PETRUS
DARI PENGKIANAT SAMPAI MENJADI MARTIRNYA
Saat terahir sudah tiba. Ketika para sahabat
yang mengantar kepergian Petrus ke luar roma untuk menyelamatkan diri melihat
dengan terkejutnya kembalinya Petrus dengan tiba-tiba. Mereka melihat
keraguan Petrus. Mereka adalah Paulus, Yohanes dan Linus. Orang-orang Kudus
itu tak berhasil meyakinkan Petrus,
untuk menyelamatkan diri sebagai cara terbaik untuk menghindari kaisar yang
bengis. Petrus sebetulnya punya alasan
yang kelihatan kudus, menyebarkan kasih di luar Roma, apalagi orang-orang kudus semakin
langka karena dibunuh oleh kaisar Roma. Untung
Petrus lebih mendengarkan Roh Kudus untuk tetap berada di Roma,
walaupun itu berarti ia terancam dibunuh.
Tetapi Petrus, tegak dengan keyakinannya. Kembalinya
Petrus tidak lagi sebagai pengecut yang
cenderung menghindar, tetapi dengan terus berkotbah dan membabtis orang. Tentu saja,
penampilan Petrus di depan orang banyak, setelah beberapa tahun kematian Yesus
di kayu salib, dengan penuh kesukaran
dan kesengsaraan peayaran lunas dari hutang Petrus pada sang panebus,
karena pengkianatannya di halaman rumah Hanas.
Dan ketinggian bukit Vatican, di hadapan
penguasa yang bengis, sebetulnya Petrus sedang mengokohkan kerajaan guruNya
yakni tahta yang tak berkesudahan.
Gerakan spontan Petrus sebelum tangannya diberkan kepada algojo dengan
membentuk tanda salib, seakan ia sedang
memberkati kota dan seluruh dunia, yang sering
diulangi oleh para penggantinya dengan berkat untuk kota dan dunia. Ia tidak
kalah. Kematiannya adalah kematian yang
dikehendaki Tuhan, untuk menyuburkan tanah Roma untuk bertumbuhnya iman akan
sang penebus yang terus diikutinya.
Petrus sudah mengambil bagiannya yang tepat. Petrus
telah melaksanakan kata-kata gurunya ketika dia dan murid yang lain
masih tinggal bersama di Yudea ketika itu sang guru berkata:” Ketika kamu masih
muda kamu bebas kemana saja, tetapi ketika kamu sudah tua, untuk membetulkan
ikat pinggang saja engkau harus meminta bantuan.” Benar juga di masa tuanya
Petrus hanya melakukan pekerjaan yang dimaui guruNya. Dan kematian Petrus ada
pertanda agung bagi tumbuhnya agama baru dengan ajaran yang tidak masuk akal
dalam masyarakat tuna aklak seperti negara Romawi yang penuh kebejatan dan
kemaksiatan pada waktu itu.
Tetapi Petrus dan para penerusnya bisa mengubah
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar