Kamis, 29 September 2016

AGAMA TIDAK PERNAH MEMPRODUKSI RADIKALISME

Banyak kekerasan mengatasnamakan agama. Ada yang menafsif agama dengan tafsir pribadi, dan menganjukan untuk menghalalkan menghilangkan mereka yang tak sepaham.  Ada agama tertentu, itu bisa Islam atau Kristen, memproduksi pelaku teror misal Al Qaida atau IRA  untuk kalangan Kristen, bahkan orang  Kristen punya sejarah kelam dengan perang salib. Menajadi permenungan apakah  agama bisa memproduksi kekerasan kalau agama itu bertujuan untuk  menciptakan cinta damai.

Agama sejatinya punya peranan penting  dalam diri seseorang. Dr Haryatmoko Pr, menyatakan bahwa  bahwa  agama merupakan imajiner Sosial  yang memperteguh motivasi. Fungsi agama  dalam diri seseorang adalah  untuk memberi identitas, dan memiliki acuan pada tujuan terakhir.

Orang yang beragama memiliki  intentionalitas yang sadar, sehingga memungkinkan diri secara sadar memperlakukan diri, sehigga diri sebagai subyek  bisa memformulasi obyek  sehingga subyek bisa menangkap obyek.

Agama menjadi sekedar alat kepentingan jika ia diikuti oleh demagog. Demagog selalu mengaitkan  kasus dan  traumatisasi. Demagog, kata Haryatmoko, di tengah orang miskin di samping gudang makanan yang belum didistribusikan akan berteriak:” lihat saudara-saudara, kita ini miskin bukan  karena kita ini miskin, tetapi  kita miskin karena  ada orang yang menyimpan makanan begitu banyak>” demikianlah, romo Haryatmoko mengamsalkan, padahal makanan itu tidak disimpan permanen, tapi memang belum dibagikan saja.

Mengapa Demagog gagasannya laku, karena demagog menyadari kekuatan r etorika imajiner. Mereka mampu mengubah kegelisahan  kolektif menjadi  perasaan takut  terhadap musuh bersama.  Kaum demagog sangat sadar ini sehingga ia begitu mudah menggosok ingatan kolektif masa.

Romo  Haryatmoko juga mengingatkan bahwa traumatisme  ditandai dengan upaya menyalurkan  kegelisahan ke musuh. Kebencian menumbuhkan hasrat  menghancurkan  semua penghalang imajener baru sehingga perasaan berkuasa diperbesar.  Menurut Haryatmoko, apa yang dimaksud proses imajiner adalah proses mental dalam melihat orang lain. Demagog atau penganjur tindak teror terus menggosok pengikutnya untuk kemurnian identitas. Dalam keadaan ini simbolisme agama digunakan untuk meneguhkan tekad, mempertajam permusuhan dan memistiskan motif.

Dr  Haryatmoko, mengajak kita untuk membedakan apa yang dimaksud imajiner,  imajinatif dan terorisme. Sesuatu  yang imajiner  adalah suatu rekaan fiksi yang berusaha mengeliminasi yang mengancam.  Ini berbeda yang imajinatif yang punya makna positif yaitu berkaitan  dengan kreatifitas. Sementara terorisme adalah suatu nihilisme. Penghilangan sesuatu yang bertentangan dengannya sama  artinya dengan matinya kebebasan.


Disinilah kemudian muncul kekerasan simbolis, sesuatu yang benar karena terus diplilntir kemudian bisa salah. Pergi ke luar  rumah sebetulnya bisa saja positif untuk  mengembangkan diri, tetapi ketika ada kecurigaan yang  diulangi terus menerus, sehingga akhirnya ke luar rumah menjadi sesuatu yang salah. Kekerasa simbolis  adalah pintu masuk kekerasan simbolis adalah pintu masuk kekerasan psikologi. Seorang bapak yang merasa disindir cukup mengatakan, “ coba katakan sekali lagi.” Dengan nada yang agak keras.  Yang akan  menciutkan keberanian  seorang istri, yang mau tidak mau menyetujui seorang suami.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar