Jumat, 23 September 2016

APAKAH YESUS SEORANG RADIKAL ?

Ketika orang mendengar kata Teroris reaksinya hampir sama : Teror, kejam, tidak berperikemanusiaan, anti Kristen.  Lalu orang pun mencapnya sebagai seorang radikal.  Lalu apa sih makna radikal itu sesungguhnya. Lalu sampailah kita pada tokoh  yang kita ikuti, Yesus. Ia pun terkenal sebagai tokoh yang keras, tanpa kompromi, anti kemapanan, berani melawan kekuasaan, penganjur nilai-nilai kemanusiaan. Nah,  apakah kualitas karakter kepribadian yang seperti itu hanya dimiliki  seorang yang radikal.

Kalau  Teroris sebagai  kelompok radikal dan Yesus juga dicap seorang radikal, tentu ada bedanya antara keduanya. Karna  buahnya memang berbeda.  Setidaknya perlu dibedakan antara sikap radikal dan radikalisme sebagai isme. Yesus jelas tidak sedang memperjuangkan sebuah isme, kalau ada paham yang sedang diperjuangkan Yesus adalah tegaknya kerajaan Allah.  Tulisan ini membatasi diri pada pandangan bahwa mengapa Yesus kok dianggap seorang radikal.

Kata radikal marak sejak abad 18 yaitu dikaitkan dengan gerakan politik yang  menghendak perubahan revolusioner dan mendasar.  Tetapi istilah radikal sendiri sebetulnya bukanlah monopoliti dunia politik.  Menurut kamus bahasa Indonesia  kata radikal 1. Secara mendasar         ( sampai kehal-hal   yang mendasar ) 2.  Amat keras menuntut Perubahan; 3. Maju dalam berpikir dan bertindak.  Kata radikal berasal dari bahasa  Latin  yang berarti mendasar atau root dalam bahasa Inggris.

Dari makna tersebut, jelas apa yang dilakukan oleh Yesus punya makna radikal. Yesus tidak memperjuangkan kerajaan Allah setengah-setengah tapi total dan radikal.  Yesus pernah mengatakan, kalau imanmu tidak sebesar orang-orang Farisi maka kamu tidak akan naik ke surga. Yang dekat dengan istilah ini adalah fanatik , artinya rohani yang maknanya disempitkan bahwa seorang yang fanatik adalah orang yang tidak  bisa  menerima pendapat orang lain. Dalam Efesus 33:17 dikatakan”..sehingga oleh imanmu Kristu diam di dalam hatimu dan  kamu berakar serta berdasar di dalam kasih...”  Santo  Paulus juga berkata, hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah  hatimu melimpah dengan syukur, Dari penggalan ayat – ayat itu jelas bahwa kalau kita mau mengikuti Yesus kita harus menjadi seorang yang  radikal.

Tentu saja yang diperjuangkan Yesus bukanlah radikalisme sempit, yang tertutup dan tak bisa menerima  pandangan orang lain, atau enggan berdialog dengan orang lain. Yesus juga bukan seorang tokoh politik yang berjuang secara politik, walau ajaran yang dibawakannya punya imbas politik.  Yesus juga menolak untuk dijadikan mesias politik oleh kaum Zelot,  bahkan beberapa muridnya sebelumnya juga punya pandangan kaum Zelot. Yang diperjuangkan Yesus jauh lebih itu. Jadi menjadi debatable juga apakah Yesus itu seorang radikal atau seorang moderat. Saya hanya mengajak untuk melihat Yesus secara utuh. Bukan Yesus menurut saya tetapi Yesus menurut Perjanjian Baru.

Secara  teologis biblis, menurut  Dr. St. Eko Riyadi, Pr  Yesus bukanlah seorang radikal  yang bergerak dalam bentuk – bentuk kekerasan untuk mencapai tujuanNya. Namun demikian, kematian Yesus di kayu salib tidak bisa dibaca  tanpa mempergunakan kaca mata  orang zaman  Yesus  dalam memahami hukuman  salib yang sebetulnya merupakan sebuah hukuman politis  yang biasa diterapkan pemerintah Romawi  bagi para pejuang yang melawan  dan membahayakan kekuasaan Romawi.  Menurut Romo Eko  Riyadi, Gerakan Yesus memiliki dimensi sosio-politis  yang pasti tidak lepas begitu saja dari pengawasan penguasa Roma yang waktu itu menguasai wilayah Palestina.

Pada sisi lain, kehadiran  Yesus ( baca bukan Yesus dalam Perjanjian Baru )  bisa dilihat dari sisi sosial Poliltik pada zamannya karena tindakan yesus pun  punya efek atau implikasi  politis yang menghadapkan Dia  pada benturan  baik dengan penguasa  Yahudi maupun penguasa Romasi.

Yesus dalam situasi sosio politik Yahudi  Romawi.

Yesus hidup  pada zaman ketika Israel secara politis dijajah romawi sejak 63 SM, pada saat itu Pompeyus  berhasil menaklukkan Plestina.  Injil Lukas mengatakan Yesus lahir ketika Kirenius menjadi wali negeri Siria.  Penguasa Yudea saat Yesus lahir adalah Herodes Agung, yang sebetulnya adalah antek atau kaki tangan Roma atau Palestina. Hadirnya Romawi membawa berkah bagi bangsawan atau kaum Aristokrat  yaitu kelompok imam dan  kelompok atas. Terutama yang ada di perkotaan. Dan ketika Romawi berkuasa, ada perpindahan dari kampung ke perkotaan. Ada ketegangan antara orang Yahudi dan orang  Romawi.  Romawi membangun fasilitas umum seperti jalan dan jembatan dan itu tentu membutuhkan biaya.Penguasa Romawi kadang mengambil kekayaan Palestina ( termasuk harta persembahan di Bait Allah ) dan juga kekayaan rakyat untuk membiayai proyek-proyek besar mereka.  Tak dapata terhindarkan juga korupsi para gubernur Romawi di palestina dengan memanfatkan jabatan tinggi  untuk memperkaya diri  dan sebagai batu loncatan untuk meraih jabatan yang lebih bergengsi.

Dalam situasi tertekan ini, tak jarang muncul gerakan melawan Romawi dan mereka  menamai diri sebagai  mesias  dan  menganggap diri bahwa gerakan mereka seirama dengan gagasan apoklaiptik  tentang kerajaan baru  yang akan dipulihkan oleh Allah.  Mereka menyebut diri pembuka zaman baru. Menghadapi mereka, penguasa Romawi sangat tegas.  Terhadap kelompok ini Orang romawi memastikan bahwa diantara mereka tidak ada yang selamat.

Sementara itu penguasaan  Romawi atas  Plesltina menumbuhsuburkan dambaan apokaliptik akan pengadilan Allah yang akan segera tiba. Beberapa orang menganggap diri sebagai pembawa pesan, tapi  karna ada unsur politis dan militerlah, yang menyebabkan  Romawi bertindak tegas. Untuk memberi dasar religius pada  gerakan ini yang memikat rakyat  mereka membungkus gerakan dengan dengan semangat religius yakni kecintaan  pada Allah dan pada tanah nenek moyang.  Yang terkenal adalah Theudas yang memiliki empat ratus murid yang akhirnya dipenggal kepalanya oleh  Romawi kemudina muncul juga si Mesir yang juga akhirnya ditindas oleh   Romawi. Di Zaman  Yesus,  Athroges menyatakan diri sebagai raja  orang Yahudi dan dihancurkan oleh Roma.  Kemudian ada juga : “Sisamaria”  yang juga disalibkan Pilaltus meskipun tidak melakukan perlawanan militer terhadap  Roma. Di luar mereka masih ada tokoh seperti Hezekiah yang terkenal sebagai bandit Galilea, Simon dari Perea, Yudas dari Galilea, Simon anak yora, Simon bar Kokba.  Mereka adalah figur-figur mesianisk yang dibasmi Penguasa  Romawi.

Galilea sendiri yang menjadi wilayah dimana  Yesus tinggal, adalah lahan subur  bagi muncul sebagai gerakan  yang mengaku sebagai mesias dan melakukan gerakan  perlawanan terhadap romawi. Tidak hanya terhadap penguasa  Romawi, mereka juga melawan para Aristokrat  Yahudi yang menjadi antek Romawi. Di sekitar mereka banyak orang miskin  yang tersisish dari kehidupan sosial  yang membangkitkan perlawanan terhadap  Romawi.  Orang Romawi menamai mereka lestes atau bandit.  Kelompok bandit  inilah yang akan menjadi kekuatn utama kaum zelot dalam melawan pemerintah  Romawi.

Mesias dan pemulihan kerajaan Apokaliptik

Kaum zelot dan  beberapa orang yang menampilkan diri sebagai pembawa keailan Allah yang tampil untuk mengawali pemulihan kerajaan Allah di dunia ( bedakan dengan Kerajaan AllahNya Yesus, yakni kerajaan Allah di surga). Banyak kaum zelot yang mengau sebagi mesis. Dalam pemahaman umum, seorang   Mesias  adalah dia yang diurapi  dengan minyak  yang diyakini seagai keluarga Daud  sehingga tugas utamanya membangun  kembali israel dan memulihkan kerajaan Daud.  Menyatakan diri sebagai Mesias  pada masa itu sama artinya dengan menantang Romawi untuk berperang karena Mesias adalah raja Israel. Menjadi Mesias berarti menjadi raja israel yang harus berlawanan dengan penguasa Romawi. Hreodes Agung pada masa awal pemerintahannya membasmi kelompok  bandit di Galilea  ini dan membunuh Hezekiah yang menjadi pemimpinnya.

Tindakan keras  roma terhadap pemimpin perjuangan, menandakan betapa sensitifnya keberadaan  pasukan perlawanan.

Oleh karenanya, walau gerakan Yesus tidak bertujuan untuk menegakkan kerajaan di dunia ini ( seperti jawaban Yesus di hadapan Pilatus ketika  Yesus diadili.  Toh gerakan Yesus tak luput dari pengawasan Romawi, apalagi kalau gerakannya menarik minat banyak orang  (terutama dari kelompok miskin ) untuk mengikutinya.  Yesus orang Galilea  dan ciri Galilea yang miskin dan pensuplai banyak pejung, turut mewarnai gerakan Yesus.  Di sekitarnya muncul orang miskin, orang terbuang, orang sakit. Yesus mewartakan datangnya kerajaan Allah  ( Balileia tou Theou). Dalam dunia Yunani – Romawi basilea merupakan  sebuah gambaran  imanatif  yang digunakan oleh orang tertindas dalam perlawanan mereka terhadap  Romawi.

Yesus sendiri menyadari bahwa diantara para pengikutnya mungkin saja ada yang salah menafsirkan gerakannya. Dari kerumunan yang sering mengikutinya ada yang tertarik karena gerakan politik.  Benar Yesus disalibkan, apalagi ia disalibkan bersama yang oleh orang orang Romawi dianggap sebagai bandit, karena perlawanannya.  Tetapi alasan Yesus disalib bukan karena ia telah melakukan perlawanan terhadap  Roma, tapi karena ia dianggap telah mengaku sebagai raja Yahudi.


Gerakan Yesus berakar pada gerakan pertobatan  yang diserukan oleh Yohanes Pembabtis. Orang perlu bertobat  di hadapan kerajaan Allah  yang semakin mendekat. Pertobatan ditandai  dengan pembaptisan oleh Yohanes di sungai Yordan. Yesus yang masuk  gerakan itu, memilih untuk  meninggalkan padang gurun Yudesa ketika Yohanes dipenjarakan oleh Herodes Agripa.  Kemudian ia mengajar , mengusir setan, menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan cara itulah Ia menghadirkan kerajaan Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar