Minggu, 21 Agustus 2016

CARILAH DULU KERAJAAN TUHAN BARU SETELAHNYA EMAS OLIMPIADE

Mgr Sugiyo Pranoto punya semboyan terkenal 100 persen katholik dan 100 persen Indonesia artinya   kalau orang  Katholik Indonesia  mau dianggap  mau dianggap 100 persen  Indonesia  maka ia harus seratus persen Katolik. Artinya antara mencintai  Keindonesiaan dan mencitai Kekatholikan tak bisa dipisah-pisahkan dan dibeda-bedakan.

Jujur saja, pilihan itu tak selamanya mudah memilih salah satu dari keduanya bila keduanya merupakan soal penting. Eric Liddle seorang sprinter Inggris di Omimpiade 1924 pernah mengalaminya. Kisahnya yang mengagumkan pernah difilmkan berdasarkan kisah nyatanya dalam film yang berjudul Chariots of Fire (Kereta-kereta Api). Film itu mengisahkan dilema yang dialami Liddle, seorang pelari cepat Inggris yang pernah menjadi nomor satu di dunia dan yang saat itu, tahun 1924, sangat digadang-gadang oleh seluruh warga Inggris mempersembahkan untuk negaranya sekeping emas.  Eric belum gila jika  tak mengharapkan hal yang sama, tapi ia berharap jadwalnya tidak berbenturan dengan aktivitas mingguannya bersama “kekasih hatinya”, siapa lagi kalau Tuhan yang ia cintai yang selalu ia ungkapkan dalam tiap minggunya di dalam gereja. Sebab kalau ia harus memilih antara keduanya, ia akan memilih kemesraan bersama  Tuhan. Eric selalu melaksanakan perintah Yesus dalam Yohanes 12:26 yang berbunyi” Bapaku akan memberi pahala kepada siapapun yang melayani Aku.”

Tapi yang tidak diharapkan Eric itulah yang terjadi. Eric memastikan tidak mau tampil, dan rupanya kabar bahwa Eric tak mau tampil lebih cepat menyebar ketimbang virus yang mematikan. Ada tekanan yang sangat kuat yang siap menggoncangkan  prinsip hidup. Tapi Eric ternyata lebih tegar ketimbang gunung Himalaya. Keteguhan Eric yang begitu besar membuat jengkel koran – koran Inggris, dan gelar tak sedap disandangnya, tidak nasionalis. Tapi Eric sendiri tak kecewa dengan tidak tampilnya di  Final  Olimpiade di nomor bergengsi  lari 100 meter.

Rupanya Tuhan  mengganjar keteguhannya, ia pun mendapat kesempatan  untuk turun di nomor yang bukan spesialisnya,  lari 400 meter di tahun yang sama 1924. Ia tak sendirian ternyata. Dalam film itu, pelari Amerika Jacson Schols, menyemangati dan memberikian secuil kertas yang berisi tulisan yang persis sama yang terdapat dalam Yohanes 12:26:”Barangiapa melayani  Aku, ia akan dihormati Bapa.” Dan beberapa menit kemudian ia memenangi emas  Olimpiade dengan secuil kertas masih dikempit jarinya.  

Mengikut Tuhan pasti ada resikonya, tetapi ketika resiko  kita ambil kita tidak sendirian. Ada Tuhan yang selalu menolong kita. Jadi carilah dulu kerajaan  surga baru kemudian   Tuhan akan menambah yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar