Minggu, 23 Oktober 2016

KETIKA KAMU TIDAK MENGHABISKAN MAKANANMU KAMU MERAMPOK ORANG MISKIN
Dalam  Surat Gembala   yang dibacakan di gereja-gereja Keuskupan Agung Semarang  pada tanggal 4-5 Oktober 2016 dan bertepatan dengan  pesta Santo Fransiscus Asisi, Gereja  di Keuskupan Agung  Semarang diingatkan  akan pesan Sinode para Uskup di tahun 2014 dan 2015 di Roma, yang membahas tentang keluarga.  Dan Sidang Agung Gereja katolik Indonesia  

          ( SAGKI)  yang juga memberi perhatian pada keluarga:”Keluarga-keluarga Katolik :  Sukacita Injil, panggilan  dan Perutusan keluarga dan dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk.” Keluarga sebagai sel pertama yang sangat penting dalam masyarakat (familiaris con sortio, 42) dan Sekolah-sekolah kemanusiaan (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang  belajar hidup  bersama orang lain serta  menuntun nilai-nilai luhur  dan warisan Umum. Keluarga, demikian  Surat Gembala itu,  dimana doa didengarkan, permumpaan dengan Allah  yang membawa suka cita, dialami, iman ditumbuhkan dan keutamaan ditanamkan.

Dalam keluarga, demikian Surat Gembala, Kehidupan Rohani dan iman seseorang dimatangkan, kehidupan sosial  anggota keluarga semakin dimatangkan seiring  dengan perkembangan hidup beriman. Dan salah satu nilai Rohani atau kebiasaan yang didapat seseorang dalam keluarga adalah hidup doa.

Surat Gembala itu juga mengajak gereja untuk merenungkan bacaan hari  itu ( Luk 18 :1-8) yaitu agar kita tak jemu-jemu berdoa dan bersatu dengan Allah dan merasakan kerahimanNya. Dari relasi  yang mendalam itulah akan berbuah pada bagi pelayanan kepada sesama dan suburlah solidaritas kemanusiaan.

Salah satu yang menjadi solidaritas kemanusiaan, Surat Gembala juga menyebut solidaritas pangan yang menjadi ciri  peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS)  yang kita peringati pada 16 Oktober. Dan HPS tahun 2016 ini mengangkat tema “Penguatan pangan berbasi keluarga.´keluarga dengan demikian tidak hanya  menggembleng soal iman, , namun keluarga juga menjadi tempat untuk membangunkesadaran tentang kecukupan pangan keluarga yang sehat dan lestari. Dengan kecukupan dan ketersediaan pangan, keluarga dapat mengmbangkan sikap dan tindakan nyata solidaritas melalui berbagi pangan bagi mereka yang berkekurangan. Kita haru berani berkata “cukup” terhadap segala bentuk keserakahan. Kita harus berani mewujutkan sabda  Yesus:”Kamu yang harus memberi mereka makan. “

Bapa suci Fransiskus dengan tegas mengatakan:” ketika kamu tidak menghabiskan makanannmu, membunag-buang  makanan, itu sama dengan merampok orang miskin (Homili hari Lingkungan Hidup sedunia PBB  5 Juni 2013).
Jadi, menurut surat Gembala Tersebut, ada orang yang kekurangan, tetapi ada juga yang berkelimpahan, jadi ada budaya menumpuk pangan  di tengah kelaparan. Dalam Rencana Induk  keuskupan Agung  Semarang 2015-2035 kita diajak  untuk menjadi pelopor  peradaban kasih agar terwujut masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Salah satu ukuran kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan makanan.

Surat Gembala itu  juga mengajak  agar keluarga- keluarga katolik di keuskupan Agung Semarang  ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah ( Pedoman pastoral  keluarga KWWI 2010, no 6). Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga  keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan kasih Kristiani.

Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati, berbelas kasih melallui pelayanan, terutama mereka yang lemah dan paling rapuh, terluka dan menderita. Kerahiman Allah  tidak bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, justru bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8).


Akhirnya Surat  Gembala memberi penegasan  bahwa dalam bulan Oktober selain kita memperingati HPS,  orang katolik juga berdoa Rosario, sekaligus bulan ini adalah bulan misi. Wujut misi/evangelisasi :”Semoga dalam semua komunitas kristiani, hari Misi sedunia kita memperbarui kegimbiraan Injil dan tanggung jawab mereka untuk mewartakannya,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar