KRISTEN MENJAWAB ATAS KRITIK DUA KODRAT YESUS
Sampai hari ini perdebatan mengenai ajaran mengenai dua kodrat dan
mengenai inkarnas Yesus belum selesai sebagai perdebatan. Salah satu yang paling gigih menolak ajaran inkarnasi yang dikukuhkan seperti dalam rumusan dari Konsili Kalcedon adalah seorang teolog yang bernama
Hick. Sekedar kita mengingat ulang bahwa rumusan Sahadat Kristen yang kita
kenal atau yang kita kenal sebagai Sahadat para rasul, sudah dirumuskan dalam konsili Nicea dan
Konsili Konstantinopel. Tetapi kemudian
seorang uskup yang bernama Arius mengajarkan ajarannya yang membuatnya sebagai
bidaah yaitu yang mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua kodrat dan dua pribadi.
Bahwa Yesus memiliki dua kodrat memang ya tetapi bahwa Yesus memiliki dua
pribadi itulah yang ditentang oleh Gereja.
Oleh karenanya konsili Kalcedon mengundang para bapa Konsili ( begitulah
sering disebut untuk para uskup yang diundang ke konsili). Lima ratus uskup hadir dan salah satu
keputusan adalah mengukuhkan rumusan dua konsili terdahulu bahwa Yesus memiliki
dua kodrat dan satu pribadi. Dan merumuskan sahadat seperti yang kita gunakan
yang juga sering disebut sahadat Neceani. Dari lima ratus uskup hanya satu yang
tidak setuju dengan rumusan yang kini kita kenal dengan sebutan sahadat para
rasul. Rumusannya yang panjang adalah:
Aku percaya akan satu Allah yang Maha Kuasa,
Pencipta Langit dan Bumi,
Dan Segala Sesuatu yang kelihatan dan tak
kelihatan.
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah Yang Tunggal,
Ia lahir
dari Bapa,
Sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan.
Sehakekat dengan Bapa,
Segala sesuatu dijadikan olehNya,
Ia Turun dari Surga untuk kita manusia
Dan untuk keselamatan Kita,
Dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus,
Dari perawan Maria,
Dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk Kita
Waktu
Ponsius Pilatus,
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan,
Pada hari ketiga ia bangkit,
Menurut Kitab Suci.
Ia Naik ke surga
Duduk di sebelah kanan Bapa
Ia akan kembali dengan mulia,
Mengadili orang hidup dan mati,
kerajaanNya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Tuhan yang menghidupkan,
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
Disembah dan dimuliakan,
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi,
Kami percaya akan gereja,
Yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik,
Aku mengakui satau pembaptisan,
Akan penghapusan dosa,
Aku menantikan kebangkitan orang mati,
Dan hidup di akherat
Amin
Kembali pada Hick yang mengkritik rumusan
Konsili kalcedon yang berpusat pada inkarnasi Yesus. Ia melakukan pendekatan dengan pendekatan
sejarah dan bahasa. Dari sudut pandang sejarah, Hick mempunyai keyakinan bahwa
ia (Yesus ) selama di dunia tidak
memahami dirinya sebagai pribadi kedua Ilahi dari Allah Tri Tunggal.
Dan kritik Hick
berikutnya, bahwa sebetulnya para murid
mengungkapkan iman dan antusiasme mereka atas Yesus yang menyelamatkan
dan membebaskan, para murid menggunakan gambaran-gambaran, istilah yang ada
dalam budaya setempat. Tentu saja perlu
dipertanyakan pandangan Hick, atau mungkin dia tidak begitu cermat membaca
alkitab, sehingga ia membuat tafsiran yang agak bebas. Hick kemudian menyesalkan
mengapa ungkapan Putra Tuhan Bisa berubah menjadi Tuhan Anak. Masih banyak
kritik dari Hick, tetapi dari sini kita dapat menangkap posisinya. Lalu apa
jawaban kita sebagai orang yang mengimani Yesus sebagai putra Bapa yang tidak
sekedar metafora atau gambaran belaka ?
Ada beberapa pendapat yang membela iman Kristen
dan kami pilihkan beberapa pendapat untuk membela iman Kristen. Kesimpulan Hick, menurut beberapa teolog
Kristen tidak memiliki dasar yang cukup.
Bahwa penelitian historis tidak mungkin menemukan bukti keilahian Yesus. Bahwa ada sesuatu yang tidak logis tidak
berarti bahwa Yesus tidak Ilahi. Bahwa
yang tidak mungkin dipikirkan akal budi bukan berarti tidak mungkin ada.
Dalam bukunya teologi Kontekstual (hal 320 ) Dr
Adrianus Sunarko, OFM menulis bahwa Pengakuan akan Yesus Putra Allah dan bahwa Allah sendiri hadir
dalam pribadi Yesus Kristus
adalah hal yang melampaui bidang penelitian historis. Yang diajukan Hick
bukanlah bukti, karena memang kebenaran Iman
tidak bisa ditemukan oleh akal budi historis. Dan Pengakuan akan Dia sebagai yang datang dari Allah, yang menjelma
menjadi manusia adalah sebuah keputusan
iman yang tanpa dasar. Dan keputusan iman itulah yang diambil oleh orang-orang
yang menyebut diri dan disebut sebagai orang Kristen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar