KASIH YESUS SEBAGAI KASIH DALAM KELUARGA
Ajaran
Yesus adalah ajaran yang radikal. Yesus menginginkan agar kita mencintai
Allah tidak setengah-setengah. Tuhan
ingin supaya kita tidak mencitai diri
sendiri. Tuhan menginginkan agar kita menjadi
tidak menjadi seorang yang egois. Cinta
Allah kepada manusia adalah alasan bagi keberadaan kita. Kasih itu mengubah relasi kita kepada orang lain dan menjadikan kita sesuatu yang baru.
Allah kepada manusia adalah alasan bagi keberadaan kita. Kasih itu mengubah relasi kita kepada orang lain dan menjadikan kita sesuatu yang baru.
Kasih itu menuntut sikap total. Kasih itu tidak
setengah setengah, ketika kita mencintai seesama. Tuhan menuntut cinta yang total.
Kasih menjadi ukuran apakan kita menjadi anak
Bapa atau sebagai pengkianatNya. Pada hukum lama berbunyi kasihilah temanmu dan
bencilah musuhmu. Tetapi Yesus memberi ajaran yang baru , “Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi
mereka yang menganiaya kamu. Karena
dengan demikian kamu menjadi anak bapaMu
di surga, yang menerbitkan mathari bagi
orang yang jahat dan orang yang baik dan
menurunkan hujan bagi orang benar dan tidak benar ( mat 5:43-45).
Mengikut Yesus menuntut kesadaran. Mengikut
Yesus berarti menginternalisasikan ajaran yesus sebagai sebagai
bagian hidup kita. Cinta kita kepada Allah itu konstan. Pada kesempatan lain kasih itu menuntut kepolosan seorang anak
kecil, yang tidak menuntut perthitungan-perhitungan orang-orang dewas. Kasih itu yang seperti
anak-anak yang datan kepada Tuhan, yang tdiak peduli akan orang-orang dewasa
sekelilingnya yang ingin melarang mereka datang pada Yesus. Karena memang kasih itu tidak dibuat-buat.
Ketika Yesus melihat hal itu, ia marah dan
berkata kepada mereka,” biarkan anak-anak itu datang padaku, jangan
menghalang-halangi mereka, sebab orang
yang seperti itulah yang empunya kerajaan surga. Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke
dalamNya ( Mark 10:14-15).
Ketotalan kasih terletak pada kemauan untuk mengasihi walaupun pada
akhirnya ia tidak mendapatkan balasan
apa-apa. Kasih itu berbeda dengan konsep
kuno, mata ganti mata. Oleh karenanya ajaran Yesus adalah sesuatu yang radikal.
“Hendaklah kamu saling mengasihi karena demikian pula kamu harus saling
mengasihi” (Yoh 13:34).
Dalam Yhohanes 15:7-11 Yesus berkata, “Jika
kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah yang kamu kehendaki dan kamu akan
menerimanya. Dalam hal inilah
bapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu seperti
Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi Kmu, tinggalah di dalam kasihKu itu. Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu Seperti
Aku menuruti perintah bapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya suka citaKu ada di dalam kamu dan suka citamu menjadi penuh ( Yoh 15:7-11)
Lihatlah bagaimana Yesus memaknai kerajaan
Allah adalah kerajaan kasih, kasih itu adalah menjadi keluarga Allah. Kasih Yesus
kepada kita adalah kasih di dalam keluarga. Logikanya kita yang membutuhkan
Yesus bukan sebaliknya, tetapi Yesus
memaknai relasi ini begitu
manusiawi, bahwa kita diharapkan
memberikan kasih kepada setiap orang, sehingga muncul kemanusiaan
baru yang membuat Kristus menjadi penuh.
Itulah makna yang sesungguhnya kasih
Allah kepada Yesus dan kasih Yesus kepada kita, dan kasih kita kepada sesama adalah gambaran
kasih sebagai sebuah keluarga, keluarga Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar