Senin, 22 Agustus 2016

PRODIAKON YES, HOMILI NO

Berkotbah atau berhomili itu ternyata gampang. Menjadi Prodiakon itu juga tidak susah. Yang justru sulit adalah  berkotbah yang baik dan menjadi prodiakon yang baik.

Dua syarat yang  dirasakan berat itulah yang membuat umat cenderung menolak untuk dijadikan prodiakon. “ Romo saya masih belum pantas” . Atau yang lain bilang “ Romo saya ndak pandai berhomili”.  Dua alasan itu menjadi  “halangan” bagi seseorang untuk menyatakan ya sebagai prodiakon. Padahal tugas prodiakon tak hanya homili, malah homili adalah tugas tambahan, tapi justru itu yang ditakutkan umat untuk mau dicalonkan sebagai prodiakon.

Tapi  benarkah homili itu sasah ? tidak juga. Santo Alphonsus Liguori menasehati  untuk membuat kotbah yang sederhana. Santo alphonsus mengatakan, “.....berbicaralah dengan menggunakan  gaya bahasa yang sederhana dan hindari penggunaan kata-kata yang muluk-muluk dan dibuat-buat”. Maka sebaiknya hanya mengatakan yang sederhana  kata-kata yang  paling mudah dimengerti oleh pendengar dan bukan kata-kata yang melambung  diangkasa kata-kata yang tidak membumi.


Santo alphonsus juga menyarankan agar kotbah anda ada hasilnya bersikaplah dengan sikap yang biasa dan ketika berkotbah di mimbar anda  seolah-olah berbicara di apartemen, yaitu menghibur mereka dengan kebajikan  atau membawa mereka pada suatu b peristiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar