AGAMA TIDAK PERNAH MEMPRODUKSI RADIKALISME
Banyak kekerasan mengatasnamakan agama. Ada
yang menafsif agama dengan tafsir pribadi, dan menganjukan untuk menghalalkan
menghilangkan mereka yang tak sepaham.
Ada agama tertentu, itu bisa Islam atau Kristen, memproduksi pelaku
teror misal Al Qaida atau IRA untuk
kalangan Kristen, bahkan orang Kristen
punya sejarah kelam dengan perang salib. Menajadi permenungan apakah agama bisa memproduksi kekerasan kalau agama
itu bertujuan untuk menciptakan cinta
damai.
Agama sejatinya punya peranan penting dalam diri seseorang. Dr Haryatmoko Pr,
menyatakan bahwa bahwa agama merupakan imajiner Sosial yang memperteguh motivasi. Fungsi agama dalam diri seseorang adalah untuk memberi identitas, dan memiliki acuan
pada tujuan terakhir.
Orang yang beragama memiliki intentionalitas yang sadar, sehingga
memungkinkan diri secara sadar memperlakukan diri, sehigga diri sebagai
subyek bisa memformulasi obyek sehingga subyek bisa menangkap obyek.
Agama menjadi sekedar alat kepentingan jika ia
diikuti oleh demagog. Demagog selalu mengaitkan
kasus dan traumatisasi. Demagog,
kata Haryatmoko, di tengah orang miskin di samping gudang makanan yang belum
didistribusikan akan berteriak:” lihat saudara-saudara, kita ini miskin bukan karena kita ini miskin, tetapi kita miskin karena ada orang yang menyimpan makanan begitu
banyak>” demikianlah, romo Haryatmoko mengamsalkan, padahal makanan itu
tidak disimpan permanen, tapi memang belum dibagikan saja.
Mengapa Demagog gagasannya laku, karena demagog
menyadari kekuatan r etorika imajiner. Mereka mampu mengubah kegelisahan kolektif menjadi perasaan takut terhadap musuh bersama. Kaum demagog sangat sadar ini sehingga ia
begitu mudah menggosok ingatan kolektif masa.
Romo
Haryatmoko juga mengingatkan bahwa traumatisme ditandai dengan upaya menyalurkan kegelisahan ke musuh. Kebencian menumbuhkan
hasrat menghancurkan semua penghalang imajener baru sehingga
perasaan berkuasa diperbesar. Menurut Haryatmoko,
apa yang dimaksud proses imajiner adalah proses mental dalam melihat orang
lain. Demagog atau penganjur tindak teror terus menggosok pengikutnya untuk
kemurnian identitas. Dalam keadaan ini simbolisme agama digunakan untuk
meneguhkan tekad, mempertajam permusuhan dan memistiskan motif.
Dr
Haryatmoko, mengajak kita untuk membedakan apa yang dimaksud
imajiner, imajinatif dan terorisme. Sesuatu
yang imajiner adalah suatu rekaan fiksi yang berusaha
mengeliminasi yang mengancam. Ini berbeda
yang imajinatif yang punya makna positif yaitu berkaitan dengan kreatifitas. Sementara terorisme
adalah suatu nihilisme. Penghilangan sesuatu yang bertentangan dengannya
sama artinya dengan matinya kebebasan.
Disinilah kemudian muncul kekerasan simbolis,
sesuatu yang benar karena terus diplilntir kemudian bisa salah. Pergi ke
luar rumah sebetulnya bisa saja positif
untuk mengembangkan diri, tetapi ketika ada
kecurigaan yang diulangi terus menerus,
sehingga akhirnya ke luar rumah menjadi sesuatu yang salah. Kekerasa
simbolis adalah pintu masuk kekerasan
simbolis adalah pintu masuk kekerasan psikologi. Seorang bapak yang merasa
disindir cukup mengatakan, “ coba katakan sekali lagi.” Dengan nada yang agak
keras. Yang akan menciutkan keberanian seorang istri, yang mau tidak mau menyetujui
seorang suami..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar