Kamis, 29 September 2016

BERIMAN DENGAN RADIKAL SEPERTI YESUS   (  bagian 2 )

Yesus dalam kitab suci sering digambarkan sebagai tokoh yang sering melakukan kritik sosial,  baik terhadap orang-orang Yahudi  yang menindas  sesamanya,  penguasa Romawi yang tidak adil. Apa yang dilakukan Yesus, mirip dengan beberapa  nabi Perjanjian lama yang  berkata keras terhadap  kelompok kaya yang menindas.

Misal dalam Yeremias bab 7, Yeremias mengkritik para pemimpin agama.  Para pemimpin agama  selalu pergi ke bait Allah, tetapi mereka tidak  meningalkan kebiasaan buruk,  sehingga mereka sering ke bait Allah  dan melakukan persembahan dan korban,tetapi di luar bait Allah, mereka mencuri dan berzinah.

Yesus memperlakukan mirip yang dilakukan Yeremias. Yesus juga sering mengajar kaum Herodian  yang terkenal sebagai kelompok kaya di zaman Yesus di tengah-tengah kemiskinan.

Beberapa tindakan  Yesus dalam situasi sosio-politis jaman  itu  yang dianggap selesai tindakan politik dan provokator.

1.     Mewartakan kedatangan kerajaan Allah dari Nazareth, Yesus datang  ke gurun Yudea untuk  bertemu Yohanes Pembabptis. Yesus bergabung dengan gerakan  Yohanes pembaptis  yang berseru:”Bertobatlah ! kerajaan surga sudah dekat.” juga dalam doa yang diajarkan kepada para murid, Yesus juga  juga memohon  kedatangan kerajaan surga itu “datanglah kerajaanMu! Dalam Mateus 6:33 ia juga minta kepada para murid untuk lebih dahulu mencari kerajaan Allah. Dalam teks tersebut Yesus tidak  menarik garis apakah yang dimaksud kerajaan Allah adalah sebuah kerajaan yang memah secara riil  dibangun kembali  oleh Allah diantara umatNya ataukah sebuah situasi religius dimana allah memulihkan kembali kesatuaNya dengn umat dan  menjamin keselamatan  bagi umatNya.

Yesus dicurigai penguasa, karena walau kerajaan Allah itu ekskatalogis sifatnya, tapi cita-cita itu mirip impian para pejuang Galilea yang juga mengharapkan pemulihan kerajaan Israel, bagi mereka Allahlah satu-satunya Allah Israel.

Yohanes adalah pendahulu Yesus yang sebetulnya tidak anti imam, walaupun pengunduran  diri ke padang gurun dan jauh dari hirup pikuk  peribadatan Yerusalem, pantas dicurigai sebagai penolakan  terhadap kelompok imam, padahal Yohanes pembaptis sesungguhnya adalah kelompok Esseni, atau kelompok Imam. Dan kelompok Imam dan kelompok aristokrat atau bangsawan  dianggap satu kelas dan menguasai  rumah ibadah Yerusalem, yang juga merupakan  simbol kekuasaan. Itulah  yang mendorong kecurigaan  para imam di Yerusalem sehingga dikrimlah utusan kepada  Yohanes  Pembabtis  untuk menyelidiki sekaligus  menyelidik Yohanes apakah dia Mesias yang dijawab oleh Yohanes Pembaptis bahwa ia bukanlah Mesias, salah seoran rabi ataupun Elia. Ia hanyalah  suara yang b erseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan Tuhan. Ia menyerukan kedatangan kerajaan Allah tanpa melibatkan diri dalam perjuangan – perjuangan politis dan militer yang sudah muncul di zamannya.

Yesus pun, seperti  Yohanes  pembaptis  yang tidak melakukan  perjuangan seperti para pejuang Galelea. Dan kerajaan Allah yang ingin ditegakkan  bukan dengan menggunakan kekuatan perang melawan penjajah ?  yang dilakukan Yesus adalah  dengan mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan. Tetapi toh karna Yesus seorang menarik  masa, tetap saja pemimpin Yahudi dan  Romawi selalu mencurigai gerak-geriknya.

2.    Karena Dia Mesias

Orang Kristen begitu akrab dengan  gelar Yesus sebagai Mesias yang menyatu dalam diri Yesus. Tidak sulit mencari  makna Mesias dalam perjanjian Baru  yang adalah merupakan sosok  raja spiritual dalam diri Yesus yang memulihkan tidak hanya kerajaan bagi  Israel  tetapi juga keselamatan dunia dan manusia. Sementara dalam pemahaman  Yahudi, Mesias pertama-tama dimengerti  sebagai sosok raja politis  yang datang untuk memulihkan kembali  kerajaan bagi Israel.  Jadi tugas nyata yang dihadapi  oleh siapapun yang mengaku sebagai Mesias pada zaman yesus adalah membebaskan Israel dari kuasa penjajah Romawi. Sebagaimana  dikatakan  di atas. Jadi Mesias dalam pandangan Yahudi sarat dengan makna politis. Dalam budaya Jawa kita mengenal konsep ratu adil.

Nah karena sarat makna politis itu  pulalah yang dinyatkan oleh orang-orang yahudi ketika membawa yesus ke hadapan pilatus. Maka bertubi-tubi tuduhan dituduhkan pada Yesus  seperti misalnya Yesus dituduh sebagai penjahat ( Yoh 8:30), Orang yang menyesatkan bangsa, melarang membayar pajak kepada Kaisar, menyatakan diri sebagai Kristus, yaitu Raja ( Luk 23:2). Titulus atau keterangan  yang dipasang oleh Pontius Pilatus di atas kepala yesus di atas salib perlu dibaca dalam konteks sosio –politis zaman itu. Titulus di atas kepala orang yang disalib selalu menunjukkan alasan penyaliban. Seperti kita ketahui Titulus itu ditulis oleh Pilatus “Raja  orang nazareth Raja orang  Yahudi. Pilatus menolak protes orang-orang  Yahudi  atas tulisan di atas  di atas kepala Yesus  karena bagi Pilatus ysus sama dengan orang-orang yang sudah dibunuh dan disalibkannya, yakni mereka yang menyatakan diri sebagai Mesias, raja orang yaghudi, yang ingin bebas dari  Romawi

3.    Care kepada orang Miskin
Masyarakat Galilea di jaman Yesus  terbelah menjadi dua yakni orang kaya dan orang miskin.. Kesamaan yesus dan para pejuang itu, bahwa orang-orang miskin selalu ada di sekitar mereka. Nah di tengah kemapanan  kaum Aristokrat  pemerintahan Herodes Agripa di  Sephoria jua Tiberias, orang miskin juga terkonsentrasi  di situ. Nah para pejuang itulah harapan orang miskin dan kepada mereka, mereka  melakukan protes  terhadapa  bangsa yahudi kaya dan bangsawan yang menindas dan tentu saja pemerintahan Romawi. Maka tidak sedikit orang miskin bergabung dengan perlawanan mereka di Galilea. Kemiskinan yang sungguh-sungguh miskin secara materi itulah juga orang-orang di sekitar yesus, bukan sekedar kemiskinan rohani seperti dimengerti oleh orang-orang Kristen.
4.    Memasuki Yerusalem dan membangun kembali Bait Allah.

Puncak tindakan provokatif  Yesus adalah ketika ia memasuki Yerusalem. Meski  gesekan Yesus adalah gerakan religius, Tetapi karena memasuki Yerusalem, yang idak sekedar  pusat religius Israel, tetapi juga pusat politis. Maka benturan-benturan  politis mejadi tak terelakkan antara Yesus dan para pemimpin Yahudi dan penjajah Romawi yang selalu curiga  terhadap gerakan perlawanan. Ketika masuk Yerusalem itulah para fans  Yesus  bersimpat kepadanya  dan ia disambut sebagai seorang raja. Jadi cara ia disambut  dan reaksi orang-orang yang menyambut akan ditangkap sebagai gerakan politik Oleh kuasa  agama Yahudi dan pemerintah Romawi  dan ada aroma ketakutan dalam diri mereka.

Lebih tak dapat diterima lagi oleh orang  Yahudi adalah ketika  Yesus memasuki bait Allah yang merupakan markas besar para pemimpin Yahudi ( Sanhedrin). Ketegasan Yesus membersihkan  bait Allah: mengusir para pedagang, menjungkirbalikkan meja krusi para penukar uang.  Markus meulis (Mrk 11:17)   Tindakan keras Yesus didasari oleh rasa cinta yang begitu besar terhadap bait Allah, rumah doa yang sekarang sudah dijadikan sarang penyamun.

Para pemimpin Yahudi yang mendengar kata  Yesus, sangat paham dengan ayat kitab suci yang dikutup Yesus yakni Yeremias 7:11, yang dimaksud  sebagai penyamun  bukan hanya  mereka yang berjualan dan menjadi penukar uang, tetapi terutama para pemimpin Yahudi yang membiarkan para pedagang dan penukar uang itu berjualan di sana.  Mereka tidak akan bisa berjualan di lingkungan bait Allah ( wilayah yang disebut sebagai halaman   untuk orang kafir, tanpa ijin dari yang berwenang, jadi kasarnya para penjual  telah menyuap para pemimpin bait Allah. Sikap tegas terhadap kuasa agama akan cepat panggung politik.

Penampilan Yesus di bait Allah itu mengundang resiko berat, karena bait Allah adalah pusat religius Yahudi yang diyakini sebagai tempat kehadiran Allah. Yesus  pertama-tama mengkritik  pemimpin Yahudi  bukan penguasa Romawi. (Imam dan ahli Taurat)  yang menjadi perpanjangan  tangan penjajah. Pada akhirnya, Yesus dibawa kepada  politik, adalah tanda bahwa ia melakukan geraka  politis. Orang-orang  menjadi sangat paham bahwa gerakan yesus adalah gerakan politis. Diantara  orang- orang Galilea yang mebnghendaki pemulihan kerajaan Israel. Tangan Pontius politis sungguh sangat berdarah, dari tangannya para pejuang telah menerima hukuman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar