MENJADI GEREJA YANG BERGEMBIRA
Gereja adalah meneruskan kabar suka cita
Kristus dan sebanyak mungkin menjangkau banyak orang. Tetapi siapa yang setiap
hari membaca alkitab ? bagaimana kita
mau menyebar sukacita Kristus kalau kita tak pernah kenal sabda Yesus dan Sabda Yesus hanya terdapat di dalam alkitab.
Persoalannya, kebiasaan orang Katolik
membaca Alkitab itu belumlah lama. Dahulu membaca kitab suci adalah bagiannya
imam, awam tidak. Dan bertahun-tahun bahkan berabad-abad awam hanya membaca katekismus Gereja Katolik.
Ini menjadi persoalan ketika Konsili Vatikan
menganjurkan agar umat katolik, tidak hanya para imamnya saja, untuk membaca
Alkitab. Menjadi persoalan ketika fasilitas untuk itu belumlah memadai. Untunglah
kini gairah yang sulit dibangkitkan terbantu ketika ketika
setiap bulan September kita
diajak bergairah untuk membaca kitab suci dalam apayang sering kita sebut sebagai Bulan Katekese Kitab suci Nasional..
Konsili Vatikan mengajak kita untuk berubah,
untuk menjadikan Gereja memperbarui diri. Salah satu adalah gairah untuk
membaca Sabda Allah. Konstitus Dogmatis
Dei Verbum dalam mukadimahnya berkata begini :” Sambil mendengarkan Sabda Allah
degan Khidmat dan mewartakannya penuh kepercayaan, Konsili suci mematuhi amanat
Santo Yohanes:”kami mewartakan kepadamu hidup kekal, yang ada pada bapa dan
telah nampak kepada kami: Yang kami lihat dan kami dengar, itulah yang kami
wartakan kepadamu, supaya kamupunberoleh persekutuan kita bersama Bapa dan
PuteraNya Yesus Kristus (1 Yoh 1:2-3).
Dalam bulan kitab suci ini kita akan mengembalikan jati diri
kekatolikan kita seturut dari keinginan Konsili Trente dan Konsili Vatikan I,
yang menginginkan ajaran asli tentang
Wahyu Ilahi yang diteruskan oleh Konsili Vatikan II. Supaya dengan mendengarkan pewartaan
keselamatan seluruh dunina mengimaninya,
dengan beriman berharap, dan dengan berharap mencitainya (lih. Santo
Agustinus, Tentang mengajar agama kepada
mereka yang serba tidak tahu, bab IV,8:PL 40:316 ).
Menjadi Katolik itu mewartakan. Lagi-lagi kita
sering membuat alasan seperti yang pernah dilakukan Yeremias, Musa maupun Yunus
yang membuat dalih, aku tidak pantas, aku masih muda, aku tidak fasih berbicara. Dan banyak dalih.
Kalau terlalu banyak dalih, pasti gereja Katolik tak pernah punya nama-nama
seperti Paulus, Petrus, Ignatius,
Fransiscus Xaverius dan nama beken lainnya.
Dan dalih terbesar kita sebagai orang
Katolik modern, mewartakan Yesus bukanlah urusanku. Persis itulah yang
mau dibongkar oleh konsili Vatikan II.
Paus Fransiscus menerjemahkan tantangan misioner gereja modern lewat
ensikliknya Evangellii Gaudium. Gereja, kata
Paus Fransiskus haruslah menjadi gereja yang penuh lumpur, sehingga Paus
pernah menantang para uskup untuk keluar
dari gereja. Ensiklik itu menghendaki
agar kita menjadi pewarta yang bergembira.
Sebagaimana dikatakan oleh Paus, konsekuensi sukacita Injil , seorang
pewarta kabar baik tak pernah boleh terlihat seperti seseorang yang baru
pulang dari upacara penguburan. Paus mengajak kita agar sukacita pewartaan kabar Baik yang menyenangkan dan Indah,
sekalipun kita harus memetik panenan
dengan cucuran air mata. Kita hendaknya bukan menjadi pewarta kabar baik
yang patah semangat, yang sering kehilangan kesabaran dan cemas melainkan dari
pelayan-pelayan Injil yang berupaya
memancarkan cahaya penuh keceriaan, karena lebih dahulu telah menerima sucatia
Kristus.
Setiap orang
Kristen berhak menerima sukacita Kristus, dan setiap orang memiliki kkewajiban Injil tanpa
mengcualikan siapapun. Para pewarta
Injil harus tampil sebagai orang yang
hendak membagikan sukacita, membawa mereka pada cakarawala hidup yang indah. Ikut serta dalam perjamuan
yang nikmat. Jadi bagaimana kita bisa membagikan kepada orang lain kalau
sukacita injil itu indah kalau kita tidak pernah menikmati bahwa Ekaristi itu
membahagiakan. Jadi mengikuti ekaristi bukan lagi kewajiban tapi anugerah dan
mewartakan Injil bukan lagi beban tapi suka cita.
Nah saatnya kita bagikan kegembiraan kita untuk
menyongsong Bulan Kitab Suci Nasional dan pada saatnya kita dapat
membagikan kebahagiaan kita kepada orang lain. BKSN tidak lagi menjadi
rutinitas yang keberadaannya bukan sekedar ada, tetapi sudah saatnya BKSN menjadi tonggak gereja yang punya semangat
misioner. Paus Fransiskus mengajak agar
gereja yang keluar menjadi komunitas murid Kristus yang mengambil langkah pertama ( premerear),
sebab kalau kita mengikuti Tuhan kita akan mengambil karakternya, yaitu selalu
berinisiatif.
Dan kita misioner karena kita katolik atau bisa juga dirumuskan dengan kata yang lain
karena kita katolik maka kita harus misioner.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar