CARILAH DULU KERAJAAN TUHAN BARU SETELAHNYA
EMAS OLIMPIADE
Mgr Sugiyo Pranoto punya semboyan terkenal 100
persen katholik dan 100 persen Indonesia artinya kalau orang
Katholik Indonesia mau
dianggap mau dianggap 100 persen Indonesia
maka ia harus seratus persen Katolik. Artinya antara mencintai Keindonesiaan dan mencitai Kekatholikan tak
bisa dipisah-pisahkan dan dibeda-bedakan.
Jujur saja, pilihan itu tak selamanya mudah
memilih salah satu dari keduanya bila keduanya merupakan soal penting. Eric Liddle
seorang sprinter Inggris di Omimpiade 1924 pernah mengalaminya. Kisahnya yang
mengagumkan pernah difilmkan berdasarkan kisah nyatanya dalam film yang
berjudul Chariots of Fire (Kereta-kereta Api). Film itu mengisahkan dilema yang
dialami Liddle, seorang pelari cepat Inggris yang pernah menjadi nomor satu di
dunia dan yang saat itu, tahun 1924, sangat digadang-gadang oleh seluruh warga
Inggris mempersembahkan untuk negaranya sekeping emas. Eric belum gila jika tak mengharapkan hal yang sama, tapi ia berharap
jadwalnya tidak berbenturan dengan aktivitas mingguannya bersama “kekasih
hatinya”, siapa lagi kalau Tuhan yang ia cintai yang selalu ia ungkapkan dalam
tiap minggunya di dalam gereja. Sebab kalau ia harus memilih antara keduanya,
ia akan memilih kemesraan bersama Tuhan.
Eric selalu melaksanakan perintah Yesus dalam Yohanes 12:26 yang berbunyi”
Bapaku akan memberi pahala kepada siapapun yang melayani Aku.”
Tapi yang tidak diharapkan Eric itulah yang
terjadi. Eric memastikan tidak mau tampil, dan rupanya kabar bahwa Eric tak mau
tampil lebih cepat menyebar ketimbang virus yang mematikan. Ada tekanan yang
sangat kuat yang siap menggoncangkan
prinsip hidup. Tapi Eric ternyata lebih tegar ketimbang gunung Himalaya.
Keteguhan Eric yang begitu besar membuat jengkel koran – koran Inggris, dan
gelar tak sedap disandangnya, tidak nasionalis. Tapi Eric sendiri tak kecewa
dengan tidak tampilnya di Final Olimpiade di nomor bergengsi lari 100 meter.
Rupanya Tuhan
mengganjar keteguhannya, ia pun mendapat kesempatan untuk turun di nomor yang bukan
spesialisnya, lari 400 meter di tahun
yang sama 1924. Ia tak sendirian ternyata. Dalam film itu, pelari Amerika
Jacson Schols, menyemangati dan memberikian secuil kertas yang berisi tulisan
yang persis sama yang terdapat dalam Yohanes 12:26:”Barangiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” Dan beberapa
menit kemudian ia memenangi emas
Olimpiade dengan secuil kertas masih dikempit jarinya.
Mengikut Tuhan pasti ada resikonya, tetapi
ketika resiko kita ambil kita tidak
sendirian. Ada Tuhan yang selalu menolong kita. Jadi carilah dulu kerajaan surga baru kemudian Tuhan akan menambah yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar