Jumat, 12 Agustus 2016

PETRUS  DARI PENGKIANAT SAMPAI MENJADI MARTIRNYA

Saat terahir sudah tiba. Ketika para sahabat yang mengantar kepergian Petrus ke luar roma untuk menyelamatkan diri melihat dengan terkejutnya kembalinya Petrus dengan tiba-tiba. Mereka melihat keraguan  Petrus. Mereka adalah  Paulus, Yohanes dan Linus. Orang-orang Kudus itu tak  berhasil meyakinkan Petrus, untuk menyelamatkan diri sebagai cara terbaik untuk menghindari kaisar yang bengis.  Petrus sebetulnya punya alasan yang kelihatan kudus, menyebarkan kasih di luar   Roma, apalagi orang-orang kudus semakin langka karena dibunuh oleh kaisar Roma.  Untung Petrus  lebih mendengarkan  Roh Kudus untuk tetap berada di Roma, walaupun itu berarti ia terancam dibunuh.

Tetapi Petrus, tegak dengan keyakinannya. Kembalinya  Petrus tidak lagi sebagai pengecut yang cenderung menghindar, tetapi dengan terus berkotbah dan membabtis orang. Tentu saja, penampilan Petrus di depan orang banyak, setelah beberapa tahun kematian Yesus di kayu salib, dengan penuh kesukaran  dan kesengsaraan peayaran lunas dari hutang Petrus pada sang panebus, karena pengkianatannya di halaman rumah Hanas.

Dan ketinggian bukit Vatican, di hadapan penguasa yang bengis, sebetulnya Petrus sedang mengokohkan kerajaan guruNya yakni tahta  yang tak berkesudahan. Gerakan spontan Petrus sebelum tangannya diberkan kepada algojo dengan membentuk  tanda salib, seakan ia sedang memberkati  kota dan seluruh dunia, yang sering diulangi oleh para penggantinya dengan berkat untuk kota dan dunia. Ia tidak kalah. Kematiannya  adalah kematian yang dikehendaki Tuhan, untuk menyuburkan tanah Roma untuk bertumbuhnya iman akan sang penebus yang terus diikutinya.

Petrus sudah mengambil bagiannya yang tepat.  Petrus  telah melaksanakan kata-kata gurunya ketika dia dan murid yang lain masih tinggal bersama di Yudea ketika itu sang guru berkata:” Ketika kamu masih muda kamu bebas kemana saja, tetapi ketika kamu sudah tua, untuk membetulkan ikat pinggang saja engkau harus meminta bantuan.” Benar juga di masa tuanya Petrus hanya melakukan pekerjaan yang dimaui guruNya. Dan kematian Petrus ada pertanda agung bagi tumbuhnya agama baru dengan ajaran yang tidak masuk akal dalam masyarakat tuna aklak seperti negara Romawi yang penuh kebejatan dan kemaksiatan pada waktu itu.

Tetapi Petrus dan para penerusnya bisa mengubah masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar