Minggu, 11 September 2016

KRISTEN MENJAWAB ATAS KRITIK DUA KODRAT YESUS

Sampai hari ini perdebatan  mengenai ajaran mengenai dua kodrat dan mengenai inkarnas Yesus belum selesai sebagai perdebatan.   Salah satu yang paling gigih menolak ajaran  inkarnasi yang dikukuhkan seperti dalam rumusan dari Konsili Kalcedon adalah seorang teolog yang bernama Hick. Sekedar kita mengingat ulang bahwa rumusan Sahadat Kristen yang kita kenal  atau yang  kita kenal sebagai Sahadat para rasul,  sudah dirumuskan dalam konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel.  Tetapi kemudian seorang uskup yang bernama Arius mengajarkan ajarannya yang membuatnya sebagai bidaah yaitu yang mengajarkan bahwa Yesus memiliki dua kodrat dan dua pribadi. Bahwa Yesus memiliki dua kodrat memang ya tetapi bahwa Yesus memiliki dua pribadi itulah yang ditentang oleh Gereja.  Oleh karenanya konsili Kalcedon mengundang para bapa Konsili ( begitulah sering disebut untuk para uskup yang diundang ke konsili).  Lima ratus uskup hadir dan salah satu keputusan adalah mengukuhkan rumusan dua konsili terdahulu bahwa Yesus memiliki dua kodrat dan satu pribadi. Dan merumuskan sahadat seperti yang kita gunakan yang juga sering disebut sahadat Neceani. Dari lima ratus uskup hanya satu yang tidak setuju dengan rumusan yang kini kita kenal dengan sebutan sahadat para rasul. Rumusannya yang panjang adalah:

Aku percaya akan satu Allah yang Maha Kuasa,
Pencipta Langit dan Bumi,
Dan Segala Sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah Yang Tunggal,
Ia  lahir dari Bapa,
Sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan.
Sehakekat dengan Bapa,
Segala sesuatu dijadikan olehNya,
Ia Turun dari Surga untuk kita manusia
Dan untuk keselamatan Kita,
Dan Ia menjadi daging oleh  Roh Kudus,
Dari perawan Maria,
Dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk Kita
Waktu  Ponsius Pilatus,
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan,
Pada hari ketiga ia bangkit,
Menurut Kitab Suci.
Ia Naik ke surga
Duduk di sebelah kanan Bapa
Ia akan kembali dengan mulia,
Mengadili orang hidup dan mati,
kerajaanNya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Tuhan yang menghidupkan,
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
Disembah dan dimuliakan,
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi,
Kami percaya akan gereja,
Yang Satu, Kudus,  Katolik dan Apostolik,
Aku mengakui satau pembaptisan,
Akan penghapusan dosa,
Aku menantikan kebangkitan orang mati,
Dan hidup  di akherat
Amin

Kembali pada Hick yang mengkritik rumusan Konsili kalcedon yang berpusat pada inkarnasi Yesus.  Ia melakukan pendekatan dengan pendekatan sejarah dan bahasa. Dari sudut pandang sejarah, Hick mempunyai keyakinan bahwa ia (Yesus )  selama di dunia tidak memahami dirinya sebagai pribadi kedua Ilahi dari Allah Tri  Tunggal.

Dan kritik Hick  berikutnya, bahwa sebetulnya para murid  mengungkapkan iman dan antusiasme mereka atas Yesus yang menyelamatkan dan membebaskan, para murid menggunakan gambaran-gambaran, istilah yang ada dalam budaya setempat.  Tentu saja perlu dipertanyakan pandangan Hick, atau mungkin dia tidak begitu cermat membaca alkitab, sehingga ia membuat tafsiran yang agak bebas. Hick kemudian menyesalkan mengapa ungkapan Putra Tuhan Bisa berubah menjadi Tuhan Anak. Masih banyak kritik dari Hick, tetapi dari sini kita dapat menangkap posisinya. Lalu apa jawaban kita sebagai orang yang mengimani Yesus sebagai putra Bapa yang tidak sekedar metafora atau gambaran belaka ?

Ada beberapa pendapat yang membela iman Kristen dan kami pilihkan beberapa pendapat untuk membela iman Kristen.  Kesimpulan Hick, menurut beberapa teolog Kristen  tidak memiliki dasar yang cukup. Bahwa penelitian historis tidak mungkin menemukan bukti keilahian Yesus.  Bahwa ada sesuatu yang tidak logis tidak berarti bahwa Yesus tidak Ilahi.  Bahwa yang tidak mungkin dipikirkan akal budi bukan berarti tidak mungkin ada. 

Dalam bukunya teologi Kontekstual (hal 320 ) Dr Adrianus Sunarko, OFM  menulis bahwa Pengakuan akan  Yesus Putra Allah dan bahwa Allah sendiri hadir  dalam pribadi Yesus Kristus  adalah hal yang melampaui bidang penelitian historis. Yang diajukan Hick bukanlah bukti, karena memang kebenaran Iman  tidak bisa ditemukan oleh akal budi historis.  Dan Pengakuan akan Dia  sebagai yang datang dari Allah, yang menjelma menjadi manusia  adalah sebuah keputusan iman yang tanpa dasar. Dan keputusan iman itulah yang diambil oleh orang-orang yang menyebut diri dan disebut sebagai orang Kristen.

Kalau kita baca internet atau youtube pendapat Hick sering diulang-ulang, pendapat itu antara lain mengatakan bahwa rumusan bahwa Yesus putra Allah itu adalah keputusan Kaisar Konstantin  untuk penyatuan politik. Padahal kalau kita baca kitab suci, yang lebih dulu ada sebelum konsili Nicea di tahun 325, iman akan Yesus Kristus sebagai putra Allah  sudah ada, itu juga bukan ajaran Paulus. Kita memang sedang mengalami jaman yang tidak mudah bagi iman kita, kita terus diserang tetapi kitapun tidak ingin iman kita akan Yesus Kristus terus didangkalkan. Persoalannya cukup sederhana sebetulnya kita mengimani dan merka tidak, kita punya sumber otentik yaitu Kitab Suci dan ajaran gereja, di pihak sana sekedar spekulasi. Mereka belum menerima kebenaran tapi seolah-olah sudah menerima kebenaran. Tetapi iman yang kita yakini adalah sangat meyakinkan, dan keputusan kita sebagai orang Kristen adalah keputusan iman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar