanya antara keduanya. Karna  buahnya memang berbeda.  Setidaknya perlu dibedakan antara sikap radikal dan radikalisme sebagai isme. Yesus jelas tidak sedang memperjuangkan sebuah isme, kalau ada paham yang sedang diperjuangkan Yesus adalah tegaknya kerajaan Allah.  Tulisan ini membatasi diri pada pandangan bahwa mengapa Yesus kok dianggap seorang radikal.

Kata radikal marak sejak abad 18 yaitu dikaitkan dengan gerakan politik yang  menghendak perubahan revolusioner dan mendasar.  Tetapi istilah radikal sendiri sebetulnya bukanlah monopoliti dunia politik.  Menurut kamus bahasa Indonesia  kata radikal 1. Secara mendasar         ( sampai kehal-hal   yang mendasar ) 2.  Amat keras menuntut Perubahan; 3. Maju dalam berpikir dan bertindak.  Kata radikal berasal dari bahasa  Latin  yang berarti mendasar atau root dalam bahasa Inggris.

Dari makna tersebut, jelas apa yang dilakukan oleh Yesus punya makna radikal. Yesus tidak memperjuangkan kerajaan Allah setengah-setengah tapi total dan radikal.  Yesus pernah mengatakan, kalau imanmu tidak sebesar orang-orang Farisi maka kamu tidak akan naik ke surga. Yang dekat dengan istilah ini adalah fanatik , artinya rohani yang maknanya disempitkan bahwa seorang yang fanatik adalah orang yang tidak  bisa  menerima pendapat orang lain. Dalam Efesus 33:17 dikatakan”..sehingga oleh imanmu Kristu diam di dalam hatimu dan  kamu berakar serta berdasar di dalam kasih...”  Santo  Paulus juga berkata, hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah  hatimu melimpah dengan syukur, Dari penggalan ayat – ayat itu jelas bahwa kalau kita mau mengikuti Yesus kita harus menjadi seorang yang  radikal.

Tentu saja yang diperjuangkan Yesus bukanlah radikalisme sempit, yang tertutup dan tak bisa menerima  pandangan orang lain, atau enggan berdialog dengan orang lain. Yesus juga bukan seorang tokoh politik yang berjuang secara politik, walau ajaran yang dibawakannya punya imbas politik.  Yesus juga menolak untuk dijadikan mesias politik oleh kaum Zelot,  bahkan beberapa muridnya sebelumnya juga punya pandangan kaum Zelot. Yang diperjuangkan Yesus jauh lebih itu. Jadi menjadi debatable juga apakah Yesus itu seorang radikal atau seorang moderat. Saya hanya mengajak untuk melihat Yesus secara utuh. Bukan Yesus menurut saya tetapi Yesus menurut Perjanjian Baru.

Secara  teologis biblis, menurut  Dr. St. Eko Riyadi, Pr  Yesus bukanlah seorang radikal  yang bergerak dalam bentuk – bentuk kekerasan untuk mencapai tujuanNya. Namun demikian, kematian Yesus di kayu salib tidak bisa dibaca  tanpa mempergunakan kaca mata  orang zaman  Yesus  dalam memahami hukuman  salib yang sebetulnya merupakan sebuah hukuman politis  yang biasa diterapkan pemerintah Romawi  bagi para pejuang yang melawan  dan membahayakan kekuasaan Romawi.  Menurut Romo Eko  Riyadi, Gerakan Yesus memiliki dimensi sosio-politis  yang pasti tidak lepas begitu saja dari pengawasan penguasa Roma yang waktu itu menguasai wilayah Palestina.

Pada sisi lain, kehadiran  Yesus ( baca bukan Yesus dalam Perjanjian Baru )  bisa dilihat dari sisi sosial Poliltik pada zamannya karena tindakan yesus pun  punya efek atau implikasi  politis yang menghadapkan Dia  pada benturan  baik dengan penguasa  Yahudi maupun penguasa Romasi.

Yesus dalam situasi sosio politik Yahudi  Romawi.

Yesus hidup  pada zaman ketika Israel secara politis dijajah romawi sejak 63 SM, pada saat itu Pompeyus  berhasil menaklukkan Plestina.  Injil Lukas mengatakan Yesus lahir ketika Kirenius menjadi wali negeri Siria.  Penguasa Yudea saat Yesus lahir adalah Herodes Agung, yang sebetulnya adalah antek atau kaki tangan Roma atau Palestina. Hadirnya Romawi membawa berkah bagi bangsawan atau kaum Aristokrat  yaitu kelompok imam dan  kelompok atas. Terutama yang ada di perkotaan. Dan ketika Romawi berkuasa, ada perpindahan dari kampung ke perkotaan. Ada ketegangan antara orang Yahudi dan orang  Romawi.  Romawi membangun fasilitas umum seperti jalan dan jembatan dan itu tentu membutuhkan biaya.Penguasa Romawi kadang mengambil kekayaan Palestina ( termasuk harta persembahan di Bait Allah ) dan juga kekayaan rakyat untuk membiayai proyek-proyek besar mereka.  Tak dapata terhindarkan juga korupsi para gubernur Romawi di palestina dengan memanfatkan jabatan tinggi  untuk memperkaya diri  dan sebagai batu loncatan untuk meraih jabatan yang lebih bergengsi.

Dalam situasi tertekan ini, tak jarang muncul gerakan melawan Romawi dan mereka  menamai diri sebagai  mesias  dan  menganggap diri bahwa gerakan mereka seirama dengan gagasan apoklaiptik  tentang kerajaan baru  yang akan dipulihkan oleh Allah.  Mereka menyebut diri pembuka zaman baru. Menghadapi mereka, penguasa Romawi sangat tegas.  Terhadap kelompok ini Orang romawi memastikan bahwa diantara mereka tidak ada yang selamat.

Sementara itu penguasaan  Romawi atas  Plesltina menumbuhsuburkan dambaan apokaliptik akan pengadilan Allah yang akan segera tiba. Beberapa orang menganggap diri sebagai pembawa pesan, tapi  karna ada unsur politis dan militerlah, yang menyebabkan  Romawi bertindak tegas. Untuk memberi dasar religius pada  gerakan ini yang memikat rakyat  mereka membungkus gerakan dengan dengan semangat religius yakni kecintaan  pada Allah dan pada tanah nenek moyang.  Yang terkenal adalah Theudas yang memiliki empat ratus murid yang akhirnya dipenggal kepalanya oleh  Romawi kemudina muncul juga si Mesir yang juga akhirnya ditindas oleh   Romawi. Di Zaman  Yesus,  Athroges menyatakan diri sebagai raja  orang Yahudi dan dihancurkan oleh Roma.  Kemudian ada juga : “Sisamaria”  yang juga disalibkan Pilaltus meskipun tidak melakukan perlawanan militer terhadap  Roma. Di luar mereka masih ada tokoh seperti Hezekiah yang terkenal sebagai bandit Galilea, Simon dari Perea, Yudas dari Galilea, Simon anak yora, Simon bar Kokba.  Mereka adalah figur-figur mesianisk yang dibasmi Penguasa  Romawi.

Galilea sendiri yang menjadi wilayah dimana  Yesus tinggal, adalah lahan subur  bagi muncul sebagai gerakan  yang mengaku sebagai mesias dan melakukan gerakan  perlawanan terhadap romawi. Tidak hanya terhadap penguasa  Romawi, mereka juga melawan para Aristokrat  Yahudi yang menjadi antek Romawi. Di sekitar mereka banyak orang miskin  yang tersisish dari kehidupan sosial  yang membangkitkan perlawanan terhadap  Romawi.  Orang Romawi menamai mereka lestes atau bandit.  Kelompok bandit  inilah yang akan menjadi kekuatn utama kaum zelot dalam melawan pemerintah  Romawi.

Mesias dan pemulihan kerajaan Apokaliptik

Kaum zelot dan  beberapa orang yang menampilkan diri sebagai pembawa keailan Allah yang tampil untuk mengawali pemulihan kerajaan Allah di dunia ( bedakan dengan Kerajaan AllahNya Yesus, yakni kerajaan Allah di surga). Banyak kaum zelot yang mengau sebagi mesis. Dalam pemahaman umum, seorang   Mesias  adalah dia yang diurapi  dengan minyak  yang diyakini seagai keluarga Daud  sehingga tugas utamanya membangun  kembali israel dan memulihkan kerajaan Daud.  Menyatakan diri sebagai Mesias  pada masa itu sama artinya dengan menantang Romawi untuk berperang karena Mesias adalah raja Israel. Menjadi Mesias berarti menjadi raja israel yang harus berlawanan dengan penguasa Romawi. Hreodes Agung pada masa awal pemerintahannya membasmi kelompok  bandit di Galilea  ini dan membunuh Hezekiah yang menjadi pemimpinnya.

Tindakan keras  roma terhadap pemimpin perjuangan, menandakan betapa sensitifnya keberadaan  pasukan perlawanan.

Oleh karenanya, walau gerakan Yesus tidak bertujuan untuk menegakkan kerajaan di dunia ini ( seperti jawaban Yesus di hadapan Pilatus ketika  Yesus diadili.  Toh gerakan Yesus tak luput dari pengawasan Romawi, apalagi kalau gerakannya menarik minat banyak orang  (terutama dari kelompok miskin ) untuk mengikutinya.  Yesus orang Galilea  dan ciri Galilea yang miskin dan pensuplai banyak pejung, turut mewarnai gerakan Yesus.  Di sekitarnya muncul orang miskin, orang terbuang, orang sakit. Yesus mewartakan datangnya kerajaan Allah  ( Balileia tou Theou). Dalam dunia Yunani – Romawi basilea merupakan  sebuah gambaran  imanatif  yang digunakan oleh orang tertindas dalam perlawanan mereka terhadap  Romawi.

Yesus sendiri menyadari bahwa diantara para pengikutnya mungkin saja ada yang salah menafsirkan gerakannya. Dari kerumunan yang sering mengikutinya ada yang tertarik karena gerakan politik.  Benar Yesus disalibkan, apalagi ia disalibkan bersama yang oleh orang orang Romawi dianggap sebagai bandit, karena perlawanannya.  Tetapi alasan Yesus disalib bukan karena ia telah melakukan perlawanan terhadap  Roma, tapi karena ia dianggap telah mengaku sebagai raja Yahudi.


Gerakan Yesus berakar pada gerakan pertobatan  yang diserukan oleh Yohanes Pembabtis. Orang perlu bertobat  di hadapan kerajaan Allah  yang semakin mendekat. Pertobatan ditandai  dengan pembaptisan oleh Yohanes di sungai Yordan. Yesus yang masuk  gerakan itu, memilih untuk  meninggalkan padang gurun Yudesa ketika Yohanes dipenjarakan oleh Herodes Agripa.  Kemudian ia mengajar , mengusir setan, menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan cara itulah Ia menghadirkan kerajaan Allah. 

Minggu, 11 September 2016

KRISTEN MENJAWAB ATAS KRITIK DUA KODRAT YESUS

Sampai hari ini perdebatan  mengenai ajaran mengenai dua kodrat dan mengenai inkarnas Yesus belum selesai sebagai perdebatan.   Salah satu yang paling gigih menolak ajaran  inkarnasi yang dikukuhkan seperti dalam rumusan dari Konsili Kalcedon adalah seorang teolog yang bernama Hick. Sekedar kita mengingat ulang bahwa rumusan Sahadat Kristen yang kita kenal  atau yang  kita kenal sebagai Sahadat para rasul,  sudah dirumuskan dalam konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel.  Tetapi kemudian seorang uskup yang bernama Arius mengajarkan ajarannya yang membuatnya sebagai bidaah yaitu yang mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua kodrat dan dua pribadi. Bahwa Yesus memiliki dua kodrat memang ya tetapi bahwa Yesus memiliki dua pribadi itulah yang ditentang oleh Gereja.  Oleh karenanya konsili Kalcedon mengundang para bapa Konsili ( begitulah sering disebut untuk para uskup yang diundang ke konsili).  Lima ratus uskup hadir dan salah satu keputusan adalah mengukuhkan rumusan dua konsili terdahulu bahwa Yesus memiliki dua kodrat dan satu pribadi. Dan merumuskan sahadat seperti yang kita gunakan yang juga sering disebut sahadat Neceani. Dari lima ratus uskup hanya satu yang tidak setuju dengan rumusan yang kini kita kenal dengan sebutan sahadat para rasul. Rumusannya yang panjang adalah:

Aku percaya akan satu Allah yang Maha Kuasa,
Pencipta Langit dan Bumi,
Dan Segala Sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah Yang Tunggal,
Ia  lahir dari Bapa,
Sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan.
Sehakekat dengan Bapa,
Segala sesuatu dijadikan olehNya,
Ia Turun dari Surga untuk kita manusia
Dan untuk keselamatan Kita,
Dan Ia menjadi daging oleh  Roh Kudus,
Dari perawan Maria,
Dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk Kita
Waktu  Ponsius Pilatus,
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan,
Pada hari ketiga ia bangkit,
Menurut Kitab Suci.
Ia Naik ke surga
Duduk di sebelah kanan Bapa
Ia akan kembali dengan mulia,
Mengadili orang hidup dan mati,
kerajaanNya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Tuhan yang menghidupkan,
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
Disembah dan dimuliakan,
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi,
Kami percaya akan gereja,
Yang Satu, Kudus,  Katolik dan Apostolik,
Aku mengakui satau pembaptisan,
Akan penghapusan dosa,
Aku menantikan kebangkitan orang mati,
Dan hidup  di akherat
Amin

Kembali pada Hick yang mengkritik rumusan Konsili kalcedon yang berpusat pada inkarnasi Yesus.  Ia melakukan pendekatan dengan pendekatan sejarah dan bahasa. Dari sudut pandang sejarah, Hick mempunyai keyakinan bahwa ia (Yesus )  selama di dunia tidak memahami dirinya sebagai pribadi kedua Ilahi dari Allah Tri  Tunggal.

Dan kritik Hick  berikutnya, bahwa sebetulnya para murid  mengungkapkan iman dan antusiasme mereka atas Yesus yang menyelamatkan dan membebaskan, para murid menggunakan gambaran-gambaran, istilah yang ada dalam budaya setempat.  Tentu saja perlu dipertanyakan pandangan Hick, atau mungkin dia tidak begitu cermat membaca alkitab, sehingga ia membuat tafsiran yang agak bebas. Hick kemudian menyesalkan mengapa ungkapan Putra Tuhan Bisa berubah menjadi Tuhan Anak. Masih banyak kritik dari Hick, tetapi dari sini kita dapat menangkap posisinya. Lalu apa jawaban kita sebagai orang yang mengimani Yesus sebagai putra Bapa yang tidak sekedar metafora atau gambaran belaka ?

Ada beberapa pendapat yang membela iman Kristen dan kami pilihkan beberapa pendapat untuk membela iman Kristen.  Kesimpulan Hick, menurut beberapa teolog Kristen  tidak memiliki dasar yang cukup. Bahwa penelitian historis tidak mungkin menemukan bukti keilahian Yesus.  Bahwa ada sesuatu yang tidak logis tidak berarti bahwa Yesus tidak Ilahi.  Bahwa yang tidak mungkin dipikirkan akal budi bukan berarti tidak mungkin ada. 

Dalam bukunya teologi Kontekstual (hal 320 ) Dr Adrianus Sunarko, OFM  menulis bahwa Pengakuan akan  Yesus Putra Allah dan bahwa Allah sendiri hadir  dalam pribadi Yesus Kristus  adalah hal yang melampaui bidang penelitian historis. Yang diajukan Hick bukanlah bukti, karena memang kebenaran Iman  tidak bisa ditemukan oleh akal budi historis.  Dan Pengakuan akan Dia  sebagai yang datang dari Allah, yang menjelma menjadi manusia  adalah sebuah keputusan iman yang tanpa dasar. Dan keputusan iman itulah yang diambil oleh orang-orang yang menyebut diri dan disebut sebagai orang Kristen.

Kalau kita baca internet atau youtube pendapat Hick sering diulang-ulang, pendapat itu antara lain mengatakan bahwa rumusan bahwa Yesus putra Allah itu adalah keputusan Kaisar Konstantin  untuk penyatuan politik. Padahal kalau kita baca kitab suci, yang lebih dulu ada sebelum konsili Nicea di tahun 325, iman akan Yesus Kristus sebagai putra Allah  sudah ada, itu juga bukan ajaran Paulus. Kita memang sedang mengalami jaman yang tidak mudah bagi iman kita, kita terus diserang tetapi kitapun tidak ingin iman kita akan Yesus Kristus terus didangkalkan. Persoalannya cukup sederhana sebetulnya kita mengimani dan merka tidak, kita punya sumber otentik yaitu Kitab Suci dan ajaran gereja, di pihak sana sekedar spekulasi. Mereka belum menerima kebenaran tapi seolah-olah sudah menerima kebenaran. Tetapi iman yang kita yakini adalah sangat meyakinkan, dan keputusan kita sebagai orang Kristen adalah keputusan iman

Jumat, 09 September 2016

MENJADI GEREJA YANG BERGEMBIRA

Gereja adalah meneruskan kabar suka cita Kristus dan sebanyak mungkin menjangkau banyak orang. Tetapi siapa yang setiap hari membaca alkitab ?  bagaimana kita mau menyebar sukacita Kristus kalau kita tak pernah kenal  sabda Yesus dan  Sabda Yesus hanya terdapat di dalam alkitab. Persoalannya, kebiasaan orang  Katolik membaca Alkitab itu belumlah lama. Dahulu membaca kitab suci adalah bagiannya imam, awam tidak. Dan bertahun-tahun bahkan berabad-abad  awam hanya membaca katekismus Gereja Katolik.  Ini  menjadi persoalan ketika Konsili Vatikan menganjurkan agar umat katolik, tidak hanya para imamnya saja, untuk membaca Alkitab. Menjadi persoalan ketika fasilitas untuk itu belumlah memadai. Untunglah kini gairah yang sulit dibangkitkan terbantu ketika  ketika  setiap bulan September  kita diajak bergairah untuk membaca kitab suci dalam apayang  sering kita sebut sebagai Bulan  Katekese Kitab suci Nasional..

Konsili Vatikan mengajak kita untuk berubah, untuk menjadikan Gereja memperbarui diri. Salah satu adalah gairah untuk membaca Sabda Allah.  Konstitus Dogmatis Dei Verbum dalam mukadimahnya berkata begini :” Sambil mendengarkan Sabda Allah degan Khidmat dan mewartakannya penuh kepercayaan, Konsili suci mematuhi amanat Santo Yohanes:”kami mewartakan kepadamu hidup kekal, yang ada pada bapa dan telah nampak kepada kami: Yang kami lihat dan kami dengar, itulah yang kami wartakan kepadamu, supaya kamupunberoleh persekutuan kita bersama Bapa dan PuteraNya Yesus Kristus (1 Yoh 1:2-3).

Dalam bulan kitab suci   ini kita akan mengembalikan jati diri kekatolikan kita seturut dari keinginan Konsili Trente dan Konsili Vatikan I, yang menginginkan  ajaran asli tentang Wahyu Ilahi yang diteruskan oleh Konsili Vatikan II.  Supaya dengan mendengarkan pewartaan keselamatan seluruh dunina  mengimaninya, dengan beriman berharap, dan dengan berharap mencitainya (lih. Santo Agustinus,  Tentang mengajar agama kepada mereka yang serba tidak tahu, bab IV,8:PL 40:316 ).

Menjadi Katolik itu mewartakan. Lagi-lagi kita sering membuat alasan seperti yang pernah dilakukan Yeremias, Musa maupun Yunus yang membuat dalih, aku tidak pantas, aku masih muda, aku tidak fasih  berbicara. Dan banyak dalih.

Kalau terlalu banyak dalih, pasti gereja  Katolik tak pernah punya nama-nama seperti  Paulus, Petrus, Ignatius, Fransiscus Xaverius dan nama beken lainnya.  Dan dalih terbesar kita sebagai orang  Katolik modern, mewartakan Yesus bukanlah urusanku. Persis itulah yang mau dibongkar oleh konsili Vatikan II.  Paus Fransiscus menerjemahkan tantangan misioner gereja modern lewat ensikliknya  Evangellii Gaudium.  Gereja, kata  Paus Fransiskus haruslah menjadi gereja yang penuh lumpur, sehingga Paus pernah  menantang para uskup untuk keluar dari gereja.  Ensiklik itu menghendaki agar kita menjadi pewarta yang bergembira.  Sebagaimana dikatakan oleh Paus, konsekuensi sukacita Injil , seorang pewarta kabar baik tak pernah boleh terlihat seperti seseorang yang baru pulang  dari upacara penguburan.  Paus mengajak kita agar sukacita pewartaan  kabar Baik yang menyenangkan dan Indah, sekalipun kita harus memetik panenan  dengan cucuran air mata. Kita hendaknya bukan menjadi pewarta kabar baik yang patah semangat, yang sering kehilangan kesabaran dan cemas melainkan dari pelayan-pelayan Injil  yang berupaya memancarkan cahaya penuh keceriaan, karena lebih dahulu telah menerima sucatia Kristus.

Setiap orang  Kristen berhak menerima sukacita Kristus, dan setiap orang  memiliki kkewajiban Injil tanpa mengcualikan  siapapun. Para pewarta Injil  harus tampil sebagai orang yang hendak membagikan sukacita, membawa mereka pada cakarawala  hidup yang indah. Ikut serta dalam perjamuan yang nikmat. Jadi bagaimana kita bisa membagikan kepada orang lain kalau sukacita injil itu indah kalau kita tidak pernah menikmati bahwa Ekaristi itu membahagiakan. Jadi mengikuti ekaristi bukan lagi kewajiban tapi anugerah dan mewartakan Injil bukan lagi beban tapi suka cita.

Nah saatnya kita bagikan kegembiraan kita untuk menyongsong  Bulan Kitab  Suci Nasional dan pada saatnya kita dapat membagikan kebahagiaan kita kepada orang lain. BKSN tidak lagi menjadi rutinitas yang keberadaannya bukan sekedar ada, tetapi sudah saatnya BKSN  menjadi tonggak gereja yang punya semangat misioner.  Paus Fransiskus mengajak agar gereja yang keluar menjadi komunitas murid Kristus  yang mengambil langkah pertama ( premerear), sebab kalau kita mengikuti Tuhan kita akan mengambil karakternya, yaitu selalu berinisiatif.


Dan kita misioner karena kita katolik atau  bisa juga dirumuskan dengan kata yang lain karena kita katolik maka kita harus misioner.

Senin, 05 September 2016

KELUARGA BERSAKSI DAN MEWARTAKAN SABDA ALLAH
( disarikan dari Renungan bulan Kitab Suci nasional  Keuskupan Agung Semarang 2016)


Tema bulan Kitab  Suci Nasional tahun 2016 ini adalah keluarga yang bersaksi dan mewartakan Sabda Allah. Ada 2 maksud dalam tema ini yakni  kita diharapkan jadi pewarta sabdaAllah.  Dan memberikan kesaksian  Sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Kerigma dipakai oleh Gereja untuk kegiatan pewartaan. Kerygma berasal dari  kata Yunani “ Kerygma yang berarti proklamasi atau pengumuman. Dari sini memunculkan kata kerja memproklamasikan dan mengumumkan  yang diberi tugas mengumumkan  biasanya disejajarkan  setingkat pangeran  atau putera raja, Dialah yang melayani  kerajaan  yang menghubungkan raja dengan publik.

Kata kerigma/pewartaan  dipahami dalam 2 arti yakni  aktivitas mewartakan dan  isi pewartaan itu sendiri. Dan itu pula yang dilakukan Yesus yang memaklumkan  yang menjadi misi perutusannya . Lihat  Lukas 4:18-19 yang mengutip  Yesaya 61:1-2 ketika ia mengumumkan akan datangnya tahun rahmad Tuhan.  Caranya dengan mengajar  dan memberitakan dan menyembuhkan (mat 4:23, mrk 1:39’ Luk 4:44  bdk mat 9:35.

Kerygma dipakai oleh gereja  dalam hubungannya dengan Yesus Kristus, yakni dipahami sebagai kegiatan mewartakan hidup, wafat dan kebangkitan Kristus  dan menuntut pertobatan bagi orang- orang yang mendengarkan pewartaan itu.

Rasul Paulus, setelah  bertemu dengan yesus bertobat total  adalah salah satu pewarta ulung akan Yesus  Kristus, dalam surat-suratnya kerigma itu jelas terbaca.

Kata  saksi dalam kitab suci sangat erat hubungannya dengan lembaga keadilan kesaksian adalah apa yang dilihat dan disaksikan secara pribadi. Jadi seorang saksi adalah memberikan informasi yang benar yang dialami sendiri.  Jadi kesaksian diambil dari dunia hukum.

Dari dunia pengadilan kesaksian dari satu orang bukanlah saksi, jadi kesaksian harus dikuatkan atas dua atau tiga orang saksi (Luk 17:6 19:15) dan dari dunia hukum pula kita mengenal saksi palsu.  Akan halnya saksi palsu, Perjanjian  Baru  juga menerapkan aturan bahwa kesaksian yang valid hanya bisa diterima jika ada 2 atau 3 orang saksi lain (bdk Mateus 8:16; 2 Kis 13:1) Dalam Yoh  5:37 Yesus sendiri menyatakan BapaNyalah  yang memberikan kesaksian atas apa yang diperbuatNya.

Dua belas pengikut Yesus adalah saksi  yang mengetahui sang guru secara mendalam mendengarkan ajaranNya dan menyaksikan mukjijat yang dikerjakanNya. Paulus mengambil istilah Pengadilan tentang saksi dan dibri makna rohani  bahwa  Paulus mendapat tugas dari Tuhan untuk menjadi saksiNya  maka  istilah martir  dikenakan pada orang yang berani memberikan nyawanya dan imannya kepada Yesus.

Makna martus ( orang yang bersaksi ) adalah orang yang amat yakin dengan imannya dan penuh kesetiaan  sehingga berseidia mengorbankan segala-galanya.
Para murid adalah pewarta sederhana yang mewartakan  apa yang dibuat  Yesus , akhirnya pewartaan mereka sampai kepada kita yang terus menerus diteruskan kepada gerejaNya lewat orang-orang kepercayaanNya.. maka keluarga Kristiani ikut mewartakan Yesus   sebab keluarga adalah gereja mini ( ecclesia domestica).

Walau kita generasi yang jauh dari generasi para rasul,  kita tetap dapat mengambil peranan  dengan memberikan kesaksian tentang Tuhan dengan  dengan meruskan ajaranNya sesuai dengan perintahNya.
Dalam BKSN 2016  keuskupan Agung Semarag ada empat tema yang mau direnungkan.
1.    Yesus model pewarta sejati.
2.    Saling bersaksi dan mewartakan  dalam keluarga.
3.    Bersaksi dan mewartakan demi gereja.

4.    Bersaksi dan mewartakan di tengah masyarakat