Minggu, 07 Agustus 2016

KASIH YESUS SEBAGAI KASIH DALAM KELUARGA

Ajaran  Yesus adalah ajaran yang radikal. Yesus menginginkan agar kita mencintai Allah  tidak setengah-setengah. Tuhan ingin supaya kita tidak  mencitai diri sendiri. Tuhan menginginkan agar kita menjadi   tidak menjadi seorang yang egois. Cinta
Allah  kepada manusia adalah alasan bagi keberadaan kita. Kasih itu mengubah relasi kita kepada orang lain dan menjadikan kita sesuatu yang baru.

Kasih itu menuntut sikap total. Kasih itu tidak setengah setengah, ketika kita mencintai seesama. Tuhan menuntut  cinta yang total.
Kasih menjadi ukuran apakan kita menjadi anak Bapa atau sebagai pengkianatNya. Pada hukum lama berbunyi kasihilah temanmu dan bencilah musuhmu. Tetapi Yesus memberi ajaran yang  baru , “Kasihilah musuhmu, berdoalah bagi mereka  yang menganiaya kamu. Karena dengan demikian  kamu menjadi anak bapaMu di surga, yang menerbitkan mathari  bagi orang yang jahat  dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan tidak benar ( mat 5:43-45).

Mengikut Yesus menuntut kesadaran. Mengikut Yesus berarti menginternalisasikan ajaran yesus sebagai  sebagai  bagian hidup kita. Cinta kita kepada Allah itu konstan.  Pada kesempatan lain  kasih itu menuntut kepolosan seorang anak kecil, yang tidak menuntut perthitungan-perhitungan  orang-orang dewas. Kasih itu yang seperti anak-anak yang datan kepada Tuhan, yang tdiak peduli akan orang-orang dewasa sekelilingnya yang ingin melarang mereka datang pada  Yesus. Karena memang kasih  itu tidak dibuat-buat.
Ketika Yesus melihat hal itu, ia marah dan berkata kepada mereka,” biarkan anak-anak itu datang padaku, jangan menghalang-halangi  mereka, sebab orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan surga. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti  seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamNya ( Mark 10:14-15).

Ketotalan kasih terletak pada  kemauan untuk mengasihi walaupun pada akhirnya  ia tidak mendapatkan balasan apa-apa.  Kasih itu berbeda dengan konsep kuno, mata ganti mata. Oleh karenanya ajaran Yesus adalah sesuatu yang radikal. “Hendaklah kamu saling mengasihi karena demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).
Dalam Yhohanes 15:7-11 Yesus berkata, “Jika kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu,  mintalah yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah 

bapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak  dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu seperti
Bapa telah mengasihi  Aku, demikian juga Aku telah mengasihi Kmu, tinggalah di dalam kasihKu itu.  Jikalau kamu menuruti perintahKu, kamu akan tinggal di dalam kasihKu Seperti 
 Aku menuruti perintah bapaKu dan tinggal di dalam kasihNya. Semuanya ini kukatakan kepadamu, supaya suka citaKu ada di dalam kamu dan suka citamu menjadi penuh ( Yoh 15:7-11)


Lihatlah bagaimana Yesus memaknai kerajaan Allah adalah kerajaan kasih, kasih itu adalah menjadi keluarga Allah. Kasih Yesus kepada kita adalah kasih di dalam keluarga. Logikanya kita yang membutuhkan Yesus bukan sebaliknya, tetapi Yesus   memaknai  relasi ini begitu manusiawi, bahwa kita diharapkan  memberikan kasih kepada setiap orang, sehingga muncul kemanusiaan baru  yang membuat Kristus menjadi penuh. Itulah makna yang sesungguhnya kasih  Allah kepada  Yesus  dan kasih Yesus kepada kita,  dan kasih kita kepada sesama adalah gambaran kasih sebagai sebuah keluarga, keluarga Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar