BERIMAN DENGAN RADIKAL SEPERTI YESUS (
bagian 2 )
Yesus dalam kitab suci sering digambarkan
sebagai tokoh yang sering melakukan kritik sosial, baik terhadap orang-orang Yahudi yang menindas
sesamanya, penguasa Romawi yang
tidak adil. Apa yang dilakukan Yesus, mirip dengan beberapa nabi Perjanjian lama yang berkata keras terhadap kelompok kaya yang menindas.
Misal dalam Yeremias bab 7, Yeremias mengkritik
para pemimpin agama. Para pemimpin
agama selalu pergi ke bait Allah, tetapi
mereka tidak meningalkan kebiasaan
buruk, sehingga mereka sering ke bait
Allah dan melakukan persembahan dan
korban,tetapi di luar bait Allah, mereka mencuri dan berzinah.
Yesus memperlakukan mirip yang dilakukan
Yeremias. Yesus juga sering mengajar kaum Herodian yang terkenal sebagai kelompok kaya di zaman
Yesus di tengah-tengah kemiskinan.
Beberapa tindakan Yesus dalam situasi sosio-politis jaman itu
yang dianggap selesai tindakan politik dan provokator.
1. Mewartakan kedatangan kerajaan Allah dari
Nazareth, Yesus datang ke gurun Yudea
untuk bertemu Yohanes Pembabptis. Yesus
bergabung dengan gerakan Yohanes
pembaptis yang berseru:”Bertobatlah ! kerajaan surga sudah dekat.” juga dalam doa yang diajarkan
kepada para murid, Yesus juga juga
memohon kedatangan kerajaan surga itu
“datanglah kerajaanMu! Dalam Mateus 6:33 ia juga minta kepada para murid untuk
lebih dahulu mencari kerajaan Allah. Dalam teks tersebut Yesus tidak menarik garis apakah yang dimaksud kerajaan
Allah adalah sebuah kerajaan yang memah secara riil dibangun kembali oleh Allah diantara umatNya ataukah sebuah
situasi religius dimana allah memulihkan kembali kesatuaNya dengn umat dan menjamin keselamatan bagi umatNya.
Yesus
dicurigai penguasa, karena walau kerajaan Allah itu ekskatalogis sifatnya, tapi
cita-cita itu mirip impian para pejuang Galilea yang juga mengharapkan
pemulihan kerajaan Israel, bagi mereka Allahlah satu-satunya Allah Israel.
Yohanes
adalah pendahulu Yesus yang sebetulnya tidak anti imam, walaupun
pengunduran diri ke padang gurun dan
jauh dari hirup pikuk peribadatan
Yerusalem, pantas dicurigai sebagai penolakan
terhadap kelompok imam, padahal Yohanes pembaptis sesungguhnya adalah kelompok
Esseni, atau kelompok Imam. Dan kelompok Imam dan kelompok aristokrat atau
bangsawan dianggap satu kelas dan menguasai rumah ibadah
Yerusalem, yang juga merupakan simbol
kekuasaan. Itulah yang mendorong
kecurigaan para imam di Yerusalem
sehingga dikrimlah utusan kepada
Yohanes Pembabtis untuk menyelidiki sekaligus menyelidik Yohanes apakah dia Mesias yang
dijawab oleh Yohanes Pembaptis bahwa ia bukanlah Mesias, salah seoran rabi
ataupun Elia. Ia hanyalah suara yang b
erseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan Tuhan. Ia menyerukan
kedatangan kerajaan Allah tanpa melibatkan diri dalam perjuangan – perjuangan
politis dan militer yang sudah muncul di zamannya.
Yesus
pun, seperti Yohanes pembaptis
yang tidak melakukan perjuangan
seperti para pejuang Galelea. Dan kerajaan Allah yang ingin ditegakkan bukan dengan menggunakan kekuatan perang
melawan penjajah ? yang dilakukan Yesus
adalah dengan mengajar, menyembuhkan
orang sakit, mengusir setan. Tetapi toh karna Yesus seorang menarik masa, tetap saja pemimpin Yahudi dan Romawi selalu mencurigai gerak-geriknya.
2.
Karena Dia Mesias
Orang Kristen begitu akrab dengan gelar Yesus sebagai Mesias yang
menyatu dalam diri Yesus. Tidak sulit mencari
makna Mesias dalam perjanjian Baru
yang adalah merupakan sosok raja
spiritual dalam diri Yesus yang memulihkan tidak hanya kerajaan bagi Israel
tetapi juga keselamatan dunia dan manusia. Sementara dalam
pemahaman Yahudi, Mesias pertama-tama
dimengerti sebagai sosok raja
politis yang datang untuk memulihkan
kembali kerajaan bagi Israel. Jadi tugas nyata yang dihadapi oleh siapapun yang mengaku sebagai Mesias
pada zaman yesus adalah membebaskan Israel dari kuasa penjajah Romawi.
Sebagaimana dikatakan di atas. Jadi Mesias dalam pandangan Yahudi
sarat dengan makna politis. Dalam budaya Jawa kita mengenal konsep ratu adil.
Nah karena sarat makna politis itu pulalah yang dinyatkan oleh orang-orang
yahudi ketika membawa yesus ke hadapan pilatus. Maka bertubi-tubi tuduhan
dituduhkan pada Yesus seperti misalnya
Yesus dituduh sebagai penjahat ( Yoh 8:30), Orang yang menyesatkan bangsa,
melarang membayar pajak kepada Kaisar, menyatakan diri sebagai Kristus, yaitu
Raja ( Luk 23:2). Titulus atau keterangan
yang dipasang oleh Pontius Pilatus di atas kepala yesus di atas salib perlu
dibaca dalam konteks sosio –politis zaman itu. Titulus di atas kepala orang
yang disalib selalu menunjukkan alasan penyaliban. Seperti kita ketahui Titulus
itu ditulis oleh Pilatus “Raja orang
nazareth Raja orang Yahudi. Pilatus
menolak protes orang-orang Yahudi atas tulisan di atas di atas kepala Yesus karena bagi Pilatus ysus sama dengan
orang-orang yang sudah dibunuh dan disalibkannya, yakni mereka yang menyatakan
diri sebagai Mesias, raja orang yaghudi, yang ingin bebas dari Romawi
3.
Care kepada orang Miskin
Masyarakat Galilea di jaman Yesus terbelah menjadi dua yakni orang kaya dan
orang miskin.. Kesamaan yesus dan para pejuang itu, bahwa orang-orang miskin
selalu ada di sekitar mereka. Nah di tengah kemapanan kaum Aristokrat pemerintahan Herodes Agripa di Sephoria jua Tiberias, orang miskin juga
terkonsentrasi di situ. Nah para pejuang
itulah harapan orang miskin dan kepada mereka, mereka melakukan protes terhadapa
bangsa yahudi kaya dan bangsawan yang menindas dan tentu saja pemerintahan
Romawi. Maka tidak sedikit orang miskin bergabung dengan perlawanan mereka di
Galilea. Kemiskinan yang sungguh-sungguh miskin secara materi itulah juga
orang-orang di sekitar yesus, bukan sekedar kemiskinan rohani seperti
dimengerti oleh orang-orang Kristen.
4.
Memasuki Yerusalem dan membangun kembali Bait
Allah.
Puncak
tindakan provokatif Yesus adalah ketika
ia memasuki Yerusalem. Meski gesekan
Yesus adalah gerakan religius, Tetapi karena memasuki Yerusalem, yang idak
sekedar pusat religius Israel, tetapi
juga pusat politis. Maka benturan-benturan
politis mejadi tak terelakkan antara Yesus dan para pemimpin Yahudi dan
penjajah Romawi yang selalu curiga
terhadap gerakan perlawanan. Ketika masuk Yerusalem itulah para
fans Yesus bersimpat kepadanya dan ia disambut sebagai seorang raja. Jadi
cara ia disambut dan reaksi orang-orang
yang menyambut akan ditangkap sebagai gerakan politik Oleh kuasa agama Yahudi dan pemerintah Romawi dan ada aroma ketakutan dalam diri mereka.
Lebih tak dapat diterima lagi oleh orang Yahudi adalah ketika Yesus memasuki bait Allah yang merupakan
markas besar para pemimpin Yahudi ( Sanhedrin). Ketegasan Yesus
membersihkan bait Allah: mengusir para
pedagang, menjungkirbalikkan meja krusi para penukar uang. Markus meulis (Mrk 11:17) Tindakan keras Yesus didasari oleh rasa cinta
yang begitu besar terhadap bait Allah, rumah doa yang sekarang sudah dijadikan
sarang penyamun.
Para pemimpin Yahudi yang mendengar kata Yesus, sangat paham dengan ayat kitab suci
yang dikutup Yesus yakni Yeremias 7:11, yang dimaksud sebagai penyamun bukan hanya
mereka yang berjualan dan menjadi penukar uang, tetapi terutama para
pemimpin Yahudi yang membiarkan para pedagang dan penukar uang itu berjualan di
sana. Mereka tidak akan bisa berjualan
di lingkungan bait Allah ( wilayah yang disebut sebagai halaman untuk orang kafir, tanpa ijin dari yang
berwenang, jadi kasarnya para penjual
telah menyuap para pemimpin bait Allah. Sikap tegas terhadap kuasa agama
akan cepat panggung politik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar