APAKAH YESUS SEORANG RADIKAL ?
Ketika orang mendengar kata Teroris reaksinya
hampir sama : Teror, kejam, tidak berperikemanusiaan, anti Kristen. Lalu orang pun mencapnya sebagai seorang
radikal. Lalu apa sih makna radikal itu
sesungguhnya. Lalu sampailah kita pada tokoh
yang kita ikuti, Yesus. Ia pun terkenal sebagai tokoh yang keras, tanpa
kompromi, anti kemapanan, berani melawan kekuasaan, penganjur nilai-nilai
kemanusiaan. Nah, apakah kualitas
karakter kepribadian yang seperti itu hanya dimiliki seorang yang radikal.
Kalau Teroris sebagai kelompok radikal dan Yesus juga dicap seorang
radikal, tentu ada bedanya antara keduanya. Karna buahnya memang berbeda. Setidaknya perlu dibedakan antara sikap
radikal dan radikalisme sebagai isme. Yesus jelas tidak sedang memperjuangkan
sebuah isme, kalau ada paham yang sedang diperjuangkan Yesus adalah tegaknya
kerajaan Allah. Tulisan ini membatasi
diri pada pandangan bahwa mengapa Yesus kok dianggap seorang radikal.
Kata radikal marak sejak abad 18 yaitu
dikaitkan dengan gerakan politik yang
menghendak perubahan revolusioner dan mendasar. Tetapi istilah radikal sendiri sebetulnya
bukanlah monopoliti dunia politik.
Menurut kamus bahasa Indonesia
kata radikal 1. Secara mendasar
( sampai kehal-hal yang mendasar
) 2. Amat keras menuntut Perubahan; 3.
Maju dalam berpikir dan bertindak. Kata
radikal berasal dari bahasa Latin yang berarti mendasar atau root dalam bahasa
Inggris.
Dari makna tersebut, jelas apa yang dilakukan
oleh Yesus punya makna radikal. Yesus tidak memperjuangkan kerajaan Allah
setengah-setengah tapi total dan radikal.
Yesus pernah mengatakan, kalau imanmu tidak sebesar orang-orang Farisi
maka kamu tidak akan naik ke surga. Yang dekat dengan istilah ini adalah
fanatik , artinya rohani yang maknanya disempitkan bahwa seorang yang fanatik
adalah orang yang tidak bisa menerima pendapat orang lain. Dalam Efesus
33:17 dikatakan”..sehingga oleh imanmu Kristu diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam
kasih...” Santo Paulus juga berkata, hendaklah kamu berakar
di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah hatimu melimpah dengan syukur, Dari penggalan
ayat – ayat itu jelas bahwa kalau kita mau mengikuti Yesus kita harus menjadi
seorang yang radikal.
Tentu saja yang diperjuangkan Yesus bukanlah
radikalisme sempit, yang tertutup dan tak bisa menerima pandangan orang lain, atau enggan berdialog
dengan orang lain. Yesus juga bukan seorang tokoh politik yang berjuang secara
politik, walau ajaran yang dibawakannya punya imbas politik. Yesus juga menolak untuk dijadikan mesias
politik oleh kaum Zelot, bahkan beberapa
muridnya sebelumnya juga punya pandangan kaum Zelot. Yang diperjuangkan Yesus
jauh lebih itu. Jadi menjadi debatable juga apakah Yesus itu seorang radikal
atau seorang moderat. Saya hanya mengajak untuk melihat Yesus secara utuh.
Bukan Yesus menurut saya tetapi Yesus menurut Perjanjian Baru.
Secara teologis biblis, menurut Dr. St. Eko Riyadi, Pr Yesus bukanlah seorang radikal yang bergerak dalam bentuk – bentuk kekerasan
untuk mencapai tujuanNya. Namun demikian, kematian Yesus di kayu salib tidak
bisa dibaca tanpa mempergunakan kaca
mata orang zaman Yesus
dalam memahami hukuman salib yang
sebetulnya merupakan sebuah hukuman politis
yang biasa diterapkan pemerintah Romawi
bagi para pejuang yang melawan
dan membahayakan kekuasaan Romawi.
Menurut Romo Eko Riyadi, Gerakan
Yesus memiliki dimensi sosio-politis
yang pasti tidak lepas begitu saja dari pengawasan penguasa Roma yang
waktu itu menguasai wilayah Palestina.
Pada sisi lain, kehadiran Yesus ( baca bukan Yesus dalam Perjanjian
Baru ) bisa dilihat dari sisi sosial
Poliltik pada zamannya karena tindakan yesus pun punya efek atau implikasi politis yang menghadapkan Dia pada benturan
baik dengan penguasa Yahudi
maupun penguasa Romasi.
Yesus dalam situasi sosio politik Yahudi Romawi.
Yesus hidup
pada zaman ketika Israel secara politis dijajah romawi sejak 63 SM, pada
saat itu Pompeyus berhasil menaklukkan
Plestina. Injil Lukas mengatakan Yesus
lahir ketika Kirenius menjadi wali negeri Siria. Penguasa Yudea saat Yesus lahir adalah
Herodes Agung, yang sebetulnya adalah antek atau kaki tangan Roma atau
Palestina. Hadirnya Romawi membawa berkah bagi bangsawan atau kaum
Aristokrat yaitu kelompok imam dan kelompok atas. Terutama yang ada di
perkotaan. Dan ketika Romawi berkuasa, ada perpindahan dari kampung ke
perkotaan. Ada ketegangan antara orang Yahudi dan orang Romawi.
Romawi membangun fasilitas umum seperti jalan dan jembatan dan itu tentu
membutuhkan biaya.Penguasa Romawi kadang mengambil kekayaan Palestina (
termasuk harta persembahan di Bait Allah ) dan juga kekayaan rakyat untuk
membiayai proyek-proyek besar mereka. Tak
dapata terhindarkan juga korupsi para gubernur Romawi di palestina dengan
memanfatkan jabatan tinggi untuk
memperkaya diri dan sebagai batu
loncatan untuk meraih jabatan yang lebih bergengsi.
Dalam situasi tertekan ini, tak jarang muncul
gerakan melawan Romawi dan mereka menamai diri sebagai mesias
dan menganggap diri bahwa gerakan
mereka seirama dengan gagasan apoklaiptik
tentang kerajaan baru yang akan
dipulihkan oleh Allah. Mereka menyebut
diri pembuka zaman baru. Menghadapi mereka, penguasa Romawi sangat tegas. Terhadap kelompok ini Orang romawi memastikan
bahwa diantara mereka tidak ada yang selamat.
Sementara itu penguasaan Romawi atas
Plesltina menumbuhsuburkan dambaan apokaliptik akan pengadilan Allah
yang akan segera tiba. Beberapa orang menganggap diri sebagai pembawa pesan,
tapi karna ada unsur politis dan
militerlah, yang menyebabkan Romawi
bertindak tegas. Untuk memberi dasar religius pada gerakan ini yang memikat rakyat mereka membungkus gerakan dengan dengan
semangat religius yakni kecintaan pada
Allah dan pada tanah nenek moyang. Yang terkenal
adalah Theudas yang memiliki empat ratus murid yang akhirnya dipenggal
kepalanya oleh Romawi kemudina muncul
juga si Mesir yang juga akhirnya ditindas oleh
Romawi. Di Zaman Yesus, Athroges menyatakan diri sebagai raja orang Yahudi dan dihancurkan oleh Roma. Kemudian ada juga : “Sisamaria” yang juga disalibkan Pilaltus meskipun tidak
melakukan perlawanan militer terhadap Roma. Di luar mereka masih ada tokoh seperti
Hezekiah yang terkenal sebagai bandit Galilea, Simon dari Perea, Yudas dari
Galilea, Simon anak yora, Simon bar Kokba.
Mereka adalah figur-figur mesianisk yang dibasmi Penguasa Romawi.
Galilea sendiri yang menjadi wilayah
dimana Yesus tinggal, adalah lahan
subur bagi muncul sebagai gerakan yang mengaku sebagai mesias dan melakukan
gerakan perlawanan terhadap romawi. Tidak
hanya terhadap penguasa Romawi, mereka
juga melawan para Aristokrat Yahudi yang
menjadi antek Romawi. Di sekitar mereka banyak orang miskin yang tersisish dari kehidupan sosial yang membangkitkan perlawanan terhadap Romawi.
Orang Romawi menamai mereka lestes atau bandit. Kelompok bandit inilah yang akan menjadi kekuatn utama kaum
zelot dalam melawan pemerintah Romawi.
Mesias dan pemulihan kerajaan Apokaliptik
Kaum zelot dan
beberapa orang yang menampilkan diri sebagai pembawa keailan Allah yang
tampil untuk mengawali pemulihan kerajaan Allah di dunia ( bedakan dengan
Kerajaan AllahNya Yesus, yakni kerajaan Allah di surga). Banyak kaum zelot yang
mengau sebagi mesis. Dalam pemahaman umum, seorang Mesias
adalah dia yang diurapi dengan
minyak yang diyakini seagai keluarga
Daud sehingga tugas utamanya membangun kembali israel dan memulihkan kerajaan
Daud. Menyatakan diri sebagai
Mesias pada masa itu sama artinya dengan
menantang Romawi untuk berperang karena Mesias adalah raja Israel. Menjadi
Mesias berarti menjadi raja israel yang harus berlawanan dengan penguasa
Romawi. Hreodes Agung pada masa awal pemerintahannya membasmi kelompok bandit di Galilea ini dan membunuh Hezekiah yang menjadi
pemimpinnya.
Tindakan keras
roma terhadap pemimpin perjuangan, menandakan betapa sensitifnya
keberadaan pasukan perlawanan.
Oleh karenanya, walau gerakan Yesus tidak
bertujuan untuk menegakkan kerajaan di dunia ini ( seperti jawaban Yesus di
hadapan Pilatus ketika Yesus
diadili. Toh gerakan Yesus tak luput
dari pengawasan Romawi, apalagi kalau gerakannya menarik minat banyak orang (terutama dari kelompok miskin ) untuk mengikutinya. Yesus orang Galilea dan ciri Galilea yang miskin dan pensuplai
banyak pejung, turut mewarnai gerakan Yesus.
Di sekitarnya muncul orang miskin, orang terbuang, orang sakit. Yesus
mewartakan datangnya kerajaan Allah (
Balileia tou Theou). Dalam dunia Yunani – Romawi basilea merupakan sebuah gambaran imanatif yang digunakan oleh orang tertindas dalam
perlawanan mereka terhadap Romawi.
Yesus sendiri menyadari bahwa diantara para
pengikutnya mungkin saja ada yang salah menafsirkan gerakannya. Dari kerumunan
yang sering mengikutinya ada yang tertarik karena gerakan politik. Benar Yesus disalibkan, apalagi ia disalibkan
bersama yang oleh orang orang Romawi dianggap sebagai bandit, karena
perlawanannya. Tetapi alasan Yesus
disalib bukan karena ia telah melakukan perlawanan terhadap Roma, tapi karena ia dianggap telah mengaku
sebagai raja Yahudi.
Gerakan Yesus berakar pada gerakan
pertobatan yang diserukan oleh Yohanes
Pembabtis. Orang perlu bertobat di
hadapan kerajaan Allah yang semakin
mendekat. Pertobatan ditandai dengan pembaptisan
oleh Yohanes di sungai Yordan. Yesus yang masuk
gerakan itu, memilih untuk
meninggalkan padang gurun Yudesa ketika Yohanes dipenjarakan oleh Herodes
Agripa. Kemudian ia mengajar , mengusir
setan, menyembuhkan banyak orang sakit. Dengan cara itulah Ia menghadirkan
kerajaan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar