Jumat, 09 September 2016

MENJADI GEREJA YANG BERGEMBIRA

Gereja adalah meneruskan kabar suka cita Kristus dan sebanyak mungkin menjangkau banyak orang. Tetapi siapa yang setiap hari membaca alkitab ?  bagaimana kita mau menyebar sukacita Kristus kalau kita tak pernah kenal  sabda Yesus dan  Sabda Yesus hanya terdapat di dalam alkitab. Persoalannya, kebiasaan orang  Katolik membaca Alkitab itu belumlah lama. Dahulu membaca kitab suci adalah bagiannya imam, awam tidak. Dan bertahun-tahun bahkan berabad-abad  awam hanya membaca katekismus Gereja Katolik.  Ini  menjadi persoalan ketika Konsili Vatikan menganjurkan agar umat katolik, tidak hanya para imamnya saja, untuk membaca Alkitab. Menjadi persoalan ketika fasilitas untuk itu belumlah memadai. Untunglah kini gairah yang sulit dibangkitkan terbantu ketika  ketika  setiap bulan September  kita diajak bergairah untuk membaca kitab suci dalam apayang  sering kita sebut sebagai Bulan  Katekese Kitab suci Nasional..

Konsili Vatikan mengajak kita untuk berubah, untuk menjadikan Gereja memperbarui diri. Salah satu adalah gairah untuk membaca Sabda Allah.  Konstitus Dogmatis Dei Verbum dalam mukadimahnya berkata begini :” Sambil mendengarkan Sabda Allah degan Khidmat dan mewartakannya penuh kepercayaan, Konsili suci mematuhi amanat Santo Yohanes:”kami mewartakan kepadamu hidup kekal, yang ada pada bapa dan telah nampak kepada kami: Yang kami lihat dan kami dengar, itulah yang kami wartakan kepadamu, supaya kamupunberoleh persekutuan kita bersama Bapa dan PuteraNya Yesus Kristus (1 Yoh 1:2-3).

Dalam bulan kitab suci   ini kita akan mengembalikan jati diri kekatolikan kita seturut dari keinginan Konsili Trente dan Konsili Vatikan I, yang menginginkan  ajaran asli tentang Wahyu Ilahi yang diteruskan oleh Konsili Vatikan II.  Supaya dengan mendengarkan pewartaan keselamatan seluruh dunina  mengimaninya, dengan beriman berharap, dan dengan berharap mencitainya (lih. Santo Agustinus,  Tentang mengajar agama kepada mereka yang serba tidak tahu, bab IV,8:PL 40:316 ).

Menjadi Katolik itu mewartakan. Lagi-lagi kita sering membuat alasan seperti yang pernah dilakukan Yeremias, Musa maupun Yunus yang membuat dalih, aku tidak pantas, aku masih muda, aku tidak fasih  berbicara. Dan banyak dalih.

Kalau terlalu banyak dalih, pasti gereja  Katolik tak pernah punya nama-nama seperti  Paulus, Petrus, Ignatius, Fransiscus Xaverius dan nama beken lainnya.  Dan dalih terbesar kita sebagai orang  Katolik modern, mewartakan Yesus bukanlah urusanku. Persis itulah yang mau dibongkar oleh konsili Vatikan II.  Paus Fransiscus menerjemahkan tantangan misioner gereja modern lewat ensikliknya  Evangellii Gaudium.  Gereja, kata  Paus Fransiskus haruslah menjadi gereja yang penuh lumpur, sehingga Paus pernah  menantang para uskup untuk keluar dari gereja.  Ensiklik itu menghendaki agar kita menjadi pewarta yang bergembira.  Sebagaimana dikatakan oleh Paus, konsekuensi sukacita Injil , seorang pewarta kabar baik tak pernah boleh terlihat seperti seseorang yang baru pulang  dari upacara penguburan.  Paus mengajak kita agar sukacita pewartaan  kabar Baik yang menyenangkan dan Indah, sekalipun kita harus memetik panenan  dengan cucuran air mata. Kita hendaknya bukan menjadi pewarta kabar baik yang patah semangat, yang sering kehilangan kesabaran dan cemas melainkan dari pelayan-pelayan Injil  yang berupaya memancarkan cahaya penuh keceriaan, karena lebih dahulu telah menerima sucatia Kristus.

Setiap orang  Kristen berhak menerima sukacita Kristus, dan setiap orang  memiliki kkewajiban Injil tanpa mengcualikan  siapapun. Para pewarta Injil  harus tampil sebagai orang yang hendak membagikan sukacita, membawa mereka pada cakarawala  hidup yang indah. Ikut serta dalam perjamuan yang nikmat. Jadi bagaimana kita bisa membagikan kepada orang lain kalau sukacita injil itu indah kalau kita tidak pernah menikmati bahwa Ekaristi itu membahagiakan. Jadi mengikuti ekaristi bukan lagi kewajiban tapi anugerah dan mewartakan Injil bukan lagi beban tapi suka cita.

Nah saatnya kita bagikan kegembiraan kita untuk menyongsong  Bulan Kitab  Suci Nasional dan pada saatnya kita dapat membagikan kebahagiaan kita kepada orang lain. BKSN tidak lagi menjadi rutinitas yang keberadaannya bukan sekedar ada, tetapi sudah saatnya BKSN  menjadi tonggak gereja yang punya semangat misioner.  Paus Fransiskus mengajak agar gereja yang keluar menjadi komunitas murid Kristus  yang mengambil langkah pertama ( premerear), sebab kalau kita mengikuti Tuhan kita akan mengambil karakternya, yaitu selalu berinisiatif.


Dan kita misioner karena kita katolik atau  bisa juga dirumuskan dengan kata yang lain karena kita katolik maka kita harus misioner.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar