KETIKA KAMU TIDAK MENGHABISKAN
MAKANANMU KAMU MERAMPOK ORANG MISKIN
Dalam Surat Gembala
yang dibacakan di gereja-gereja Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 4-5 Oktober 2016 dan bertepatan
dengan pesta Santo Fransiscus Asisi,
Gereja di Keuskupan Agung Semarang diingatkan akan pesan Sinode para Uskup di tahun 2014
dan 2015 di Roma, yang membahas tentang keluarga. Dan Sidang Agung Gereja katolik Indonesia
( SAGKI) yang juga memberi perhatian pada keluarga:”Keluarga-keluarga
Katolik : Sukacita Injil, panggilan dan Perutusan keluarga dan dalam Gereja dan
masyarakat Indonesia yang majemuk.” Keluarga sebagai sel pertama yang sangat
penting dalam masyarakat (familiaris con sortio, 42) dan Sekolah-sekolah
kemanusiaan (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup
bersama orang lain serta menuntun
nilai-nilai luhur dan warisan Umum.
Keluarga, demikian Surat Gembala
itu, dimana doa didengarkan, permumpaan
dengan Allah yang membawa suka cita,
dialami, iman ditumbuhkan dan keutamaan ditanamkan.
Dalam keluarga, demikian Surat Gembala, Kehidupan
Rohani dan iman seseorang dimatangkan, kehidupan sosial anggota keluarga semakin dimatangkan
seiring dengan perkembangan hidup
beriman. Dan salah satu nilai Rohani atau kebiasaan yang didapat seseorang
dalam keluarga adalah hidup doa.
Surat Gembala itu juga mengajak gereja untuk
merenungkan bacaan hari itu ( Luk 18
:1-8) yaitu agar kita tak jemu-jemu berdoa dan bersatu dengan Allah dan
merasakan kerahimanNya. Dari relasi yang
mendalam itulah akan berbuah pada bagi pelayanan kepada sesama dan suburlah
solidaritas kemanusiaan.
Salah satu yang menjadi solidaritas kemanusiaan,
Surat Gembala juga menyebut solidaritas pangan yang menjadi ciri peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang kita peringati pada 16 Oktober. Dan HPS
tahun 2016 ini mengangkat tema “Penguatan pangan berbasi keluarga.´keluarga
dengan demikian tidak hanya menggembleng
soal iman, , namun keluarga juga menjadi tempat untuk membangunkesadaran
tentang kecukupan pangan keluarga yang sehat dan lestari. Dengan kecukupan dan
ketersediaan pangan, keluarga dapat mengmbangkan sikap dan tindakan nyata
solidaritas melalui berbagi pangan bagi mereka yang berkekurangan. Kita haru
berani berkata “cukup” terhadap segala bentuk keserakahan. Kita harus berani
mewujutkan sabda Yesus:”Kamu yang harus
memberi mereka makan. “
Bapa suci Fransiskus dengan tegas mengatakan:”
ketika kamu tidak menghabiskan makanannmu, membunag-buang makanan, itu sama dengan merampok orang miskin
(Homili hari Lingkungan Hidup sedunia PBB
5 Juni 2013).
Jadi, menurut surat Gembala Tersebut, ada orang
yang kekurangan, tetapi ada juga yang berkelimpahan, jadi ada budaya menumpuk
pangan di tengah kelaparan. Dalam
Rencana Induk keuskupan Agung Semarang 2015-2035 kita diajak untuk menjadi pelopor peradaban kasih agar terwujut masyarakat
Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. Salah satu ukuran
kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan makanan.
Surat Gembala itu
juga mengajak agar keluarga-
keluarga katolik di keuskupan Agung Semarang
ambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan Allah
( Pedoman pastoral keluarga KWWI 2010,
no 6). Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga
keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan dan
kasih Kristiani.
Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah
yang murah hati, berbelas kasih melallui pelayanan, terutama mereka yang lemah
dan paling rapuh, terluka dan menderita. Kerahiman Allah tidak bertentangan dengan keadilan dan kebenaran,
justru bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih (1Yoh 4:8).
Akhirnya Surat
Gembala memberi penegasan bahwa dalam
bulan Oktober selain kita memperingati HPS,
orang katolik juga berdoa Rosario, sekaligus bulan ini adalah bulan
misi. Wujut misi/evangelisasi :”Semoga dalam semua komunitas kristiani, hari
Misi sedunia kita memperbarui kegimbiraan Injil dan tanggung jawab mereka untuk
mewartakannya,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar