PRODIAKON YES, HOMILI NO
Berkotbah atau berhomili itu ternyata gampang.
Menjadi Prodiakon itu juga tidak susah. Yang justru sulit adalah berkotbah yang baik dan menjadi prodiakon
yang baik.
Dua syarat yang
dirasakan berat itulah yang membuat umat cenderung menolak untuk dijadikan
prodiakon. “ Romo saya masih belum pantas” . Atau yang lain bilang “ Romo saya
ndak pandai berhomili”. Dua alasan itu
menjadi “halangan” bagi seseorang untuk
menyatakan ya sebagai prodiakon. Padahal tugas prodiakon tak hanya homili,
malah homili adalah tugas tambahan, tapi justru itu yang ditakutkan umat untuk
mau dicalonkan sebagai prodiakon.
Tapi
benarkah homili itu sasah ? tidak juga. Santo Alphonsus Liguori
menasehati untuk membuat kotbah yang
sederhana. Santo alphonsus mengatakan, “.....berbicaralah dengan
menggunakan gaya bahasa yang sederhana
dan hindari penggunaan kata-kata yang muluk-muluk dan dibuat-buat”. Maka sebaiknya
hanya mengatakan yang sederhana
kata-kata yang paling mudah
dimengerti oleh pendengar dan bukan kata-kata yang melambung diangkasa kata-kata yang tidak membumi.
Santo alphonsus juga menyarankan agar kotbah
anda ada hasilnya bersikaplah dengan sikap yang biasa dan ketika berkotbah di
mimbar anda seolah-olah berbicara di
apartemen, yaitu menghibur mereka dengan kebajikan atau membawa mereka pada suatu b peristiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar